Hore! Bensin Sudah Bebas Santunan…

0
5
views

Hari ini harian KOMPAS menurunkan berita pencabutan subsidi bensin premium yang membuat lega hati semua orang, khususnya masyarakat kelas menengah-atas.

Bagaimana tidak? Setelah berpuluh-puluh tahun semua konsumen bensin hidup dengan tangan-di-bawah (baca: penerima sumbangan), sekarang sudah tidak berlaku lagi. Penerima subsidi memang tidak ubahnya seperti penerima sumbangan.

Coba baca definisi Subsidi di Kamus Besar Bahasa Indonesia yang saya kutip langsung dari kamus versi digitalnya:

sub·si·di n bantuan uang dsb kpd yayasan, perkumpulan, dsb (biasanya dr pihak pemerintah): panti asuhan mendapat — dr Pemerintah;  silang subsidi dr pemerintah (atau badan swasta) kpd yg kurang mampu yg berasal dr mereka yg mampu (msl harga bensin naik banyak dng maksud untuk memberi subsidi kpd pemakai minyak tanah yg umumnya rakyat kurang mampu; ongkos pasien kaya ditinggikan untuk membantu pasien kurang mampu): dicari upaya untuk menumbuhkan — silang antara pasien yg mampu dan yg kurang mampu; ber·sub·si·di v mendapat subsidi; dng subsidi: sekolah –

Jadi, wajar saja kalau kita yang merasa mampu secara ekonomi merasa lega. Ini bukan soal gengsi atau harga diri. Ini soal keadaan normal yang diharapkan oleh semua orang: Orang Kaya membantu Orang Kurang Mampu. Tidak ada cerita Orang Kaya dan Orang Tidak Kaya bersama-sama menengadahkan tangan untuk menerima bantuan. Dan tidak masuk akal kalau ada Pengusaha Besar dan Tukang Gorengan sama-sama jongkok menerima bantuan dari pemerintah.

Kondisi tersebut, menurut saya, adalah kondisi yang kurang normal.

Penghapusan subsidi terhadap bensin jenis standar ini memang bukan buah dari kerja keras pemerintah, tapi tak lebih dari dampak anjloknya harga minyak dunia di bawah 50 dolar AS per barrel. Untuk saat ini, harga bensin Rp. 5.500 per liter sudah setara dengan harga keekonomian.

Pertanyaannya, sampai kapan ini akan bertahan? Bagaimana kalau harga minyak dunia kembali melampaui angka 100 dolar AS? Apakah pemerintah akan bertahan dengan sikapnya menghapuskan nilai subsidi premium? Kita lihat saja nanti.

Anggaran Pendidikan & Sosial

Yang pasti, dengan hilangnya beban subsidi bensin dari anggaran pengeluaran APBN, pemerintah punya duit lebih banyak untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kesejahteraan hidup masyarakat Indonesia di daerah-daerah.

Caranya ya dengan memperkokoh bangunan sekolah, menambah jumlah sekolah di daerah pelosok, mensuplai guru-guru berkualitas dari kota ke daerah terpencil, menyiapkan infrastruktur pendidikan dan masih banyak lagi. Malah tekad SBY mengalokasikan anggaran 20% buat pendidikan bukan cuma pantes dan masuk akal, tapi mungkin bisa lebih.

Di bidang peningkatan kesejateraan, departemen sosial yang perannya selama ini tenggelam di tengah geliat beribu lembaga zakat dan lembaga sosial, boleh bangkit dengan program pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin yang diperkuat dengan penambahan infrastruktur di daerah demi kelancaran aktifitas bisnis wong cilik.

Yang pasti, tidak ada lagi cara konyol seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang hanya bikin perut kenyang dalam sehari, tapi besoknya lapar lagi.

Berita berikutnyaKekuatan Politik Sebatang Rokok
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.