Seorang teman bertanya, mengapa konten hoaks yang penuh kebohongan dan tipuan cepat sekali viral? Kok bisa mereka mempercayai fiksi sebagai fakta, tertipu mentah-mentah berulang-ulang?

Selama ini, jawaban atas pertanyaan di atas selalu berkutat pada sisi intelektual netizen. Padahal tidak ada yang salah dengan kecerdasan kita sebagai pengguna internet. Dan penerimaan seseorang terhadap sebuah konten tidak selalu mengandalkan kecerdasan atau keilmuan yang dimilikinya.

Apalagi kita kerap menjadi orang lain saat berinteraksi di dunia maya. Jati diri aslinya pergi entah ke mana.

Itulah sebabnya, tukang becak sampai tukang insinyur terpedaya oleh hoaks. Mahasiswa sampai agamawan (atau Anda boleh melabelinya dengan sebutan ustadz, pendeta, ulama) bisa terlibat sebagai distributornya.

Lalu mengapa kita mudah tunduk pada sebuah tipuan, mudah percaya dengan informasi yang sumir, lantas gemar menyebarkannya tanpa saringan akurasi ataupun dampaknya?

Setidaknya ada dua aspek yang mendorong hoaks mudah dinikmati oleh banyak pengguna internet. Pertama aspek penggunanya, kedua aspek kontennya.

Di ulasan pertama ini, saya akan menyoroti aspek perilaku manusianya dulu ya. Yang berperan sebagai distributor atas konten-konten hoaks di dunianya si maya.

Bicara soal distribusi, Anda mungkin sudah tahu bagaimana algoritma medsos “zaman now” dikembangkan. Saat ini, hampir semua platform mulai dari Facebook sampai Instagram sampai Twitter menempatkan pengguna sebagai distributor untuk jejaringnya.

Distribusi bukan hanya dengan menekan tombol ‘sebar’ atau menempelkan tanda ‘hati’ atau ‘Retweet’ ke suatu konten. Distribusi juga melibatkan jangkauan, keterlibatan dan interaksi pada sebuah konten. Artinya, saat Anda sekedar memelototi sebuah gambar, ataumembaca tuntas sebuah status, atau iseng-iseng menonton sebuah video, berarti Anda ikut mendistribusikan konten itu ke linimasa teman Anda.

Kembali ke perilaku pengguna. Sedikitnya ada dua perilaku orang Indonesia yang semakin terasah di era media sosial, yaitu:

1. BESARNYA RASA INGIN TAHU (KEPO)

2. TIGGINYA RASA INGIN TERLIBAT (GAUL).

Kekepoan kita sebenarnya mudah dilihat saat ada korban kecelakaan di jalan raya. Kemacetan panjang yang terjadi setelah ada motor tabrakan atau orang tertabrak kereta api bukan karena orang berbondong-bondong mengangkat korban ke pinggir jalan. Tapi karena orang beramai-ramai menyaksikan si korban sambil melambatkan kendaraan.

Tanpa ada media sosial pun, kita sudah kepo duluan. Di kantor, di sekolah, di kampus, kita kerap menanyakan kabar si anu atau menggosipi si pulan.

Kekepoan kita jugalah yang menjadi modal industri pers dan hiburan dalam mengolah konten infotainment yang berisi gosip dan kehidupan pribadi para artis dan tokoh. Kita ingin tahu apapun yang sedang dilakukan sang idola. Ingin tahu semua kebaikannya dan, syukur-syukur, bisa dapat kejelekannya.

Maka ketika setiap artis, tokoh dan seleb bisa bikin medianya sendiri, akun-akun mereka diseruduk oleh banyak pengikut, setiap konten yang mereka sebarkan disukai dan disaksikan banyak jempol.

Tapi rasa keingintahuan ini hanya untuk memuaskan rasa penasaran saja, tidak membawa kita ingin tahu lebih banyak dan melacak sumber-sumber terkait sampai ke akar-akarnya. Tidak membawa kita ke pintu-pintu aksi yang lebih bermanfaat, misalnya keilmuan, kearifan, kemurahan hati dan sebagainya. Bahkan menggiring jempol ini ke halaman pencarian Google pun tidak!

Ketika rasa ingin tahu muncul, rasa itu akan cepat terpenuhi setelah yang diinginkan terpenuhi, sekalipun levelnya cuma asal tahu dan jadinya cuma sok tahu.

Lalu bagaimana dengan hasrat kita untuk selalu bergaul, untuk terus terlibat dan dianggap gaul? Setali tiga uang dengan rasa ingin tahu.

Kalau orang lain bisa pergi ke puncak gunung dan menayangkan fotonya dengan caption “selamat pagi, gaess”, kenapa saya tidak? Kalau orang lain bisa jadi yang pertama menyebarkan video lucu, kenapa saya tidak? Kalau orang punya banyak grup di WA, kenapa saya hanya satu?

Kadang apa yang kita lakukan di media sosial bukan karena kita ingin melakukannya, tapi semata-mata karena kita ingin orang lain melihat kita (juga bisa) melakukannya.

Media sosial adalah platform kesetaraan. Semua orang bisa menayangkan foto yang bagus, memilih filter yang ciamik, merangkai kata yang indah, membingkai statusnya dengan emoticon lucu. Semua orang bisa terlibat sejajar dalam sebuah percakapan. Maka mengapa saya harus berdiam diri?

Terlebih, fitur-fitur media sosial mendorong orang untuk terus terlibat dan terlibat. Untuk semakin aktif dan adiktif. Sampai pada titik penggunanya tidak bisa hidup tanpanya.

Pada titik ini, pengguna media sosial merasa tidak perlu memikirkan benar tidaknya sebuah konten. Lagi pula, itu bukan tugas saya. Dan saya pakai hape bukan untuk mengurusi hal-hal merepotkan seperti.

Ini ponsel saya, akun saya, pakai paket data sendiri. Jadi suka-suka saya mau ngapain di media sosial. Begitu alam bawah sadar kita bicara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.