Tahun depan, Amerika Serikat akan menggelar pemilihan presiden (pilpres) pada tanggal 3 November 2020. Pelaksanaan pilpres di Amerika Serikat cukup unik. Bahkan sangat unik, melihat betapa lamanya sistem ini telah diterapkan di sebuah negara demokratis tertua di muka bumi.

Saat berkunjung ke Amerika Serikat, saya menangkap kesan beragam seputar sistem Pilpres AS. Beberapa warga setempat yang saya temui di lebih dari lima negara bagian mengemukakan pendapat yang berbeda-beda.

Mereka pada umumnya menjelaskan bahwa pilpres di Amerika berlangsung secara langsung. Capres yang mendapatkan suara terbanyak otomatis menjadi presiden. Tapi saat ditanya lebih lanjut soal sistem pilpres, mereka mengaku kurang paham.

Tapi para pengamat dan akademisi di bidang politik yang memiliki pemahaman lebih seputar mekanisme pemilu di Amerika Serikat, termasuk bagaimana “Electoral College” menjalankan perannya sebagai penentu presiden terpilih, meyakinkan saya bahwa pelaksanaan pemilu di Amerika tidak sesederhana yang tampak dalam pemberitaan di media pers.

Sebagian pakar di sana menilai sistem pemilu tidak cukup adil karena kekuasaan rakyat dalam memilih presiden menjadi semu. Sementara sebagian lain menganggap mekanisme pemilihan presiden yang sudah berjalan sejak kemerdekaan Amerika Serikat ini sangat demokratis, bahkan sempurna.

Tetapi, dengan catatan, sistem ini hanya cocok diterapkan di Amerika Serikat.

Langsung atau tidak langsung?

Untuk mengetahui bagaimana sebenarnya sistem pemilu di “Negeri Paman Sam”, mari kita mulai dengan menjawab pertanyaan: Apakah rakyat Amerika Serikat memilih calon presiden mereka secara langsung atau tidak? Yang jelas, Amerika Serikat tidak menerapkan sistem pemilu langsung dalam pilpres yang diadakan setiap empat tahun sekali.

Dan seperti saya sebut di atas, banyak warga setempat yang tidak sadar bahwa mereka tidak sedang memilih presiden secara langsung. Mereka mengira, saat memberikan suara di TPS untuk Capres A, suaranya itu akan langsung diterima oleh si calon. Padahal sesungguhnya mereka memilih untuk mendapatkan satu Suara Pemilu (Electoral Votes) di masing-masing daerah pemilihan.

Tapi meskipun pilpres di sini tidak secara langsung memilih presiden, prosesnya tidak sesederhana pilpres Indonesia di era Orde Baru, di mana rakyat memilih anggota DPR, lalu anggota DPR memilih presiden dengan cara musyawarah ataupun dengan pemungutan suara di gedung rakyat.

Electoral College

Pemilihan presiden di Amerika Serikat menggunakan sistem electoral college yang menjadi penentu akhir presiden terpilih. Dalam sistem ini, presiden terpilih tidak diangkat berdasarkan pilihan rakyat lewat pemungutan suara di TPS, tetapi oleh para electors (pemilih) yang menjadi anggota electoral college dan memiliki mandat atas electoral votes (suara pemilu).

Jadi yang sesungguhnya dipilih rakyat Amerika Serikat di TPS adalah electoral votes yang diperebutkan oleh dua mesin politik besar, yaitu Partai Republik dan Partai Demokrat.

Setiap negara bagian memiliki jatah electoral votes yang berbeda. Jatah ini ditentukan oleh banyaknya alokasi kursi Senat dan DPR yang dimiliki tiap-tiap negara bagian. Alokasi kursi Senat dan DPR sendiri bisa berubah berdasarkan populasi penduduk yang ditetapkan oleh sensus sepuluh tahunan.

Saat ini terdapat 538 electoral votes yang tersebar di 51 negara bagian. Jumlah itu ditetapkan berdasarkan 435 kursi DPR (House of Representatives), 100 kursi Senat, ditambah tiga jatah electoral votes untuk ibu kota Washington DC—meskipun kota pemerintah federal ini tidak memiliki wakil di Senat.

Untuk memenangi pemilu, seorang calon presiden harus mendapatkan minimal 270 dari 538 electoral votes. Oleh karena itu, dalam setiap pemilu, para politisi selalu membidik negara bagian yang memiliki jumlah electoral votes terbanyak, seperti California (55), Texas (34), Florida (27), dan Illinois (21).

Setelah pemungutan suara selesai, para electors akan menggelar konvensi di ibu kota negara bagian untuk memberikan suara mereka. Dalam pertemuan yang berlangsung pada bulan Desember inilah pilpres benar-benar digelar secara langsung. Mereka akan memilih satu dari dua pasangan capres yang sedang bertarung menuju Gedung Putih.

Sosok “Elector”

Lantas bagaimana “elector” ditetapkan? Pemegang electoral votes diangkat oleh dewan pimpinan partai di tingkat negara bagian. Penetapannya dilakukan dengan mempertimbangkan loyalitas kepada partai dan diyakini tidak akan mengkhianati suara rakyat dan suara partai yang diwakilinya.

Para electors dipilih oleh partai sebelum pemilu berlangsung, waktu persisnya berbeda di masing-masing negara bagian. Masa jabatannya pun berbeda. Dan, satu hal, tidak ada pengumuman resmi dari partai terkait proses penetapan atau pengangkatan electors.

