Sebutkan satu media sosial yang memberikan dampak paling buruk bagi kesehatan mental pengguna. Jawaban paling diakui oleh banyak pakar dan dimaklumi oleh semua pengguna di dunia adalah: Instagram. Antara lain karena fitur jumlah sukanya (baca: like).

Instagram tidak hanya diganderungi oleh para pengguna internet, khususnya anak muda, sebagai platform berbagi momen terbaik melalui foto dan video. Tapi juga membuat mereka kecanduan berburu suka atau hati, lalu terjebak dalam kondisi perfeksionis.

Itulah sebabnya, sejak Juli lalu, Instagram sudah memulai uji coba menyembunyikan jumlah jempol dari penampakan setiap pos yang mengalir di linimasamu. 

Artinya, kamu tidak akan bisa mengetahui berapa jumlah hati yang didapat oleh seorang artis atau teman atau idola yang kamu ikuti.

Yang tampak di layar hanya aliran foto, satu orang paling relevan yang menyukai konten itu, dan tulisan ‘lainnya’. Begitupun dengan video. Tidak ada lagi tampilan jumlah pemirsa di linimasa.

Jika bagian ‘lainnya’ itu diklik, jangan berharap kamu dapat melihat jumlah orang yang berada dalam lis para penyuka atau pemirsa tadi. Tidak akan. 

Jumlah penyuka dan pemirsa sudah dihilangkan oleh Instagram. Hanya pemilik konten yang bisa melihatnya. Sedangkan para pengikut hanya bisa melihat konten dan nama penyuka yang paling relevan.

Hanya saya yang bisa melihat jumlah pemirsa ataupun jumlah suka di sebuah konten.

Kecuali kamu super kepo, sehingga mau bersusah-payah menghitung secara manual total suka yang didapat oleh sebuah foto atau video. Atau kamu super narsis, sehingga sempat-sempatnya memotret-layar bagian penampakan jumlah suka ini, lalu membagikannya ke instafeed maupun instastory.

Kepada BuzzFeed News, Pemimpin Instagram Adam Mosseri mengatakan, uji coba ini bukan untuk mendorong penggunanya pada perilaku tertentu, melainkan untuk menciptakan lingkungan yang tidak penuh tekanan, di mana orang merasa nyaman mengekspresikan diri mereka. Dan agar pengguna mengurangi fokusnya pada jumlah hati.

“Kami mendengar banyak orang yang mengkhawatirkan jumlah suka yang mereka dapatkan,” kata Adam.

Hidup Milenial Jadi Lebih Tenang 

Uji coba secara resmi dimulai 16 Juli 2019 lalu di tujuh negara (Australia, Brasil, Kanada, Irlandia, Italia, Jepang, Selandia Baru). Hasilnya cukup positif, seperti dilaporkan HuffPost

Anak milenial seperti Sarah Roberts (22) mengaku senang tidak lagi melihat jumlah suka di linimasanya. Dia tidak lagi membandingkan dirinya yang bukan siapa-siapa dengan pemilik akun besar seperti selebriti dan pesohor.

“Saya juga jadi lebih mementingkan apa yang benar-benar saya sukai dibandingkan apa yang orang lain sukai,” kata Roberts.

Uji coba tersebut kemudian dilanjutkan oleh Instagram di daratan Amerika Serikat sejak awal minggu ini, dan berlanjut ke seluruh dunia sejak Kamis (14/11) kemarin.

Penghapusan jumlah hati juga tidak lepas dari terbukanya sistem Instagram dari manipulasi yang layanannya dijajakan secara bebas. 

Layanan manipulatif seperti layanan auto-like dan transaksi beli-suka benar-benar telah menjadikan platform ini sebagai tempat orang memanipulasi dirinya dengan jumlah suka yang banyak.

Titik Balik Media Sosial

Keputusan menyembunyikan jumlah suka boleh jadi akan mempengaruhi tingkat keasyikan pengguna yang pada giliran berikutnya menggerus pengguna aktif IG.

Instagram saat ini sudah memiliki pengguna aktif hingga satu miliar pengguna per bulan dan tercatat sebagai media sosial dengan pertumbuhan tertinggi dunia.

Keputusan tersebut saya yakini juga akan jadi titik balik media sosial. Akan mengubah lanskap dan pengembangan media sosial ke depannya. 

Twitter, misalnya, juga telah melihat angka-angka yang muncul dalam fitur interaktifnya sebagai bentuk gangguan yang mengusik kesehatan interaksi pengguna. Tapi Twitter nampaknya belum akan mengekor Instagram dalam waktu dekat, mengingat pertumbuhan platform ini cukup datar.

Sementara Facebook, yang notabene satu induk dengan Instagram, juga telah memulai uji coba yang sama dengan Instagram untuk melihat apakah hal itu akan memberikan pengalaman yang lebih baik kepada pengguna. Uji coba dilakukan untuk kawasan Australia sejak September 2019.

Memang tidak semua akun merasakan uji coba ini. Beberapa dari kalian mungkin masih bisa melihat jumlah suka di linimasa, sementara yang lainnya tidak. Misalnya akun putri saya yang masih menampilkan jumlah suka sementara akun saya sudah tidak lagi sejak Subuh tadi.

Bagaimana dengan kalian? Dan kalau boleh jujur, kalian lebih suka ditampilkan atau disembunyikan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.