Afwan. Maaf.

Kata itu sering saya terima setiap kali berbincang dengan anak Gontor. Baik yang sedang mengabdi sebagai guru di Gontor, sedang kuliah, atau pun sudah bekerja. Kalau dengan santri, jangan ditanya. Bisa berlipat kali dia bilang ‘maaf’ dalam satu sesi obrolan, baik langsung maupun lewat WhatsApp.

Sejak melepas jabatan saya sebagai COO Kompasiana dan karyawan KOMPAS.com, saya tambah intens berinteraksi dengan alumni Gontor, almamater tercinta. Saya ikut membentuk dan bergabung dalam perkumpulan Jurnalis Alumni Gontor (JAGO) yang berisi para alumni yang sedang atau pernah berprofesi sebagai wartawan.

Saya juga semakin sering diundang ke pesantren untuk mengisi materi literasi digital, jurnalistik ataupun penulisan. Dan terlibat dalam pengembangan literasi pesantren ataupun kompetensi untuk para santri.

Saat masih di Kompasiana, interaksi dengan santri dan alumni juga sudah berlangsung lama. Bahkan saya beberapa kali menerima kunjungan Anak Gontor yang ingin belajar dunia jurnalistik ‘zaman now’, khususnya apa yang dilakukan Kompasiana di ranah konten digital dan jurnalisme warga.

Dan kata maaf atau sorry selalu menyertai interaksi dan percakapan tersebut.

Kata itu diucapkan dalam banyak konteks. Bahkan sering digunakan diluar konteksnya yang hakiki, yaitu meminta maaf atas kesalahan yang telah diperbuat, atau minta dimaafkan karena telah berbuat salah.

Saat saya bertanya sesuatu, si Anak Gontor akan menjawab panjang lebar. Lalu dia akan merespon ucapan terima kasih saya dengan mengatakan, “Afwan, Ustadz”. Saat dia menanyakan sesuatu, apalagi meminta bantuan, kata maaf akan lebih sering diucapkan, dan hampir bisa dipastikan jadi kata penutup.

Apalagi kalau lagi ngobrolin satu tema. Atau berdebat. Anak Gontor senang sekali mengakhirinya dengan satu kata ini. Afwan.

Mungkin Anda akan bilang, wajarlah, ngobrol ama senior, pasti hormat dan sungkan. Lebih dari 20 tahun seorang Isjet lulus dari Gontor. Jadi wajar mereka seperti itu.

Tapi tunggu dulu. Barusan, beberapa menit lalu, teman seangkatan saya mengingatkan kembali, betapa kata maaf sudah lama menjadi akhlak buat Anak Gontor. 

Tadi saya berbincang dengan teman seangkatan yang bekerja di instansi pemerintah. Saya mengubunginya untuk konsultasi dan masukan. Lalu di akhir percakapan WA, setelah saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih, dia mengetikkan kata itu: Afwan.

Dan karena dialah saya menuliskan ini di sini.

Kalau bertemu langsung, sikap hormat dan patuh anak Gontor akan terlihat dari anggukan kepalanya. Anggukan hormat dengan wajah tulus. Digerakkan perlahan, dan mudah terlihat anggota badan bagian atasnya ikut bergerak. Kurang lebih mirip dengan anggukan hormat orang Jepang. Tapi ini lebih lambat dari Jepang. Jadi terasa lebih nyess di hati saat mendapatkan penghormatan selembut itu.

Kalau santriwati akan diikuti dengan sedikit merendahkan badannya. Terlihat sangat feminim. 

Adab itu berlaku di semua santri, semua guru, termasuk guru senior di Gontor ( tetap sih lebih senior saya hahaha). Juga masih membekas dan mewarnai anak Gontor yang sudah keluar dari Gontor. Baik alumni baru, alumni agak baru, alumni lama, alumni agak lama, sampai alumni lama banget seperti saya.

Atau setidaknya begitu yang saya alami setiap kali berinteraksi dengan Anak Gontor. 

Saya yakin akhlak itu melekat di setiap diri Anak Gontor. Di mana pun mereka berada. Baik di kampus Gontor, di tempat mereka belajar, di tempat mereka bekerja, di tempat mereka beribadah, di Indonesia atau pun di belahan negara lainnya.

Akhlak itu mendunia. Kesantunan mereka dikawal oleh satu kata yang mungkin masih banyak orang enggan mengucapkannya.

Afwan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.