Satu hal yang saya jadikan catatan untuk para santri Gontor di musim liburan adalah, bagaimana liburan dapat menurunkan semangat belajar santri ke titik 0.

Sejatinya, liburan dirancang sebagai penyemangat dan titik balik bagi santri yang selama enam bulan sebelumnya berkutat dalam iklim pendidikan dan pembelajaran selama 24 jam nonstop.

Saat pulang ke rumah selama 10 atau 50 hari, santri dilatih untuk mengamalkan pendidikan dan pembelajaran yang dienyam selama berada di luar lingkungan pondok.Dia dilatih untuk tetap shalat wajib tepat waktu, dan sebisa mungkin berjamaah di masjid, tanpa pengawasan pengurus rayon atau dorongan Bagian Keamanan.

Dia diharapkan dapat mengamalkan kesantunan dan kedisiplinan saat berada di rumah. Dia dianjurkan untuk menunjukkan kinerjanya sebagai anak yang rajin dan berbakti kepada kedua orang tua.

Tapi faktanya, tidak sedikit yang gagal dalam ujian ini. Karena saat tiba di rumah, si santri langsung berlibur dalam arti membebaskan diri dari kebiasaannya selama di pondok. Kesibukannya langsung diganti dengan istirahat. Istirahat dalam arti yang sebenar-benarnya. Tidur sepuasnya. Beraktifitas sesukanya. Tanpa rencana. Tanpa tujuan.

Lalu saat kembali ke pondok, semangatnya dimulai dari 0. Pendidikan karakternya dimulai lagi dari awal. Tidak ada peningkatan tapi cenderung stagnan.

Salah satu faktor pendorongnya adalah sikap kita sebagai orang tua yang mendukung anak kita untuk beristirahat. Sangat manusiawi ketika orang tua melonggarkan anaknya untuk bermain ponsel, toh dia sudah puasa dari dunia digital selama 6 bulan lamanya. Juga sangat wajar ketika orang tua membiarkannya berlama-lama terlelap di atas kasur, toh selama di pondok dia kurang tidur lantaran padatnya kegiatan.

Tapi sebenarnya, si anak membutuhkan orang tuanya sebagai seorang mentor untuk dirinya selama liburan. Orang tua tidak perlu berperan sebagai pengurus rayon atau bagian keamanan atau bagian pengajaran. Tidak perlu itu. Karena struktur kedisiplinan itu cukup ada di lingkungan pondok. Yang dibutuhkan anak adalah pendamping dalam melatih dirinya agar benar-benar mandiri dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Bertanggung jawab atas kewajibannya. Minimal sebagai seorang muslim.

Maka tidak ada salahnya jika orang tua menjadi pendamping dan pengingat selama di rumah.

Caranya:

  1. Simak dan dengarkan apa yang menjadi kebiasaan anak selama nyantri di pondok.
  2. Berikan apresiasi atas setiap prestasi yang dia dapat atau kegiatan baik yang dia kerjakan selama di pondok.
  3. Ingatkan dia agar kebaikan-kebaikan selama di pondok itu tetap dia kerjakan saat berada di rumah.

Akan lebih bagus jika orang tua sudah punya beberapa kegiatan yang dapat membebaskannya dari mager di kamar atau bermalas-malasan di depan layar. Misalnya dengan mengajaknya jalan-jalan atau mengajaknya bertemu klien di sebuah tempat.

Nonton di bioskop bersama atau sekedar makan malam di luar rumah tentu lebih baik daripada dia berdiam diri di rumah tanpa kegiatan, bukan.

Jika memungkinkan, berikan dia pekerjaan rutin, misalnya menyapu setiap sore atau memanaskan mobil setiap pagi. Beri dia tanggung jawab, misalnya menemani adiknya mengerjakan PR matematika.

Tapi tentu kita tidak sedang ingin membebaninya dengan tugas-tugas yang membuat kesempatannya untuk bersantai jadi hilang sama sekali. Niat orang tua adalah, agar semangat belajarnya sebagai santri tidak luntur karena liburan.

Semoga catatan ringan ini bermanfaat buat kita semua.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.