Dunia maya adalah tempat paling manipulatif. Di sini, di sejumlah platform media sosial yang dipenuhi banyak pengguna, selalu ada peluang untuk memanipulasi angka, fakta dan data.

Dalam dunia bisnis, kita mengenal yang namanya manipulasi-permintaan. Saat sebuah toko baru dibuka, si empunya akan mengundang bahkan membayar beberapa orang untuk datang mengantri di depan tokonya. Seolah barang dagangannya diminati banyak orang.

Pedagang kaki lima juga punya kiat yang sama: orang-orang terdekatnya diminta berkerumun agar orang-orang berdatangan (untuk membentuk kerumunan yang terlihat asli di mata calon pembeli lain).

Di Twitter dan Instagram, pengguna bisa membeli pengikut dengan harga sekian Rupiah. Dalam sekejap, jumlah pengikutnya bertambah sekian K.

Silakan tanya Mbah Google untuk memahami betapa menggiurkan bisnis jualan pengikut dan betapa banyak pedagang maya yang ikut menjajakannya.

Dengan menggunakan layanan ini, sebuah akun bisa dapat puluhan ribu pengikut dalam waktu singkat. Di mata pengguna lain, akun yang baru belanja pengikut itu terlihat sebagai akun terkenal yang diminati banyak orang. Padahal isinya pengikut bayaran!

Manipulasi semacam itu kerap dipraktekkan oleh pebisnis untuk mempercepat pencapaian target marketing-daring yang telah ditetapkan. Yang mengeksekusinya adalah marketer dunia maya yang sudah lihai mendongkrak angka-angka jumlah pengikut, pembaca, penyebar, pecinta dan seterusnya.

Nah, dunia politik yang sekarang berubah menjadi sebuah industri dan entitas bisnis pun melakukan hal yang sama. Manipulasi dianggap sebagai cara instan dalam memenangkan peperangan siber.

Mereka paham betul adagium “Di internet, tidak ada yang tahu kamu seekor anjing”. Jadi apa salahnya memanipulasi publik, toh mereka tidak tahu dan tidak mau tahu sedang dimanipulasi.

internet dog peter steiner new yorker
Karikatur karya Peter Steiner di The New Yorker tahun 1993 ini masih sangat relevan sampai saat ini.

Tujuannya jelas: menggerogoti citra lawan sambil mengerek naik citra kubunya sendiri.

Maka banyak hal dimanipulasi. Tidak hanya jumlah pengikut, jumlah jempol, jumlah keterbacaan dan jumlah sebaran, tapi juga konten.

Di era komunikasi digital, konten adalah senjata pamungkas yang digunakan untuk berperang. Senjata ini punya banyak jenis, mulai dari artikel, meme, kicauan, infografis, video, dan banyak lagi. Dari yang paling mudah dan murah biaya produksinya. Sampai yang susah dan mewah hasilnya.

Maka wajar kalau produsen senjata semacam ini bermunculan, bergerilya menawarkan produk mereka ke para pemangku kepentingan di kedua kubu.

Mereka bekerja dalam senyap. Memanipulasi pemirsa dengan sekian banyak konten. Mereka memutarbalikkan fakta, menyebar fitnah, menanamkan emosi ke satu informasi, dan membingkai setiap peristiwa ke dalam konteks politik yang mereka inginkan.

Mereka bekerja bukan karena idealisme, tapi semata-sama karena bisnis. Ada uang, ada barang. Konten yang dibuat pun tidak dilempar begitu saja lalu dibiarkan mendekam di satu jaringan digital. Sekian akun palsu digunakan, sekian banyak kloningan dikerahkan untuk menyebarkan konten pesanan tersebut.

Tapi ingat, karena internet adalah ranah yang berbekas dan serpihan rotinya mudah dilacak. Polisi dengan pasukan kriminalitas-sibernya baru saja menangkap salah satu kelompok yang diduga menjadi produsen senjata mematikan ini. Kelompok bernama Saracen tersebut ditengarai memproduksi konten-konten negatif bertarif puluhan juta rupiah untuk banyak klien.

Saya lihat grup Facebook kelompok ini, juga website-ny,a masih aktif alias belum dibekukan aparat. Silakan cek di www.saracennews.com. Di situ mengalir konten yang sepintas lalu biasa-biasa saja. Karena jualannya memang bukan di situ.

Kalau diperhatikan lebih lanjut, situs web tersebut juga menyantumkan Pedoman Media Siber dari Dewan Pers. Padahal itu bukan produk jurnalistik.

Dan berdasarkan penelusuran tim kriminalitas siber–yang saya tahu sudah dilengkapi perangkat siber nomor wahid, polisi mensinyalir kelompok Saracen adalah agen pembuat konten berbayar yang dibuat untuk menimbulkan kebencian dan permusuhan.

Lantas siapa sih sebenarnya klien-klien pemesan konten saracen? Jawaban ini yang paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat yang sudah lama terpapar serangan senjata mereka.

Sambil menunggu rilis polisi berikutnya, mari tingkatkan kecerdasan dalam bermedsos. Baca dulu sebelum merespon konten. Teliti dulu sebelum menyebarkan konten. Karena boleh jadi konten yang anda terima itu adalah senjata mematikan yang diproduksi dalam peperangan tak berwujud ini.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.