Setiap kali bertatap wajah dengan teman-teman yang sering berinteraksi dalam obrolan politik di dunia maya, saya kerap mendapatkan pertanyaan yang sama: Bang Isjet sebenarnya pilih siapa sih? Bahkan ada yang sengaja kopi darat untuk menanyakan langsung pertanyaan tersebut.

Lalu jawaban saya akan sama. Pilihan saya untuk Pemilu Serempak tanggal 17 April 2019, baik Pilpres 2019 maupun Pileg 2019, ada di bilik kotak suara yang dipasang panitia KPPS di TPS.

Saya merasa tidak perlu memberitahu apalagi mengajak orang lain memilih sesuai dengan yang saya pilih. Bahkan dengan istri pun tidak. Dia sudah punya pilihannya, dan pilihannya itu tidak berasal dari hasil obrolan dengan saya, karena faktanya kami jarang ngomongin politik di rumah. Obrolan seputar uang belanja, kondisi sekolah dan jadwal kondangan sudah cukup menyibukkan kita berdua.

“Trus tujuannya apa Bang Isjet sering nulis soal politik dan Pemilu 2019 pake tagar #MesinPolitik?”

“Saya ingin menguatkan pilihan teman-teman. Agar mereka yakin dengan pilihan mereka,” jawab saya sambil menyeruput kopi yang masih panas.

Setelah itu, giliran saya bertanya ke lawan bicara, siapa yang mereka pilih dan mengapa. Kenapa milih Jokowi? Kenapa nyoblos Prabowo?

Jawaban panjang-lebar pun mengalir deras. Semua uneg-uneg di kepala tumpah dalam obrolan tatap-wajah itu. Memang ngobrol langsung gini rasanya lebih lepas. Gak ada yang ikut nguping lalu tiba-tiba nimbrung di kolom komentar. Gak perlu takut kena UU ITE karena yang denger cuma dua pasang teling. Beda deh rasanya dengan ngobrol tatap-layar.

Tapi isi paparan dan argumennya sih sama dengan apa yang biasa saya temukan di sekian status, komentar dan artikel di internet. Soal kelebihan ataupun kekurangan paslon. 

Kadang saya memaklumi alasan yang disampaikan teman tanpa syarat. Sesekali saya mengkritisi apa yang dia utarakan. Kadang dia menerima argumentasi saya, tapi lebih sering dia mengambil sikap yang sama. Intinya, pilihannya tidak berubah, dan saya memang tidak sedang mencoba mengubah pilihannya.

Kemudian, karena dia sudah begitu telanjang di depan saya, dia ingin saya ikut telanjang. Gak asik dong, yang satu sudah blak-blakan, sementara satunya lagi masih tertutup rapi jali.

Meme ini ramai beredar awal Mei 2018.

Sekian pertanyaan ala investigator pun dilancarkan, menjurus langsung ke beberapa status yang menurutnya menjurus pada dukungan ke Jokowi atau Prabowo. Lebih banyaknya, harus diakui, konten buat Jokowi, positif dan negatifnya, lantaran dia berperan sebagai presiden dan sebagai calon presiden dalam satu waktu.

Yang pasti, siapapun yang memenangkan perebutan istana tahun ini, tidak masalah buat saya. Ingat, ini adalah Kompetisi Jokowi-Prabowo Sesi II. Lima tahun lalu, paslon yang diusung sama, partai utamanya juga sama. Yang berbeda cuma nomor urutnya. Dulu Prabowo 1, sekarang 2. Dulu Jokowi 2, sekarang 1.

Entah apa salah saya (dan kita semua) sampai harus hidup dengan dua pilpres yang sama begini.

Tapi, sekali lagi, apapun hasilnya, saya akan senang. Jokowi terpilih lagi, tidak masalah. Prabowo tidak terpilih lagi, tidak masalah. Jokowi meraih kemenangan kedua, bagus. Prabowo meraih kemenangan pertama, bagus.

Skor 2-0 oke. Skor 1-1 juga oke.

Dua Capres, Satu Warna, Nol Beban

Toh Jokowi dan Prabowo berasal dari dua partai yang sama-sama berwarna merah, punya ideologi nasionalis-religius yang sama, teknik propaganda yang dilancarkan oleh keduanya sama, dan juga sama-sama membutuhkan dan mendapatkan lalu mengeksploitasi dukungan umat Islam. 

Saya katakan bahwa fokus saya bukan pada dukungan tapi kebebasan terhadap apa yang mau saya komentari, tanggapi, kritisi, atau—katakanlah—nyinyiri. Sambil berharap teman-teman di medsos juga tergerak untuk menggunakan kebebasan yang sama.

Saya tegaskan bahwa, sampai detik ini, saya tidak pernah menjalin hubungan atau percakapan apalagi kerjasama dan perjanjian dengan orang-orang di balik Mesin Politik manapun, sekalipun saya punya sedikit teman di lingkaran paslon, mengenal mereka, punya nomor kontak mereka dan tahu posisi mereka di masing-masing kubu.