Itulah sebabnya, ketika warga Amerika ditanya soal electors, electoral votes ataupun electoral college, banyak dari mereka yang bingung dan balik bertanya, “Pertanyaan macam apa itu?”

Tetapi, ada juga negara bagian yang mengumumkannya dan mencantumkan nama-nama mereka di kertas suara.

Setiap partai yang ikut pemilu, yakni Demokrat dan Republik, mengangkat electors sejumlah alokasi electoral votes di negara bagian masing-masing. Misalnya, Wisconsin memiliki 10 electoral votes, maka partai di negara bagian ini masing-masing mengangkat 10 electors.

Tetapi, hanya partai yang memenangi pemilu di negara bagian yang bisa mengirimkan elector-nya ke konvensi. Istilahnya, the winner take it all. Pemenang meraup semua jatah electoral votes di tingkat negara bagian.

Dengan sistem semacam itu, ada kesan bahwa pilpres empat tahunan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat pada Selasa minggu pertama bulan November (tahun depan jatuh pada tanggal 3 November) tidak digelar untuk memilih presiden, tetapi memilih partai mana yang akan menguasai electoral votes di tiap-tiap negara bagian.

“Popular Vote vs Electoral Vote”

Sampai di sini, keunikan sistem pemilu AS belum seberapa. Saat konvensi electoral college berlangsung, ada beragam muslihat yang mungkin terjadi. Pasalnya, tidak ada ketentuan yang mewajibkan elector memberikan pilihan sesuai dengan amanat partai dan konstituennya.

Dalam electoral college, negara bagian boleh meminta dan boleh tidak meminta para elector memilih berdasarkan hasil pilpres. Dan, setiap elector bisa saja memilih capres yang berbeda dari capres pilihan mayoritas rakyat di tingkat negara bagian.

Esensi dari sistem pilpres di AS adalah pertarungan antara 51 negara bagian (termasuk Washington DC). Selain itu, pilpres di negara ini menggunakan sistem pemilu tidak langsung, sehingga capres dengan perolehan suara terbanyak tidak otomatis menjadi presiden berikutnya.

Dalam sejarahnya, pilpres Amerika mengalami beberapa peristiwa di mana presiden pilihan rakyat tidak bisa menjabat di Gedung Putih. Mereka adalah Andrew Jackson yang menang dalam pemungutan suara di Pilpres 1824, tetapi kalah dari John Quincy Adams dalam pemilihan di electoral college.

Berikutnya ada Samuel Tilden yang menang dalam pemungutan suara Pilpres 1876 dan Grover Cleveland yang menang di Pilpres 1888. Tapi dalam electoral college, keduanya kalah dari pesaingnya, yaitu masing-masing Rutherford B Hayes dan Benjamin Harrison.

Kasus paling hangat adalah ketika Al Gore menang dalam pemungutan suara Pilpres 2000, tetapi ternyata George W Bush yang menjadi presiden setelah berhasil mencundangi lawannya di electoral college.

Hasil Seri

Bagaimana jika hasil perolehan suara electoral college berimbang, dengan perolehan 269 untuk masing-masing capres?

Bila ini terjadi–dan sangat mungkin terjadi mengingat total electoral votes adalah bilangan genap–, pemilihan presiden dan wakil presiden berpindah ke lembaga DPR (House of Representatives) dan Senat, berdasarkan Amandemen ke-12 UUD Amerika Serikat.

Calon presiden dan calon wakil presiden menghadapi dua pemilihan yang berbeda. Pemilihan di DPR khusus untuk memilih presiden, sedangkan pemilihan di Senat untuk memilih wakil presiden.

Namun, berbeda dengan sistem electoral college di mana satu suara mewakili satu pilihan, pemilihan presiden di DPR diwakili oleh 51 suara berdasarkan jumlah negara bagian plus Washington DC. Artinya, setiap negara bagian (yang diwakili oleh sejumlah anggota DPR) hanya memiliki satu suara untuk satu calon presiden.

Capres yang pertama kali meraih 26 suara dari total 51 suara, dinyatakan terpilih sebagai presiden yang baru. Proses pemilihan presiden ini harus selesai paling lambat tanggal 4 Maret.

Setelah itu, Senat akan memilih calon wakil presiden dengan cara satu orang Senator memiliki satu suara. Cawapres yang meraih 51 suara dari total 100 suara ditetapkan sebagai wakil presiden, mendampingi presiden hasil pemilihan di DPR.

Jadi, kalau Anda punya kesempatan berbincang seputar pilpres dengan orang Amerika, dijamin mereka akan terkesima (atau boleh jadi tertawa) menyimak sistem pilpres tanah air yang mekanismenya dilaksanakan secara langsung–dalam arti yang sebenar-benarnya.

Di Indonesia, setiap orang memberikan suaranya untuk capres yang diinginkan. Sedangkan di Amerika Serikat, setiap orang memberikan suaranya untuk elector yang bertugas memilih presiden sebulan setelah Hari Pencoblosan.

Catatan: Kunjungan saya ke Amerika Serikat berlangsung selama Agustus-September 2012, dalam rangka program pertukaran International Visitor Leadership Program (IVLP 2012) dengan tema “Electoral Mechanics”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.