Kemarin sore, di hari Jumat yang penuh berkah, sang guru dan penulis itu berpulang ke Rahmatullah. Dalam duka yang mendalam, memori saya kembali ke sebuah pentas drama monolog berjudul “Trimurti (Dua Pelukan)” yang naskahnya ditulis oleh almarhum Ustadz Drs H Nasrullah Zainul Muttaqin Zarkasyi, setahun lalu.

Drama itu menceritakan kiprah tiga orang pendiri Pondok Modern Gontor (atau biasa disebut Trimurti), khususnya terkait penetapan aset pondok sebagai wakaf. Ditulis dengan apik oleh Ust Atul (begitu kami biasa memanggil almarhum) dan dimainkan dengan baik oleh Winka Ghozi Nafi di atas Panggung Gembira 692, Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo.

“Melainkan pondok ini adalah milik umat Islam. Semua yang merasa muslim wajib menjaga pondok ini. Begitu kata Pak Sahal,” tutur Winka, menirukan suara KH Ahmad Sahal, salah seorang Trimurti. Sesekali ribuan hadirin bertepuk tangan, di lain waktu suasana hening tenggelam dalam kesedihan, antara lain saat kisah penangkapan kyai oleh PKI dibacakan.

Winka memerankan drama monolog Trimurti karya almarhum Ust Atul di Panggung Gembira 692. (Indra Ari Fajari

Dari depan panggung, saya melihat Pimpinan Pondok Modern Gontor KH Hasan Abdullah Sahal sedang menyaksikan aksi Winka. Matanya tidak berkedip menikmati monolog yang malam itu jadi salah satu pertunjukan seni dalam pagelaran Panggung Gembira 692, Sabtu, 19 Agustus 2017.

Melainkan pondok ini adalah milik umat Islam. Semua yang merasa muslim wajib menjaga pondok ini.

avatar

KH. Ahmad Sahal

Pendiri Pondok Modern Gontor

Tapi sayang, Ust Atul tidak sempat menyaksikan setiap dialog, setiap mimik dan setiap gerak Winka. Dia hanya menyaksikan aksi latihannya. Usai pertunjukan, saya meminta tanggapan Ust Atul atas pementasan Trimurti yang menghipnotis tadi via WA. Waktu itu saya tidak tahu dia adalah penulis skenarionya dan tidak hadir di tengah-tengah penonton.

“Bagaimana mau komentar, lha itu tulisan ana sendiri. Kalau penampilannya, menurut ana kurang ekspresif dan kurang berkarakter, karena tangannya memegang mik dan kertas. Juga kostumnya kurang pas, Isjet,” jawabnya. Yup, sepanjang pertunjukan, Winka memegang mikropon sedangkan tangan kirinya menggenggam kertas naskah.

Sowan ke Ust Atul, Agustus 2017.

Sebagai penonton, saya pribadi menikmatinya, termasuk busana sederhana khas pakaian kyai sehari-hari: peci, kemeja, jas, kain sarung dan sandal jepit. Tapi di Gontor pendidikannya tidak pernah kenal basa-basi. Sebagai pembimbing drama dan penulis naskah, Ust Atul memberikan tanggapan sekaligus masukan apa adanya. Saya pun mengamininya. Andai Winka tampil tanpa mikropon dan kertas di tangan, penampilannya akan jauh lebih memukau. Penonton akan benar-benar melihat para tokoh dalam cerita Trimurti itu hadir di atas pentas.

“Ana tidak nonton karena demam. Maklum, musim angin kencang,” lanjut Ust Atul. Saya sangat memaklumi kondisinya. Selama beberapa tahun terakhir, almarhum berjuang melawan sakit yang dideritanya sampai akhirnya menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Darmo Surabaya pukul 16.45 kemarin (28/12/2018).

Dua hari sebelum Panggung Gembira digelar, saya bertandang ke rumah Ust Atul bersama beberapa Aji dan Siroj. Kami adalah anak didik almarhum di Darussalam Pos, sebuah warta mingguan dalam bentuk koran dinding yang setiap Jumat menyuguhkan berita terkini seputar pondok dan kehidupan di dalamnya.

Ini adalah pertemuan pertama saya setelah 21 tahun lulus dari Gontor yang kemudian dilanjutkan dengan pertemuan kedua saat Reuni 30 Tahun Darussalam Pos, Desember 2017. Wajahnya pagi itu sumringah meskipun masih dalam proses pengobatan. Beberapa tahun sebelumnya, saya sempat datang ke rumahnya, tapi istrinya menginformasikan Ust Atul harus beristirahat dan tidak bisa menerima tamu.

