Putus asa, dusta, malas, keras kepala, kasar, sombong, adalah sedikit dari sifat buruk yang mudah hinggap dalam relung setiap insan.

Itu manusiawi, tapi tidak alami.

Alamiah manusia adalah bersifat baik dan menggunakan sifat itu untuk bersikap dan melakukan hal-hal yang baik. Manusia tidak diciptakan untuk bersikap apalagi berbuat tidak baik.

Tanpa kebaikan, mustahil manusia bisa hidup. Apa yang kamu pelajari di sekolah dan kampus, semua adalah kebaikan yang dijalani dengan cara dan sistem yang baik. Apa yang Anda kerjakan di kantor atau saat wirausaha, semua juga kebaikan yang dilakoni dengan cara dan sistem yang baik.

Jika kamu melanggar cara dan sistem tersebut, atau melakukan keburukan di sekolah atau tempat kerja, akan ada sistem yang memproteksi dirinya dari keburukan tersebut, dan ada aturan main yang ‘memaksamu’ kembali ke jalur yang baik dan benar.

Itulah sebabnya saya katakan di atas, sifat buruk bukanlah sifat alamiah manusia.

Saat sifat buruk itu menghinggapi dirimu dan merambat pada sikapmu kepada orang lain, maka lambat-laun kamu akan menjadi individu yang sendiri. Sistem akan menyingkirkanmu dan orang-orang akan meninggalkanmu.

Satu sifat buruk mungkin tidak akan langsung berdampak besar bagi lingkungan yang pada giliran berikutnya akan berdampak besar pada dirimu sendiri.

Sifat buruk tinggalkanlah (didesain dengan Canva)

Tapi percayalah ini. Satu sifat buruk akan melahirkan sifat buruk lainnya. Dua sifat buruk akan mengundang sekian banyak sifat buruk yang memperburuk keadaan dan mengurungmu di dalamnya, tanpa celah sedikitpun.

Kamu yang semula malas akan menjadi seorang pendusta lalu bersikap kasar kepada orang lain. Orang yang keras kepala pada akhirnya terseret ke jurang keputusasaan. Begitu seterusnya dan selanjutnya.

Dan sifat itu sangat dekat dengan sikap. Apa yang hinggap ke dalam suasana hatimu akan segera berwujud perilaku yang ditangkap oleh orang lain sebagai sesuatu yang keliru.

Tentu ada begitu banyak orang yang menyayangimu dan peduli padamu. Mereka adalah orang-orang yang setiap hari berada di sekitarmu. Mereka akan merasa sangat nyaman selama kamu bersifat dan bersikap baik. Maka ketika sifat buruk hadir, kenyamanan orang-orang itu terusik. Mereka akan berusaha maksimal untuk menghilangkan sifat tidak baik tadi dan membawamu menjadi diri yang baik dengan sifat yang baik–seperti semula.

Tapi kadang sifat itu sudah terlanjut menjadi watak. Atau kadang orang lain kurang sabar menghadapi sifat buruk yang kamu pancarkan. Maka pada titik inilah kamu akan sendiri, terlepas dari kehidupan mereka.

Boleh jadi saat itu kamu merasa ditinggalkan, diabaikan atau malah disingkirkan. Tapi yang sesungguhnya sedang terjadi adalah: Kamu sedang meninggalkan dan mengabaikan mereka. Kamu sedang menikmati ketidakbaikan yang semakin lama semakin menguasai dirimu. Dan kamu memilih sendiri, menyendiri, sendirian, daripada menyatu bersama mereka.

Oleh karena itu, tinggalkanlah sifat burukmu. Karena ia akan menahanmu dalam kesendirian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.