“Ya Allah, jika pasukan Islam yang berjumlah sedikit ini musnah, niscaya tidak ada lagi orang yang akan menyembah-Mu di muka bumi ini.” (HR. Muslim) Doa tersebut dipanjatkan Nabi Muhammad saw saat Perang Badar pada tanggal 17 Ramadhan tahun kedua hijriyah. Allah swt mengabulkan doa Rasulullah. Pasukan muslim meraih kemenangan dalam perang besar pertama melawan musuhnya. Peristiwa monumental itu menjadi pengingat bagi umat Islam agar selalu bersyukur kepada-Nya. Allah swt berfirman: “Dan sungguh Allah telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu dalam keadaan lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, agar kamu mensyukuri-Nya.” (QS Ali Imran ayat 123). Selang 14 abad kemudian, Neno Warisman memanjatkan doa yang sama. Dia khawatir jika calon presiden junjungannya tidak menang dalam Pilpres 2019, “niscaya tidak ada lagi orang yang akan menyembah-Mu di muka bumi ini.” Hari ini, tidak ada perang sebesar Perang Badar. Bahkan tidak ada perang dalam arti kontak fisik dan senjata sama sekali. Yang ada hanya Pilpres Yang Berulang. Hanya kontes perebutan istana yang, sialnya, diikuti oleh dua orang yang sama sejak SBY turun tahta. Doa itu jelas terdengar lebay, ‘over acting’, dan boleh saja dicap menggunakan peninggalan Nabi tidak pada tempatnya. Tapi siapa yang bisa dan boleh melarang Neno? Tidak ada. Itu hak dia untuk merangkai doa dan memanjatkannya. Doa adalah media komunikasi antara makhluk dan Tuhannya. Isinya adalah gabungan antara ungkapan perasaan dan harapan. Doa juga merupakan sebentuk upaya manusia dalam menemukan dukungan spiritual atas apa yang sedang dihadapi dan dikerjakan. Darinya mengalir ketenangan hati dan keteguhan jiwa. Juga kebulatan tekad dalam meraih sesuatu atau keluar dari sesuatu. Anda boleh melihat doa itu sebagai serangan politis lalu menghujatnya. Atau sebagai doa nan tulus lalu mengamininya. Tapi bagi Neno, narasi itu perlu dia sampaikan kepada Yang Maha Kuasa. Boleh jadi dia melihat kondisi di sekililingnya sangat mengkhawatirkan. Kemaksiatan merajalela. Hukum berat sebelah. Kesejahteraan tidak membaik. Dan kepentingan umat Islam dipasung. Dia pun mungkin juga merasakan penindasan yang amat besar. Dan semua itu terpendam dalam benaknya lalu dilampiaskan dalam bentuk doa. Saya melihat doa itu sebagai urusan seorang Neno Warisman dan Tuhannya. Sulit menuduh seorang pendoa sedang mempermainkan doa yang dipanjatkan. Doa itu terdengar tulus, bersumber dari perasaan dan harapan Neno yang sudah lama terlibat dalam perjuangan melawan kekuasaan Jokowi–yang dianggap lalim dan mengancam kepentingan umat Islam. Saya pun memaklumi kegemparan yang terjadi di kalangan pendukung dan #MesinPolitik penguasa. Serangan terhadap Neno dan doanya tak kunjung reda. Sampai-sampai jubir presiden, Ali Ngabalin, mencap Neno sebagai penista agama yang sesungguhnya. Dalam konteks politik, saya melihat kubu oposisi sekali lagi sukses melempar bensin dan petahana menyambarnya dengan api. Lalu tidak ada yang bisa menduga ke arah mana api itu akan membakar. Ini tak ubahnya dengan heboh #UninstallJokowi yang dipicu oleh #UninstallBukalapak yang dilakukan secara sporadis oleh para pendukung Jokowi. Saking besarnya dampak gerakan tersebut, seorang presiden sampai harus mengundang CEO Bukalapak ke istananya agar bara api #UninstallJokowi dan #UninstallBukalapak reda. Yang pasti, dukungan terhadap Neno juga tidak akan sirna. Dan besarnya dukungan terhadap doa itu bisa diartikan sebagai banyaknya orang yang juga merasakan apa yang diutarakan oleh Neno lewat doanya. Anda boleh melihat bagian ini sebagai serangan sistemis terhadap Jokowi. Apalagi, sejurus kemudian, muncul video emak-emak datang ke sebuah rumah, mengajak penghuninya agar tidak memilih Jokowi kalau masih ingin mendengar azan dan menolak LGBT merajalela di negeri ini. Dua peristiwa tersebut boleh jadi berangkai, bersama dengan serangan identitas terhadap Jokowi lainnya. Tapi semakin kencang isu ini dilawan, semakin banyak orang yang terpapar informasi negatif terhadap Jokowi. Apalagi PSI sebagai salah satu partai pendukung Jokowi cukup gemar melancarkan kampanye yang tidak lazim bagi pemilih muslim konservatif. Ketika pemilih menangkap kesan negatif terhadap kontestan politik, belum tentu dia mau dan mampu mencerna klarifikasi atau bantahan yang disampaikan setelahnya. Lalu apakah kemudian #MesinPolitik Jokowi harus diam? Tidak. Tapi bangunlah komunikasi dan kampanye yang isinya tidak merespon apa yang dilakukan lawan. Terus yakinkan pemilih muslim dengan program-program yang pro terhadap kepentingan mereka. Seperti biaya haji yang akan semakin murah. Prosedur umroh yang akan semakin mudah. Fasilitas untuk para merbot. Dukungan penuh untuk emak-emak pengajian. ‘Upgrade’ untuk pendidikan diniyah. Dan seterusnya. Jangan terlalu fokus pada jalan tol dan sertifikat tanah. Orang Islam butuh ketenangan dan kemudahan dalam beribadah. Kaitkan semua janji dan hasil kerja dengan kebutuhan tersebut. Fokus terus di situ. Abaikan serangan. Dan jangan balik menyerang. Karena tidak peduli seberapa besar hasil kerja pemerintahan sekarang, kalau mayoritas pemilih muslim tidak percaya pada Jokowi, selesai sudah pemerintahan yang ditenagai oleh PDIP ini. Dan fakta bahwa PDIP tidak pernah berkuasa dalam waktu lama harus jadi rujukan utama dalam mengevaluasi permainan catur berikutnya. Mungkin salah satunya karena partai ini dicitrakan tidak muslim-friendly, serta lebih dekat dengan pemilih dan politisi nonmuslim. Selamat bekerja dan berdoa lebih keras jelang 17 April 2019!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.