Obrolan di teras rumah Ust Atul.

Dalam pertemuan sejam lebih itu, saya menceritakan pengalaman setelah keluar dari Gontor. Setelah itu, Ust Atul memberikan banyak wejangan agar saya tetap merunduk seperti padi dan tetap kosong seperti gelas. Agar saya dan para alumni tidak pernah berhenti menjadi petarung tangguh. Sebagaimana dirinya tidak pernah menyerah bertahan dalam sakitnya.

Putra kesepuluh KH Imam Zarkasyi ini bangga anak didiknya mengamalkan ilmu menulis yang dia ajarkan. Saya pun lebih bangga lagi kepada almarhum yang konsisten mengajari banyak sekali santri Gontor, khususnya bagaimana berbahasa Indonesia yang baik dan benar dan menjadi penulis andal.

Usai pertemuan, Ust Atul membuat status di Facebook untuk pertemuan pagi itu yang benar-benar memotivasi saya untuk lebih banyak memberikan manfaat kepada banyak orang. Catatan ini saya simpan sebagai pengingat, dulu pernah hidup seorang guru yang sangat ikhlas mendidik anak-anaknya tanpa mengharapkan pamrih sedikitpun.

Semoga Allah menerima semua amal kebaikan antum, ustadzi…
Suasana shalat jenazah almarhum Ust Atul di Masjid Jami’ Gontor (Sekretaris Pimpinan Pondok Modern Gontor)

Selamat jalan Ust Atul. Guru dan inspirator kami. Banyak sekali amal jariyahmu. Semoga Allah swt menerima semua amal jariyahmu dan menempatkanmu di tempat-Nya yang paling mulia.

Anakku Isjet Bertamu ke Rumah

Tidak semua jalan alumni Gontor linier. Seperti orang-orang sekarang, antara sekolah dan dunia kerjanya berbeda amat jauh. Sekolah di bidang agama, tapi muara profesinya di bidang perhotelan, kesenian, keolahragaan, atau menjadi organisator di sebuah ormas atau orpol.

Begitu pula yang pagi lalu datang ke rumah. Namanya Iskandar Zulkarnain, biasa dipanggil Isjet. Selepan dari Gontor, dia melanjutkan studinya di IAIN Syahid Jakarta, jelas bidang studinya agama. Setelah itu, kisahnya, dia mencoba berbagai profesi. Namun anehnya, dia mengaku dan merasakan bahwa menulis adalah dunianya, seperti yang pernah ditekuninya selama di Gontor dulu, semasa mengurusi Majalah Dinding “Darussalam Pos” (DP). Terbitnya seminggu sekali.

Majalah dinding ini bukan kacangan, lho. Dalam kurun waktu tertentu, anak-anak DP mendatangkan pakar dalam bidang ini, yg umumnya alumni Gontor. Para pakar itu tidak sekadar memberi motivasi, melainkan juga wawasan dunia kewartawanan, kepenulisan, baik dalam tataran idealisme maupun hal-hal praktis. Tak heran, aktivitas itu menjadi bekal dan menginspirasi mereka setelah tamat Gontor. Hasilnya, banyak alumni Gontor jebolan DP ini yang menekuni dunia tulis-menulis, bahkan motivator dari sejumlah training.

Isjet, dan juga umumnya alumni Gontor, adalah petarung yang tangguh. Bukan hanya karena mereka orang Jakarta, tetapi urusan menaklukkan sudah biasa dialami sejak mereka di pondok. Tidak hanya kerjasama, tetapi konflik atau gesekan, dan kompetisi atau persaingan telah kenyang dialami selama di Gontor. Mereka berhadapan dengan santri yang multi etnis, yang amat berbeda kebiasaannya. Persaingan itu terjadi di semua aktivitas, baik kurikuler, ko-kurikuler, maupun ekstrakurikuler. Kerjasama, konflik, dan kompetisi itu terjadi setiap saat. Itulah yang mendewasakan mereka, mematangkan mereka, dan membuat mereka siap bertarung.

Kembali soal Isjet. Sekarang, dia menjadi orang penting di Kompasiana. Boleh jadi, karena surutnya tantangan, dia akan hengkang dan mencari tantangan baru. Ah, selamat bertarung, Isjet!

Salam hangat buat Ubed, Imam Ratrioso, DH Ismail Faruqi, Lukman Hakim Arifin, Anis Maftuhin, dll.

Ust Nasrullah Zarkasyi


2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.