Karena saya tidak punya ikatan emosional, maka saya tidak punya beban untuk memenangkan atau mengalahkan salah satu capres. Saya punya kebebasan untuk mengapresiasi dan mengkritisi Jokowi, sebebas saya mengapresiasi dan mengkritisi Prabowo. Saya tidak punya tema atau batasan dalam konteks ini. Apapun isu yang muncul, selama saya mengetahui dan menyukainya, dan ingin mengomentarinya, maka jadilah tulisan singkat atau ulasan sekian paragraf.

Lalu lain waktu, teman lain bertanya, saya dapat apa dari obrolan politik ini. Pertanyaan ini tentu disampaikan oleh orang yang memahami dunia komunikasi digital. Atau orang media pers atau praktisi kehumasan.

Saya jawab secara lugas bahwa saya tidak sedang atau akan menjadi konsultan politik untuk capres atau caleg manapun, atau konsultan komunikasi untuk partai apapun. Karena kalau ada invoice yang saya kirim ke salah satu pihak yang berada dalam lingkaran Mesin Politik, saya tidak akan bisa bebas dan lepas saat ngomongin serunya pemilu 2019.

Ini juga bukan soal netralitas atau sikap apatis. Tapi soal motivasi dalam memberikan dukungan. Saya ingin agar setiap pendukung tahu persis siapa yang didukung dan mengapa dia memberikan dukungan itu kepadanya. Syukur-syukur dia bisa menjawab pertanyaan: apa untungnya buat saya?

Bukan soal keuntungan materi, tapi keuntungan dalam bentuk kebahagiaan, kebaikan, kedamaian dan sebagainya. Karena kalau keuntungan materi, kelar sudah. Anda percuma berdebat dengan pengurus partai atau caleg atau konsultan politik atau buzzer politik, karena mereka jelas-jelas akan mendapatkan keuntungan material dari kontes politik ini. Politik dan kehebohan di dalamnya adalah jualan buat mereka. Sementara orang di luar lingkaran Mesin Politik, belum tentu mendapatkan gaji, bayaran, komisi atau apapun namanya.

Jika Anda percaya Jokowi menguntungkan buat Anda, silakan pilih dia. Begitu juga sebaliknya, kalau Prabowo menguntungkan buat Anda silakan pilih dia. Tapi keuntungan itu harus terverifikasi, bukan sekedar keuntungan semu yang yang bersumber keyakinan dan informasi palsu.

Saya berharap, mereka yang menikmati konten saya, baik yang bernada positif ataupun negatif untuk kubu Jokowi maupun Prabowo, mau membuka diri untuk mendengarkan narasi dari kubu seberangnya. Agar keuntungan yang diangankan benar-benar keuntungan yang valid, bukan kaleng-kaleng.

Nah, berhubung bulan April sudah tiba, saya pikir sekarang waktu yang tepat untuk berhenti sejenak dari obrolan copras capres, obrolan seputar keunggulan dan kekurangan kontestan Pilpres 2019 aka Paslon 01 dan Paslon 02.

Tapi obrolan politik lainnya, apalagi terkait parpol, korupsi dan kejahatan politik, tetap akan saya sampaikan dengan tagar #MesinPolitik.

Mengapa berhenti ngomongin copras capres?

Pertama, karena suhu akan semakin panas, konten yang beredar akan tambah beringas. April akan membuat obrolan lebih tajam dan menjurus dan fokus pada upaya menyingkirkan paslon yang tidak diinginkan, dari sinilah emosi jadi semakin sulit dikendalikan. Di bulan ini, tidak ada lagi pendingin otak dan penenang hati. Semua akan memilih ikut memanaskan suasana atau memilih untuk diam–sambil meneguhkan pilihan dalam hati.

Kedua, sepanas dan semenarik apapun obrolan yang muncul, narasinya akan begitu-begitu saja. Argumen yang digunakan akan sama. Cacian yang digelontorkan akan serupa. Semua masih berkutat pada kata kunci hoaks, gagal, marah, islami, kafir, putih, hitam, sipil, militer, Jawa, non-Jawa, pancasialis, komunis, khalifah, radikal, penculik, anti-Islam.

Begitu terus. Terus begitu. Sampai hari pencoblosan tiba.

2 KOMENTAR

  1. Assalamualaikum mas, smoga masih ingat kan saya salah seorang kompasianer juga yg pernah ikut acara di Makassar, waktu itu dgn Mas Pepih Nugraha.

    Adem nih artikelnya, mengajak semua agar cooling down di bulan April

    Salam sukses selalu,

    Andi Zulkifli Nurdin (qflee)

    • Masih ingat dong, Mas Andi. Niat saya gitu, biar kita gak terlena oleh politik dan keasikan saling bakar.. 😀

      Salam sukses slalu mas..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.