Bahkan sampai berhari-hari setelahnya, saya masih harus menahan tangis. 

Rasanya seperti menahan beban yang ditumpukkan ke atas dada. Kedua kelopak mata perih karena air tak mengalir membasahi pipi. Luapan emosi terperangkap di sanubari. Beneran bikin nyesek!

Makanya saat ada yang sedang bersedih, seorang saudara atau karib akan bilang, keluarin aja sedih dan tangismu. Lepaskan, jangan ditahan….. 

Tapi sayang, saya masih harus menahannya.

Setiap kali Kak Nahda menelepon, setegar mungkin saya dan istri menjawab keluh-kesah dan 1001 kekalutan yang sedang dia hadapi di sana. Tangisnya selalu jadi pembuka sekaligus ‘suara latar’ sepanjang obrolan jarak jauh itu. Kami harus selalu tersenyum untuk menguatkan, sambil menahan sedih dan pilu.

Bergantian, kami tak bosan-bosannya meneguhkan hati dan menegarkan niat putri kedua nan cerdas itu. Agar dia bisa melewati masa-masa paling berat menjadi santri baru di Pondok Modern Darussalam Gontor Putri Kampus 2 (GP2). 

Saya belum bisa membayangkan suasana kampus Gontor Putri 2. Pernah ke GP2, tapi hanya sesekali, untuk menjenguk keponakan dan mengisi materi pelatihan media sosial di hadapan para santri.

Tapi kampus Gontor di mana pun wajahnya seragam. Sekian banyak gedung sekolah dan asrama bertingkat menghiasi setiap sudut dengan dominasi warna hijau tua dan muda.

Kurang lebih sama dengan suasana di kampus Gontor Putri 3 (GP3) yang berjarak sekitar 5 kilometer ke arah Ngawi—yang sudah saya kenali luar-dalamnya.

Sebelum musim pandemi datang, saya dan istri sering menjenguk Kak Mayla yang sekarang kelas 5 di GP3. Juga pernah mengisi pelatihan media sosial di sana, yang waktu itu dibuka oleh Wakil Pengasuhan Santri Ustadz Suwarno. 

Musim pandemi ini juga yang sesungguhnya membuat kesedihan berlipat dan keinginan melepaskan air mata begitu kuat. Kondisi seperti ini tidak saya alami saat memasukkan putri pertama ke Gontor, 5 tahun lalu. 

https://youtu.be/hN8wDkK-lTU

Bayangkan. Dulu, orang tua diwajibkan datang ke pondok untuk mengantar dan mendaftarkan langsung putra/putrinya. Si anak juga harus ikut serta karena, begitu terdaftar, dia sudah harus masuk asrama dan mengikuti peraturan yang berlaku 7×24 jam.

Saat Kak Mayla masuk Gontor, istri yang berangkat mengantar dan menemaninya selama tiga minggu di sana. Anak lulusan SD ini masih ditemani oleh orang tuanya mulai dari saat mendaftar, mengikuti ujian masuk, sampai saat pengumuman penerimaan santri baru tiba.

Itulah sebabnya, selama musim penerimaan santri baru yang selalu berlangsung di awal bulan Syawal, kampus Gontor Putri 1 dan 2 dipenuhi oleh tenda-tenda dan mobil-mobil yang memenuhi sepadan jalan pondok.

Selama musim yang sama, ribuan orang hilir-mudik memadati bagian depan kampus dan menyeberangi jalan raya di depannya untuk mencari makan, ember, jilbab, pulpen dan aneka keperluan lain untuk putri-putrinya yang mencoba peruntungan masuk Gontor. 

Jangan bayangkan bagaimana suasana di dalam kampus, karena pasti lebih ramai lagi oleh ribuan calon pelajar (capel) yang sedang mengikuti ujian masuk dan ribuan santri lainnya yang baru saja balik dari libur panjang.

Tapi itu dulu. Fenomena deretan tenda dan barisan mobil terakhir terlihat di tahun 2019, atau sebelum pasien pertama COVID19 diumumkan pemerintah. 

Sekarang, atau sejak musim pandemi mendera di awal 2020, tidak ada satu orang tua pun yang boleh datang apalagi masuk ke kampus, tidak untuk mengantar capel ataupun menjenguk anaknya yang sedang belajar di sana. 

