Iring-iringan bus memasuki areal parkir Masjid Istiqlal, Jakarta. Dalam hitungan menit, setiap sudut halaman masjid nan luas itu sudah dipenuhi oleh santriwati berbusana hijau dengan jilbab putih menutupi kepala.

Tapi pemandangan itu tidak berlangsung lama. Beberapa waktu setelahnya, satu per satu meninggalkan masjid, sampai kemudian iring-iringan bus memasuki masjid lagi, membawa rombongan dari pesantren yang sama.

Setiap H-10 bulan suci Ramadhan, Masjid Istiqlal selalu kedatangan rombongan santri Gontor yang datang berbus-bus dalam sekian gelombang. Begitu tiba di Istiqlal, para santri dan santriwati ini disambut hangat oleh orang tua mereka.

Harap maklum, santri Pondok Modern Darussalam Gontor hanya boleh pulang dua kali dalam setahun. Setidaknya dalam setengah tahun terakhir, ayah dan ibu mereka menahan rindu dalam jarak ratusan kilometer.

Buat santri, musim liburan adalah waktu yang menyenangkan. Mereka bisa rehat sejenak dari kegiatan pondok yang berlangsung 24 jam nonstop. Mereka bisa mengenakan pakaian yang tidak boleh dipakai di pondok. Bisa nonton televisi dan mengetuk-ngetuk layar hape. Bisa menikmati makanan dan jajanan yang lebih beragam. Dan seterusnya.

Khusus santri yang tinggal di Jakarta dan sekenanya, masjid terbesar di tanah air itu sudah lama jadi titik pemberhentian. Setibanya di Jakarta, macam-macam tempat yang dituju. Ada yang ke masjid untuk mandi, bersih-bersih lalu meluncur ke mol, ada juga yang mandinya di rumah kemudian beristirahat bersama keluarga.

Jemput si Kakak, akhir 2018.

Waktu zaman saya nyantri, Stasiun Gambir menjadi tempat pemberhentian terakhir kereta yang kami sewa. Zaman sekarang mungkin sulit merasakan sensasi pulang naik kereta bersama-sama, yang 10 gerbongnya diisi oleh kita semua.

Dulu Kereta, Sekarang Bus

Waktu itu, sebelum tahun 2000-an, perpulangan anak Gontor dari Madiun ke Gambir menjadi perjalanan kereta api kelas ekonomi paling mewah. Tidak ada tumpukan penumpang di dalam gerbong, tidak ada desak-desakan, tidak ada tangisan bayi, tidak ada asap rokok, tidak ada tukang penjual brem, nasi pecel ataupun colognette (baca: kolonyet) yang lalu lalu-lalang. Gerbong-gerbong yang kami naikin dikunci rapi, hanya santri Gontor yang boleh masuk ke sini.

Maklum saja, kereta ini sudah diborong setiap kursinya.

Setelah era itu, PT Kereta Api Indonesia tidak lagi membolehkan ‘booking‘ banyak gerbong seperti ini. Dan di era digital yang memungkinkan pembelian tiket secara online, menguasai sekian gerbong menjadi semakin muskil.

Maka pilihan paling tepat adalah naik bus. Ratusan santri berangkat beriringan dalam sekian armada.

Tahun lalu dan dua tahun lalu, rombongan perpulangan yang diikuti oleh putri saya selalu berangkat tengah malam setelah acara menyambut musim liburan digelar di aula pondok. Tapi tahun ini, rombongan dari Gontor Putri 3 akan berangkat siang ini (Kamis, 25 April 2019), dan baru tiba di Jakarta sebelum subuh besok (Jumat, 26 April 2019).

Jelang perpulangan, para santri menjalani rutinitas gotong-royong yang menguras tenaga: pindah kamar dari satu gedung ke gedung lainnya. Pindah kamar ini meniscayakan perpindahan lemari tiap santri. Lemari itu berukuran cukup besar dengan tinggi sekitar satu setengah meter. Isinya pakaian, buku dan semua perkakas sehari-hari. Semua masuk ke situ.

Sebelum mereka meninggalkan pondoknya, lemari beserta isinya itu harus sudah dipindahkan ke kamar yang baru. Mereka pun membentuk kelompok. Semakin banyak anggotanya, semakin banyak lemari yang diangkut. Tapi yang pasti, lemari ini terlalu berat untuk diangkat oleh dua orang santri kelas tiga ke bawah.

60 Hari Liburan

Buat yang belum akrab dengan kalender pendidikan Gontor, perlu saya jelaskan bahwa Gontor menggunakan kalender hijriyah, bukan masehi. Mungkin ini satu-satunya lembaga pendidikan menengah yang tidak mengenal Januari sampai Desember dalam kegiatan formalnya.

Rutinitas pendidikan di lembaga berusia 93 tahun ini selalu dimulai pada bulan Syawwal dengan penerimaan santri baru, dan berakhir pada bulan Ramadhan dengan wisuda santri akhir (kelas enam atau setara Aliyah kelas 3).

Itulah sebabnya, musim libur Gontor tidak pernah sama dengan pelajar di Indonesia pada umumnya. Santri di sini punya jatah dua kali liburan, yaitu libur pertengahan tahun selama 10 hari (pertengahan Rabi’ul Awwal) dan libur akhir tahun selama 50 hari. Total waktu liburan untuk mereka selama 60 hari.

Untuk liburan pertengahan tahun, biasanya santri yang tinggal di luar pulau Jawa memilih untuk tidak pulang karena alasan jarak dan biaya transportasi yang tidak sedikit. Lagi pula, waktu yang dimiliki hanya 10 hari, dipotong waktu perjalanan dari Ponorogo ke rumah masing-masing.

Sedangkan di akhir tahun, hampir semuanya pulang ke rumah. Libur panjang ini dimulai 10 hari sebelum Ramadhan, dan berakhir tanggal 10 Syawwal atau 10 hari setelah Ramadhan. Jadi sebelum ada wacana meliburkan kegiatan sekolah selama Bulan Puasa, Gontor sejak lama sudah menerapkannya.

Rutinitas itu tidak pernah berubah sepanjang masa. Terus berulang setiap tahunnya.

Lalu siapa yang mengurusi perpulangan para santri? Ya santri itu sendiri. Panitia Perpulangan Pertengahan Tahun ditangani oleh santri kelas 5, sedangkan Perpulangan Akhir Tahun dipegang oleh santri kelas 4 dan 3 Intensif (atau setara anak kelas 1 SMA).

Kok bisa baru kelas 4 sudah jadi panitia perpulangan? Karena santri kelas 5 tidak punya jatah perpulangan akhir tahun. Mereka harus mengurusi pondok selama bulan Ramadhan. Setelah wisuda santri kelas 6 berakhir, mereka yang naik kelas 6 mulai bertugas mempersiapkan penerimaan santri baru sekaligus menjadi pengurus yang bertanggungjawab penuh atas semua kegiatan santri.

Ini sudah lazim, selazim semua kegiatan dan penegakan disiplin di pondok ditangani oleh santri, kecuali urusan masak-memasak yang ditangani oleh juru masak pondok.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.