“Ini akan jadi penerbangan terpanjang dalam sejarah hidup,” gumam saya saat petugas mempersilakan para penumpang memasuki pesawat Garuda Indonesia. Serunya terbang 24 jam di udara dan sensasi long haul flight di dalam kabin langsung terbayang di kepala.

Sebenarnya, jarak tempuh dari Jakarta menuju Washington DC mencapai 16.348 kilometer. Itu angka yang tercatat saat Anda memasukkan rute kedua kota ke dalam Google Maps. Tapi karena tidak ada penerbangan langsung yang menghubungkan Indonesia-Amerika Serikat, perjalanan yang ditempuh lebih jauh dari garis lurus dalam peta.

Saya harus terbang terlebih dahulu ke Singapura sejauh 880 kilometer, lalu terbang lagi ke Tokyo sejauh 5.308 kilometer, baru menuju Atlanta sejauh 11.034 kilometer. Dari Atlanta, pesawat membelah langit Amerika sejauh 860 kilometer menuju Washington DC.

Total jarak yang saya tempuh adalah 18.082 kilometer!

Sementara waktu tempuh perjalanan secara keseluruhan adalah satu setengah hari atau sekitar 36 jam. Badan ini terbang di dalam 4 kabin pesawat selama sekitar 24 jam kurang 5 menit, dan beredar di 3 bandara transit sekitar 12 jam lamanya.

Bagaimana rasanya terbang menuju Paman Sam selama itu, Bang Isjet? Capek gak? Yaa.. Begitulah.

Perjalanan dimulai dengan penerbangan Garuda Indonesia dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju Changi International Airport selama 1 jam 50 menit. Malam itu, Jumat, 24 Agustus 2012, jarum jam menunjukkan hampir pukul 8 malam saat pesawat yang saya tumpangi lepas landas menuju Singapura.

Rute pertama ini saja sudah cukup melelahkan. Bukan karena perjalanan udaranya, tapi karena transitnya. Bayangkan. Saya tiba di Changi jam 11 malam kurang, tapi penerbangan berikutnya baru dimulai keesokan harinya jam 6 pagi.

Sesuai rencana, saya dan rombongan peserta International Visitor Leadership Program (IVLP) 2012 menginap di sebuah hotel yang sudah tercantum dalam paket penerbangan. Tapi kalian tahulah Bandara Changi begitu luas, dan kita belum pernah menginap di sini.

Maka jadilah malam itu, dalam suasana sepi jelang pergantian hari, saya dan teman-teman menyusuri bandara nan megah ini. Mencari hotel yang namanya tertera di lembar voucher penginapan-singkat berdurasi 6 jam. Saya masih ingat, badan ini baru bisa rebahan di atas kasur jam 2 dini hari. Saat memasuki kamar, sempat terpikir untuk tidak tidur karena takut kebablasan. Khawatir tidak bisa bangun jam 4 untuk mengejar penerbangan jam 6.10 pagi.

Tapi karena badan sudah letih, akhirnya mata terlelap meski hanya sekejap.

Tiga jam kemudian, saat belum banyak penumpang memenuhi bandara, saya sudah berada dalam antrian memasuki pintu masuk pesawat Delta Airlines penerbangan Singapura-Tokyo. Butuh waktu sekitar 7 jam 15 menit sampai akhirnya pesawat mendarat di Narita International Airport.

Saat tiba di Narita, waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang, sementara jadwal penerbangan berikutnya pukul 3.45 siang atau pukul 15.45. Meskipun masih ada waktu, kami harus bergegas mengurus pindah pesawat lalu menuju ruang tunggu. Ya, bandara ini kurang lebih sama besarnya dengan Changi. Jadi tidak ada waktu berleha-leha di bandara.

Salah satu sudut Bandara Narita. (@iskandarjet)

Sekitar jam setengah empat, saya sudah duduk manis di kabin pesawat yang bersiap terbang menempuh penerbangan jauh (long haul flight) menuju Atlanta.

Inilah perjalanan panjang pertama saya, sekaligus penerbangan melintasi zona waktu yang mengagumkan. Bayangkan, saya terbang dari Tokyo jam 3 sore, lalu tiba di Atlanta jam 3 sore pada hari yang sama. Atau bisa dibilang, saya tiba sebelum saya terbang. Pesawat Delta Airlines yang saya tumpangi lepas landas pada tanggal 25 Agustus 2012, jam 15.45, dan mendarat pada hari yang sama, 25 Agustus 2012, jam 15.05–karena zona waktu di Atlanta 13 jam lebih lambat dari Tokyo.

Tapi durasi waktu yang saya jalani di udara sekitar 12 jam 45 menit. Atau lebih dari setengah hari di dalam kabin pesawat.

Bagaimana rasanya berada di udara selama itu? Buat saya, ini perjalanan yang menyenangkan. Mungkin karena saya memang suka terbang dan menikmati setiap penerbangan yang sedang dijalani. Dan hari itu, di dalam pesawat Delta Airlines, saya menikmati suasana di dalam kabin, menikmati kursinya yang nyaman, menikmati makanannya yang banyak dan menikmati film-filmnya yang seru.

Bagi beberapa orang, perjalanan seperti ini mungkin terasa membosankan. Itu wajar. Waktu tempuhnya sangat-sangat lama. Badan tidak bisa ke mana-mana, hanya terpaku di atas kursi. Tapi berhubung sebelum terbang saya sudah membaca beberapa tips terbang jauh, saya pun mempraktekkan kiat yang ada, dan itu sukses menghilangkan rasa jemu selama di udara.

Berikut Tips menikmati long haul flight versi saya:

  1. Ambil kursi di dekat jendela, karena Anda bisa memiliki pemandangan yang luas ke luar, agar tidak bosan melihat-lihat ke luar. Tapi kalau Anda termasuk orang yang suka ke kamar kecil, sebaiknya tidak mengambil kursi ini karena akan merepotkan diri sendiri dan orang lain.
  2. Bawa buku untuk memvariasikan kegiatan di dalam pesawat.
  3. Tidur kapan pun Anda mau. Jangan mengikuti ritme tidur Anda karena itu akan menyulitkan Anda beradaptasi dengan zona waktu di tempat tujuan (alias bisa kena jetleg parah). Saat di pesawat, tidurlah pada saat Anda ingin tidur, tidak perlu melihat sekarang jam berapa.
  4. Perbanyak jalan-jalan di lorong pesawat dan menggerakkan badan untuk peregangan. Ini penting dilakukan. Jangan sungkan apalagi malu, karena setiap penumpang membutuhkannya.

Setelah melintasi Samudera Pasifik selama hampir 13 jam, saya tiba di Hartsfield-Jackson Atlanta International Airport dengan badan pegal-pegal. Tapi saya beruntung tidak merasakan pusing atau sakit berlebih karena di pesawat puas tidur, puas makan dan puas nonton.

Di bandara ini, saya sebenarnya punya waktu tiga jam menuju penerbangan berikutnya. Tapi karena banyak waktu tersita untuk pemeriksaan barang dan badan, akhirnya keinginan menikmati bandara kembali sirna, sama seperti saat berada di dua bandara sebelumnya, Narita dan Changi.

Lalu sekitar pukul 6 sore lewat, untuk terakhir kalinya, saya terbang menuju Ronald Reagan Washington dengan maskapai yang sama. Dua jam kemudian, atau sekitar pukul 8 malam, saya tiba di DC.

Saya dan rombongan lalu menyusuri jalan darat dari bandara menuju Hotel Double Tree untuk menikmati malam pertama di Amerika. Malam itu suasana terlihat sepi, berawan dan gerimis sepanjang perjalanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.