Setiap orang yang berhaji atau berumroh punya cerita mencium Hajar Aswad. Begitu juga saat saya dan istri berada di Baitullah, kuartal terakhir tahun lalu.

Mencium Hajar Aswad adalah soal kedisiplinan dan kegigihan.

Saat menunaikan tawaf di malam pertama, saya dan istri masuk dalam antrian Hajar Aswad, merapat ke dinding Ka’bah. Antriannya cukup panjang, dan ujungnya hampir mencapai Rukun Yamani.

Tapi karena ini khusus barisan pria, saya lepaskan istri untuk tidak ikut mengantri. Dengan kondisi kerumunan yang tidak begitu membludak, kaki saya melangkah setapak demi setapak menuju lubang Si Batu Hitam.

Sekali lagi ini soal disiplin. Akan banyak orang yang menyerobot antrian dari banyak penjuru. Mereka yang bertubuh tinggi besar mungkin bisa merangsek masuk dan memecah banyak barisan. Tapi buat orang berbadan Asia, mengantri dengan sabar adalah pilihan yang cerdas.

Lalu kedua, butuh kegigihan. Kalau mengalah atau melemah sedikit saja, sudah pasti tersingkir, terdorong, tertarik atau bahkan terlempar ke luar. Menjauh dari lubang kecil tempat Hajar Aswad bersemayam.

Gigih termasuk dengan tidak membiarkan orang menyerobot atau mempersilakan orang lain mendahului kita.

Karena begitu kehilangan momen, Anda harus mengulang lagi dari awal, mungkin dengan tantangan yang lebih besar. Apalagi kepala ini harus masuk ke dalam lubang kecil agar bisa menyentuhnya.

Dengan dua prinsip di atas, saya langsung bisa mencium batu itu di kesempatan dan percobaan pertama.

Satu detik lebih hidung menempel di batu, itu sudah lebih dari cukup buat siapapun yang berhasil mencapainya.

Di malam kedua, giliran saya menemani dan mengawal istri mencoba kesempatannya mencium. Prinsip ketiga berikut perlu juga diperhatikan dan bisa memberi banyak kemudahan, yaitu kerjasama.

Bila Anda berdua atau dalam rombongan, akan lebih bijak mencoba mencium batu hitam nan mulia ini bersama-sama.

Dan itu yang saya lakukan untuk istri saya.

Dia masuk dalam barisan khusus wanita yang dimulai dari depan pintu Ka’bah. Tapi jangan terlalu rapat ke sana, kata saya ke istri. Banyak orang yang antri dan mager di Multazam, tempat doa mustajab di antara Pintu Ka’bah dan Hajar Aswad.

Saat Entin Soleha mulai masuk dalam kerumunan jamaah wanita, saya diam membiarkannya mendekat ke Hajar Aswad. Sambil merekamnya dengan Samsung Galaxy S9 di tangan.

Sulit membayangkan bagaimana ini berakhir bahagia. Dari sisi lain Ka’bah (tempat saya kemarin mengantri), ada banyak sekali pria yang tidak sabar ingin segera mewujudkan cita-citanya mencium Hajar Aswad. Bagaimana mungkin rombongan wanita yang lemah bisa melawannya?

Alhamdulillah, saat itu askar yang berjaga di atas Hajar Aswad sedang memberikan giliran ke jamaah wanita. Dia menghentikan pergerakan Kaum Adam di depannya. Tentunya dengan bahasa tubuh dan bahasa yang mudah saya pahami.

Tapi jamaah pria menurut. Yang sedang berada di barisan terdepan dan terdekat dengan Hajar Aswad menahan langkahnya. Para wanita bergegas maju silih-berganti memasukkan kepala ke dalam lubang batu.

Tubuh Entin ikut mengalir dalam kerumunan. Dia terlihat gigih. Bertahan meskipun sempat hendak tersingkir ke luar. Mulut saya tak berhenti bergerak. Terus mendoakannya agar berhasil mencapai cita-citanya.

Akhirnya batu itu berhasil dicium. Senyum segera merekah. Senang rasanya….

Petualangan berikutnya adalah bagaimana keluar dari desakan orang-orang yang sekuat tenaga mendorong masuk.

Segera saya menjulurkan tangan yang panjang ini ke depan. Seperti sedang mencoba meraih tangan orang yang sedang tenggelam (di dalam kerumunan manusia).

Dan sekian detik kemudian, dia berhasil keluar. Kita pun melanjutkan ibadah dengan penuh rasa syukur.

Malam berikutnya, giliran rombongan jamaah umroh saya menuju Hajar Aswad. Pimpinan rombongan, Ust Fauzan Baihaqi FBI yang juga pemilik Travel Haji Aufa, memimpin ibu-ibu dan bapak-bapak mencium Batu Hitam bersama-sama.

Soal kerjasama di sini sangat berguna, apalagi untuk jama’ah berusia senja. Tentu akan lebih sulit dan mustahil jika mencobanya seorang diri.

Ada kiat dan taktik yang perlu dipatuhi penuh disiplin saat kita mencoba menciumnya dalam rombongan. Tentu tidak semuanya berhasil, tapi kalau sendiri-sendiri, bisa jadi tidak akan ada yang berhasil menciumnya.

Silakan tonton video pergerakan Entin setapak demi setapak menuju Hajar Aswad di sini:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.