Kemarin, banyak yang memberikan saya tautan film “Sexy Killers” berdurasi satu setengah jam. Film ini layak ditonton, tentang #MesinPolitik dan pencemaran lingkungan, begitu testimoni yang saya dapat.

Sebenarnya, di hari film ini dirilis di Youtube, 13 April 2019, saya sudah melihat tautannya di Twitter dan WhatsApp, tapi belum kepincut melirik filmnya. Judulnya seperti film drama percintaan plus pembunuhan, apalagi adegan pertama yang ditampilkan adalah adegan mesra sepasang kekasih di kamar hotel.

Tapi setelah dikaitkan dengan kisruh pemilu besok, saya pun meluangkan waktu menontonnya, dan setelah melewati menit-menit pertama, saya larut dalam film ini. Menikmati cerita sang narator yang melompat dari satu daerah ke daerah lain. Dari detik awal hingga detik akhir.

Dan benar saja. Ini bukan film drama apalagi film seksi. Ini adalah film dokumenter tentang eksplorasi tambang batu bara di banyak daerah, khususnya di Kalimantan Timur. Rekaman dokumentasinya dimulai dengan kedatangan tim film di pinggiran kota Samarinda, Oktober 2015, setelah berkeliling Indonesia sejak Januari 2015.

Film yang disutradarai oleh Dandhy Laksono dan Suparta Arz ini awalnya mengangkat dampak penggalian tambang batu bara yang berdekatan dengan areal permukiman. Mulai dari penyakit kanker pada bagian pernafasan, penggusuran banyak rumah, banyaknya warga yang pindah ke daerah lain, sampai banyaknya warga yang meninggal dunia akibat tenggelam di kolam bekas galian yang wujudnya seperti danau (baca: kubangan raksasa) yang menganga di banyak titik di Kalimantan Timur.

Dari tahun 2014 sampai 2018, kata narator film, 115 nyawa melayang karena tenggelam di bekas galian tambang di Indonesia yang harusnya ditutup kembali atau direklamasi oleh penambang. Total ada 3.500 lubang yang dibiarkan begitu saja.

115 nyawa melayang karena tenggelam di bekas galian tambang. Banyak bagian cerita yang bikin saya miris dan geram.

Beberapa warga yang terdampak menjadi tokoh utama di film ini, mengawali dan mengakhiri rangkaian cerita, lengkap dengan masa lalu dan penderitaan yang sedang mereka hadapi akibat tambang. Banyak bagian cerita yang bikin saya miris, geram, sambil ngurut dada.

Setelah itu, dokumentasi beralih ke salah satu sektor hilir dari bisnis tambang ini, yaitu pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap yang banyak didirikan di era kepemimpinan Jokowi dalam rangka mengejar target 35 ribu megawatt. Plus dampaknya terhadap lingkungan dan manusia sekitar.

Tapi saya melihat terlalu banyak pesan yang ingin disampaikan di dalamnya. Spektrumnya jadi sedemikian luas. Sehingga setiap pasang mata akan menangkapnya dengan sudut pandang yang berbeda—dan kepentingan yang beragam.

Yang disorot berikutnya bukan lagi solusi menyeluruh dalam mengatasi dampak terhadap manusia dan lingkungan hidup, tapi beralih ke pemilik modal, pemilik perusahaan dan orang-orang super kaya yang ada di bisnis tambang batu bara hingga pembangkit listrik. Narasi yang dibangun: merekalah yang bertanggungjawab atas ini semua, dan dari sini saya baru memahami arti diksi “sexy killers” atau “pembunuh seksi” yang dipilih WatchDoc sebagai judul film. Merujuk ke bisnisnya atau pemilik bisnisnya.

Salah satu bagian yang cukup menghentak adalah hitung-hitungan bisnis membuat listrik dengan bahan baku batu bara yang di film ini diceritakan sangat murah. Kenapa bisa murah? Karena dampak yang dialami oleh lingkungan dan manusia di sekililingnya dibebankan kepada mereka, kata sang narator.

Sorotan terhadap para pebisnis berlanjut hingga ke bagian akhir film. Semua nama pebisnis tambang yang jadi politisi atau yang berafiliasi dengan penguasa, diabsen satu per satu, lengkap dengan bagan yang menggambarkan hubungan tiap-tiap individu. Termasuk capres dan cawapres yang berlaga di pemilu besok.

Yang membuat saya berpikir keras adalah: mengapa film ini mengelompokkan nama-nama itu dalam dua kubu Tim Kampanye Nasional (TKN) dan Badan Pemenangan Nasional (BPN)? Bahkan di film tersebut nama Ma’ruf Amin juga disebut, padahal Pakyai tidak ada kaitannya dengan bisnis tambang ataupun pembangkit listrik.

Buat saya, bagian tersebut tidak akurat dan mengada-ada. Bagian lain yang juga terkesan dipaksakan adalah keterlibatan Jokowi dan keluarganya.

Pembuat film menyoroti Cawapres 01 ini dari saham-saham syariah yang ‘dijual’ oleh banyak perusahaan tambang besar di Indonesia, dan ‘lembaga yang menentukan perusahaan-perusahaan tambang berstatus syariah ini adalah Dewan Syariah Nasional yang dibentuk oleh Majelis Ulama Indonesia atau MUI,” tutur narator film. Di situlah Ma’ruf berperan, karena dia adalah Ketua Umum MUI.

