Hari ini saya kalap belanja di JD.ID. Semua barang yang mencolok saya borong. Mulai dari iPhone XR, televisi pintar LED, jam pintar, sampai voucher belanja senilai Rp 5 juta. Mumpung harganya hanya 100 Rupiah. Ya, satunya cuma 100 perak!

Tapi tenang, ini bukan belanja sebenar-benarnya belanja. Barang-barang mewah berharga murah yang disediakan oleh JD.ID itu cuma bagian dari trik dagang si pasar daring alias promo canggih yang kali ini bekerjasama dengan uang elektronik Gopay.

Kok kepikiran sih bikin promo heboh gini?

Begini latar belakangnya. Semua pedagang dan pemilik toko online paham betul betapa banyaknya keranjang belanja yang dibiarkan teronggok begitu saja di marketplace. Setelah pengguna mencari barang ini itu di sebuah toko online, dia biasanya akan memasukkan ke dalam keranjang.

‘Tapi setelah itu ya sudah, gitu aja. Barang dagangan itu hanya dikeranjangin oleh calon pembeli. Sedikit sekali yang benar-benar membeli barang itu.

Nah, atas dasar itulah, JD.ID dan Gopay pengen para pebelanja di toko ini merasakan pengalaman belanja online, bayarnya pakai Gopay. Maka dibuatlah promo ini.

Yang tertarik ikut, khususnya pengguna baru JD.ID dan Gopay, akan diajak menyicipi pengalaman belanja online di sini. Mulai dari pilih barang, memasukkan barang ke dalam keranjang, sampai bayar barang.

Nama programnya Golden Ticket. Periodenya berakhir hari ini. Peserta seolah belanja barang, tapi sebenarnya yang didapat di akhir ‘proses belanja’ bukan nomor pesanan, tapi nomor undian Golden Ticket.

Pihak JD.ID lalu akan mengundi nomor yang beruntung mendapatkan ‘barang yang dibeli’ seharga Rp 100 tadi.

Selain itu, program ini juga menawarkan uang-kembali sebesar 100% dari jumlah yang dibayarkan. Jadi bisa dibilang ini adalah program undian-tanpa-bayar berhadiah beberapa barang mewah.

Beberapa toko online sebelumnya juga menerapkan stategi promosi sejenis, dengan mekanisme yang mirip. Cara ini yang pasti efektif dalam menancapkan iterasi penggunaan produk nontunai sekaligus tradisi belanja online. Peserta seakan dipaksa untuk mencobanya dan merasakan pengalamannya dari awal sampai akhir.

Tapi tanpa penjelasan yang memadai, program semacam ini justru dapat menimbulkan kesalahpahaman di benak peserta yang mengira mereka benar-benar telah belanja barang mewah seharga 100 Rupiah.

Jika banyak yang kecewa, bisa jadi program ini malah akan dibenci saat diulangi lagi di kemudian hari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.