Lagi-lagi soal rokok. Kali ini, saya ingin mengajak Anda membaca label di bawah ini. Emang basi, sih. Tapi coba deh baca sekali lagi pelan-pelan:

MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN

Ada yang janggal tidak?

Kalau menurut pembacaan saya, kalimat baku yang tertera di kemasan rokok dan semua materi promosi produk rokok itu bukan hanya janggal tapi juga menyesatkan. Pasalnya, di situ hanya diinformasikan bahwa yang dapat menyebabkan kanker dan sejenisnya adalah kegiatan menghisap rokok. Padahal yang sebenarnya bikin orang sakit kan asapnya!

Mungkin akan ada yang menyanggah, “Loh, apa bedanya? Kan sama saja. Kalau merokok pasti menghasilkan asap. Dan asap itulah yang jadi penyebab kanker. Jadi mengapa harus dipermasalahkan?”

Hehehe… Sekarang, coba kalimat peringatan tadi diganti jadi seperti ini:

ASAP ROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN

Ada bedanya nggak?

Dengan kalimat peringatan seperti ini, orang jadi lebih mafhum bahwa semua asap yang keluar dari rokok, kalau terhirup oleh hidung dan masuk ke dalam paru-paru, maka dapat menyebabkan kanker dan sebagainya.

Kalau kalimat pertama hanya ingin bilang, “Hati-hati loh kalau mau merokok. Nanti bisa sakit kanker!” Maka peringatan kedua pengertiannya lebih luas dan lebih menyeramkan (baca: realistis): “Hati-hati loh sama asap rokok. Meskipun kamu tidak merokok, kamu juga bisa kena kanker…!”

Di sini saya tidak perlu menulis apa-apa tentang apa itu perokok pasif dan bahaya yang mengancam perokok pasif, karena sudah terlalu banyak artikel seputar bahaya rokok baik bagi perokok aktif apalagi yang pasif. (antara lain bisa dibaca di situs DepkesChemistry.org atau blog Prayitno).

Yang ingin saya tekankan adalah, apakah pemerintah mau dan berani merubah kalimat peringatan merokok dengan kata-kata yang lebih tegas seperti itu? Maukah pemerintah menetralisir gempuran kampanye ‘ayo merokok’ dengan kampanye ‘jangan merokok’?

Politik Rokok

Kalau ada yang ragu, saya pun ingin mengungkapkan kecendrungan yang sama. Lihat saja bagaimana pemerintah mengelola pajak rokok. Berapa persen yang dialokasikan untuk menanggulangi dampak rokok. Bukankah pantas kalau separuh income pajak dari rokok digunakan untuk mengedukasi dan memproteksi masyarakat dari ancaman bahaya rokok? Berapa banyak iklan-peringatan-rokok di TV dibandingkan dengan iklan rokok di media yang sama?

Malah sempat terbesit di pikiran saya, jauh hari sebelum UU anti rokok diagendakan untuk dibahas di DPR, para pelobi rokok sudah melakukan banyak hal yang secara politis mampu mempertahankan kepentingan mereka. Saya juga punya feeling bahwa rokok sudah lama mendominasi kekuatan politik negeri ini, sehingga draft UU anti-rokok yang lama disuarakan oleh elemen masyarakat saja harus tertimbun tumpukan draft uu lain selama bertahun-tahun.

Bayangkan. Perlu waktu lima tahun lebih untuk sekedar mengangkat derajat draft UU ini menjadi RUU. Dan itu pun belum tentu nantinya DPR mau ketok palu menjadikannya sebagai UU.

Usulan organisasi-organisasi kesehatan agar label peringatan rokok diganti dalam bentuk gambar dan tulisan di separuh kemasan rokok yang disampaikan awal 2008 lalu nampaknya juga dianggap angin lalu (KOMPAS.com, 11 Januari 2008). Bahkan Indonesia juga belum menjadi bagian dari negara yang meratifikasi kerangka konvensi pengendalian tembakau WHO (Framework Convention on Tobacco Control-FCTC).

Andai saja ada capres 2009 yang berani memposisikan diri sebagai Presiden Anti Rokok…. Kita lihat saja, apakah rakyat akan memilih presiden dengan tema perjuangan seperti ini. Kalau ya, berarti Indonesia sedang berada di jalur yang lebih baik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.