What is your name?

My name is Kandar

You know Muhaimin?

Yes, I know him very well

Who is he?

Muhaimin is Kandar

Jum’at lalu, saya membuat status dengan dialog di atas, lengkap dengan meme Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar yang sedang berkampanye sebagai Cawapres 2019. Hari ini, ternyata meme yang sedang viral itu dimuat oleh Tempo di majalah edisi terbarunya. Saya sendiri menemukan gambar lucu tersebut di Instagram Story, lalu iseng saya sebarkan di Facebook. 

Meme itu merupakan lelucon untuk billboard Cak Imin yang sedang berikhtiar jadi wapres berikutnya. Iklannya terpampang di banyak daerah, khususnya di pulau Jawa. Di bawah foto, ada obrolan kocak antara turis dan supir taksi seperti terlihat pada gambar di bawah ini.

sumber: makassar.tribunnews.com
Sumber: makassar.tribunnews.com

Tak lama berselang, meme itu dimuat Tempo dalam bentuk kartun, dengan narasi yang sama persis dengan meme yang beredar. 

Ada Muhaimin, ada bule dan ada Iskandar:

Bule: Who is Muhaimin?
Pak Le: Muhaimin is Kandar….

Majalah Tempo edisi 5-11 Maret 2018. (@iskandarjet)
Majalah Tempo edisi 5-11 Maret 2018.

Di media sosial, banyak teman-teman yang terhibur oleh lelucon tersebut. Dan  gara-gara meme dan kartun di atas, saya jadi ingat dengan satu cerita yang (menurut saya) gak kalah lucunya. 

Cerita ini juga gak lepas dari nama Iskandar. Dan sedikit bersentuhan dengan kandidat Capres Muhaimin.

Lima tahun lalu, saya mendapat kehormatan ikut program International Visitor Leadership Program (IVLP 2012) yang rutin digelar Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat. Banyak tokoh dan pemimpin yang diundang dalam program premium ini, salah satunya Ketua Umum PDIP Megawati.

Program yang saya ikuti berlangsung dari tanggal 27 Agustus sampai 14 September 2012. Waktu itu, ada empat orang yang ikut program bertema “Electoral Mechanic” ini. Satu orang dari media, dua orang legislator dari Jawa Timur, dan satu orang anggota KPUD dari Papua.

Yaitu saya sendiri selaku Editor Komunitas KOMPAS.com, Abdul Halim Iskandar selaku Wakil Ketua DPRD Jawa Timur, Hamy Wahjunianto Soepaham selaku Ketua DPD PKS Jawa Timur dan Sergius Wabiser selaku Anggota KPUD Biak.

Cerita ini sedikit nyambung dengan Muhaimin Iskandar, karena Abdul Halim Iskandar adalah kakak kandungnya.

Singkat cerita, rombongan IVLP mendarat di bandara Mitchell, Milwaukee, setelah sebelumnya berkelana di kota New York, Alexandria dan Washington DC. Di Milwaukee, kita mendapat kesempatan tinggal di rumah warga lokal.

Setelah keluar dari bandara, kami disambut oleh tiga keluarga setempat. Setelah masing-masing dari kami menemukan tuan rumah yang telah ditentukan, kami pun berpisah menuju kediaman mereka, naik mobil mereka.

Tuan rumah yang menjemput saya adalah pasangan kakek-nenek yang masih prima, baik dari cara mereka berjalan maupun bicara. Saya tidak perlu sebutkan nama keduanya. Intinya, saat berada di dalam kendaraan, mereka bertanya banyak soal Indonesia dan pekerjaan saya di sana. Tapi ada sedikit yang tidak klop. Mereka banyak bertanya soal legislasi di tanah air. Juga soal partai dan pelaksanaan pemilu.

Sebenarnya pertanyaan itu bukan materi percakapan yang asing buat saya. Tapi mungkin karena jawaban saya tidak seperti yang mereka harapkan, akhirnya obrolan di mobil itu diselingi dengan proses identifikasi tamu.

“You are Iskandar, right?”

“Yes, I am.”

“Halim Iskandar?”

“Oh no no. I am Iskandar Zulkarnaen. I think you got wrong person.”

Kurang-lebih begitu percakapannya. Akhirnya saya sadar, kedua orang warga Amerika Serikat itu berharap yang ikut serta ke rumahnya adalah seorang legislator yang menjabat sebagai wakil ketua parlemen. Bukan saya yang pekerjaan sehari-harinya mengelola media.

Kesalahan ini terjadi gara-gara nama Iskandar. Anda tahu kan, orang Amerika selalu memanggil orang dengan nama belakang atau nama keluarganya. Nah, di sini ada dua Iskandar yang ikut: Iskandar Zulkarnaen dan Abdul Halim Iskandar. 

Kita sendiri awalnya gak terlalu memikirkan soal nama depan vs nama belakang, juga soal nama Iskandar di depan dan Iskandar di belakang. Selama di Amerika, saya dan Pak Halim selalu memanggil nama masing-masing dengan cara Indonesia. Teman-teman memanggil saya Mas Iskandar, sedangkan abangnya Muhaimin kita panggil Pak Halim.

Waktu pasangan suami-istri tadi menyebut nama Iskandar, saya langsung manggut-manggut dan tersenyum ke mereka berdua. Seingat saya, ketika itu Pak Halim dan Pak Hamy sudah pergi bersama tuan rumah mereka. Sehingga saya pun dengan ringan kaki mengikuti pasangan suami-istri ini menuju sedan yang mereka parkir tak jauh dari titik pertemuan kami di bandara.

Mobil sedan itu pun kemudian berubah arah. Dan terjadilah pertukaran tamu, antara Iskandar Zulkarnaen dan Abdul Halim Iskandar.

Setelah kejadian itu, kami berempat mencoba untuk fokus dengan dua nama panggilan. Yaitu panggilan dengan nama depan (untuk obrolan antar-kita) dan panggilan dengan nama belakang (saat ngobrol dengan teman-teman Amrik).

Dan semua ini terjadi gara-gara Iskandar 😉

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.