Hari ini, saya berdialog dengan Kahla di tempat mi tektek, saat dia menemani saya membeli dua bungkus mi di dekat rumah.

Kahla: Pah, ini harganya berapa?
Papa: Coba Kahla tanya langsung ke abangnya.
Kahla: Gak mau ah, Papa aja.

Selama ini, saya belum berhasil melatih mentalnya agar berani menghadapi orang, misalnya mengambil tisu di kasir atau bertanya harga ke penjual.

Selang beberapa detik kemudian.

Papa: Bang, ini ada yang mau nanya.
Abang Mi Tektek: Ya, Mas?

Kahla bertahan dengan malunya. Dia masih mendorong ayahnya agar bertanya. Saya bersikukuh. Harus Kahla yang nanya. “Kahla yang nanya, Papa yang bayar.” Begitu alasan dan dorongan yang saya berikan.

Saya kembali memanggil si abang mi tektek yang masih sibuk merebus mi. Kali ini, dengan suara pelan, Kahla memberanikan diri bertanya, “Harganya berapa, Bang?”

Si abangnya menjawab, Rp 12.000 per bungkus.

“Jadi harga semuanya berapa, Kahla?” Saya melanjutkan percakapan. Dia menatap saya, lalu melihat ke atas sambil menemukan jawabannya.

“24 ribu, Pah.”

“Yup, betulll!”

Lalu saya letakkan uang Rp 50 ribu di tangannya. Nanti Abang Kahla yang bayar ya, pinta saya. Dia mengangguk.

“Kembaliannya nanti berapa?” Tanya saya lebih lanjut. Dia berpikir lagi, kemudian menjawab, 26 ribu Rupiah.

Setelah minya jadi, dia menyerahkan uang itu ke si penjual dan menerima uang kembalian. Kahla senang karena jumlah kembaliannya sama dengan jawabannya tadi.

Minimal, lewat dialog tadi, saya berhasil menemaninya belajar bersosialisasi dan berhitung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.