Yup, Gontor sedang mengisolasi kampus-kampusnya. Tidak ada orang luar selain santri dan guru yang boleh berada di lingkungan kampus. 

Dan itulah persisnya yang saya alami selama hampir dua tahun terakhir. Tidak bisa menjenguk Mayla yang sedang belajar di GP3, pun tidak bisa mengantar apalagi menjenguk Nahda yang baru saja diterima masuk GP2.

Dengan berat hati, saya dan ribuan orang tua lainnya hanya bisa mengantar kepergian putra-putri kami dari tempat pemberangkatan di daerah masing-masing. 

Melepas Kak Nahda di Pondok Gede

Para capel hanya boleh dibawa dan diantar oleh panitia dari Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM), sebuah organisasi yang dibentuk pondok untuk para alumninya di tingkat provinsi.

 Setelah bis berangkat, Nahda dan para capel lain menjalani hidup dan perjuangannya seorang diri, tanpa orang tua di sampingnya…. 😭😭😭 

Tinggallah kami di rumah menanti kabar dari kakak pembina yang mendampingi mereka. Menunggu giliran mendapat panggilan video ataupun obrolan WhatsApp. Selalu berdoa agar dia kuat dan tabah melalui sekian banyak ujian selama berhari-hari di sana (khususnya ujian lisan dan tulis sang penentu kelulusan yang tidak mudah dilalui oleh anak lulusan SD seperti Nahda).

Saat hari pengumuman tiba, kegusaran dan kegelisahan yang dihadapi mencapai level tertinggi. Persis seperti yang dirasakan anak-anak di sana, di halaman depan balai pertemuan pondok. Mereka dikumpulkan dan diberikan wejangan untuk menguatkan hati. Baik untuk yang dinyatakan lulus ataupun tidak lulus.

Saya pun membayangkan betapa sepi dan pilunya hati anak-anak yang tidak lulus ujian. Mereka bukan hanya merasakan kegagalan tapi juga kesendirian. Rasanya hari-hari berat itu belum waktunya untuk mereka lalui.

Tapi faktanya, semua berlalu dengan dramanya masing-masing. Ada yang lulus dan mendapatkan tempat di kampus-kampus Gontor di pulau Jawa. Ada yang diberangkatkan ke kampus-kampus di luar Jawa. Ada yang lulus tapi dititipkan di pondok pesantren lain, dan tidak sedikit yang dinyatakan belum memenuhi syarat menjadi santri Gontor.

Alhamdulillah, Nahda lulus masuk Gontor dan diterima di GP2. Ujian setelah pengumuman ujian masuk bahkan lebih berat lagi bagi seorang Nahda yang belum pernah mengecap pendidikan jauh dari orang tua. Saya tahu persis bagaimana rasanya melewati bulan pertama sebagai santri baru Gontor karena pernah merasakannya, 20 tahun lampau.

Tapi saya dan Kak Mayla masih beruntung karena orang tua masih terlihat di kampus beberapa hari setelah resmi menjadi santri—sementara Nahda tidak merasakan keistimewaan tersebut.

Beberapa kali Nahda nelepon karena bingung bagaimana membayar daftar ulang. Dia juga harus mengurus lemari dan kasur seorang diri. Tapi untung ada saudara sepupunya di sana yang setelah sekian hari bisa dia temui.

Setelah itu, Nahda belum menelepon lagi. Mungkin kesibukan sudah menguasai kesedihannya. Apalagi masa perkenalan Khutbatul ‘Arsy sudah dekat.

Sabtu kemarin, saya dan istri diundang menghadiri wisuda kelulusan Nahda di SD Islam PB Soedirman. Tentu saja wisuda virtual, karena tahun ini sekolah meluluskan 228 siswa Angkatan 45.

Sedih berbalut bahagia menguasai hati kami berdua. Melihat si mungil Nahda akhirnya diwisuda dan melanjutkan sekolah nun jauh di sana. Saya pun meluapkan tangis sepuasnya. Melepaskan yang tertahan di dada sekian lamanya.

Nahda, doa papa dan mama selalu untukmu, Nak. Semoga kamu sehat dan kuat di sana….  

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.