Buat saya, bagian tersebut tidak akurat dan mengada-ada. Bagian lain yang juga terkesan dipaksakan adalah keterlibatan Jokowi dan keluarganya. Bahkan wajah kedua putranya, Kaesang dan Gibran, dipampang di layar. Selain karena jenis usahanya yang bermacam-macam, mereka dianggap memiliki bisnis yang juga terkait dengan tambang, karena ada Menteri Luhut di dalamnya. Buat saya, ini jauh panggang dari api.

Di bagian inilah pertanyaan di judul artikel saya munculkan. Apa maumu, “Sexy Killers”? Sebenarnya apa visi dan obyektif dari film ini. Saya belum menemukan tendensinya. Apakah film ini memang menyasar TKN dan Capres 01 seperti tertulis dalam artikel yang menyebar di WA yang konon ditulis oleh Daniel Ginting? Boleh jadi bukan itu, karena banyak juga tokoh di BPN yang diungkap.

Lagi pula, kalau target akhirnya adalah pemilu, momen yang dimiliki film ini sangat pendek, tidak sampai satu minggu untuk bisa mempengaruhi opini publik di Hari Pencoblosan. Setelah pemilu besok, praktis pertempuran TKN dan BPN mereda, menuju hari penetapan pemenang. Para politisi kelas atas merangkap pebisnis kelas kakap memang akan terus berkuasa atas tanah dan air kita, tapi kubu TKN dan BPN akan segera bubar. 

Praktis, dengan narasi kiprah #MesinPolitik capres 2019 di dalamnya, film ini hanya memiliki usia empat hari saja. Setidaknya itu yang terlihat dari plot film.

Saya kemudian penasaran dan ingin berbincang dengan pembuat film ini, khususnya sosok Dandhy Dwi Laksono, alumni Unpad yang pernah bekerja di Tempo sebelum akhirnya mendirikan WatchDoc.

Penasaran saya muncul karena, pertama, film ini bagus. Diproduksi dalam rentang waktu yang tidak singkat, dilengkapi dengan banyak fakta dan data padat. Jalinan cerita dan narasinya, musik latarnya, dan transisi antaradegan, semua sukses menahan mata saya nonton sampai akhir. Pesannya dikemas dengan alur yang teratur dan terukur.

“Sexy Killers” sangat layak diapresiasi dan ditanggapi oleh banyak kalangan. Berhari-hari ke depan.

Kedua, saya penasaran karena belum menemukan satu visi kuat yang menjadi alasan utama dan pertama dari pembuatan film. Ingin menghentikan tambang batu bara dan pembangkit listrik, ingin menghentikan pelanggaran dan pengrusakan lingkungan, ingin menyerang kontestan pemilu, atau ingin menggugat kemapanan sistem demokrasi yang diwujudkan dalam pemilu serempak?

Saya lalu menerka-nerka, film ini dibuat dengan satu rencana matang, lalu di ujung jalan diputuskan untuk riding the moment, mengikuti kehebohan kontestasi pemilu di tahun politik, yang kebetulan melibatkan banyak pebisnis tambang batu bara, baik sebagai kontestan ataupun pengarah gaya ataupun tim hore semata.

Ketiga, penasaran karena beberapa kesimpulan dan logika yang dibangun di dalamnya sangat layak untuk diperbincangkan, diperdebatkan atau dipertanyakan. Dan tentunya ini membutuhkan forum yang lebih serius dan akan melibatkan beberapa pihak terkait.

Akan sangat wajar jika di kemudian hari ada yang menyebutnya sebagai opini berbalut film dokumenter, bahkan akan muncul tudingan bahwa analisa pembuat film keliru dan sesat. Itu sah-sah saja, asalkan tidak ada pemberangusan ide dengan cara penghapusan paksa film dari Youtube atau pembubaran paksa nonton bareng seperti terjadi di Indramayu, dua hari sebelum penayangannya di Youtube. 

Seperti diberitakan Tirto, acara nonton bareng “Sexy Killers” yang digelar Kamis (11/4) lalu dihentikan paksa oleh pihak yang menyebut dirinya Panwaslu. Alasannya: menjaga ketertiban menjelang pemilu. Acara nonton bareng warga itu digelar Greenpeace Indonesia di 476 tempat, dan baru dibubarkan sekali di Indramayu.

Lewat banyak filmnya, Dandhy memang kerap mengkritik kemapanan yang berimbas pada ketidakadilan di negeri ini. Untuk membuat film ini, dia berkeliling ke banyak daerah dengan sepeda motor. Agar dapat melihat dari dekat apa yang sedang terjadi di tanah air.

Terus-terang saya tidak mengenal sosok Dandhy dan baru bertemu dengan produknya yang seksi ini. Kalau ada waktu kopi darat, saya akan tanyakan lagi, “Apa maumu, ‘Sexy Killers’?”

3 KOMENTAR

  1. Bermasalah dengan KEGIATAN PROMO film itu dengan melakukan kegiatan2 Nobar yang ditunggangi kepentingan golput.
    Film nya bagus2 ajah, dan cukup oke sebagai referensi advokasi bagi mereka yang membutuhkan.
    Cuman ya karena ditunggangin itu jadinya ngga asik.
    Suka nuduh orang lain eksploitasi rakyat namun pada kenyataanya juga
    mereka sendiri mengeksploitasi masyarakat untuk kepentingan mereka.
    Ya sama2 brengsek.
    Ngga anti golput sih saya, silahkan aja. Asal untuk diri loe Pribadi aja. That’s it.
    Tapi kalo urusannya sampai disebar-sebarin itu paham ya harus dikerasin kayanya.
    Pemilu adalah Pilar Demokrasi dan negara kita adalah negara demokrasi.
    Mau membuat rapuh negara kita dengan menggerogoti salah satu pilarnya, itu
    maumu yang terselubung Sexy Killers ??

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.