Keinget waktu pagi2 cek stage, lighting dan sound sama @mjuliatrinca sama Roadshow Manager-nya Seventeen, Mas @oki_wijaya. Kita cerita-cerita dan Mas Oki bilang, “Aku pengen pulang cepet, Mas, jam 10 malamlah udah pulang, soalnya capek seminggu roadshow terus.” Ya Allah…. Kok ya jam 21.27 musibahnya dan kalian berdua jadi korbannya 🙁

Kenangan penuh duka itu ditulis Rendyka Dio Siswanto, Project Event Coordinator dari Data Group, di Instastory. Data Group adalah event organizer yang menangani kegiatan “Employee Gathering 2018 PLN Unit Induk Transmisi (UIT) Jawa Bagian Barat” di Tanjung Lesung Beach Resort, Banten. Acara yang digelar dari tanggal 21 Desember itu sedianya berakhir tanggal 23 Desember.

Obrolan antara Rendy dan Oki berlangsung pagi hari, 22 Desember 2018, sekitar jam 9 lewat. Di tepi pantai dan lapangan terbuka resort, para karyawan dan keluarga PLN UIT Jawa Bagian Barat sedang bermain bersama sampai waktu makan siang tiba. Suasana keakraban dan kekeluargaan menyelimuti acara yang dihadiri oleh sekitar 260 orang itu.

panggung tsunami anyer seventeen pln tanjung lesung
Suasana persiapan di panggung Employee Gathering 2018 PLN UIT Jawa Bagian Barat, Tanjung Lesung. (foto: IG @unikinfo_)

Sore harinya, sekitar jam 5, Rendy mengumpulkan semua panitia di area panggung utama untuk briefing dan bercengkerama sampai matahari terbenam. Panitia yang terdiri dari anak-anak muda itu ngobrol sambil foto-foto dengan latar gunung Anak Krakatau.

Saat itu mereka tidak sadar bahwa asap yang berasal dari anak gunung Krakatu itu adalah hasil erupsi. Juga tidak ada tanda-tanda yang membuat mereka khawatir. Rangkaian acara dari malam sampai esok pagi dibicarakan lagi detilnya. Ombak yang datang silih-berganti seakan ikut dalam obrolan panitia sore itu.

Tapi manusia merencanakan, Tuhan yang menentukan. Rancangan kegiatan panitia dan keinginan Oki Seventeen pulang malam itu tidak terwujud. Tsunami tiba-tiba menggulung panggung, persis ketika band Seventeen menghibur para peserta “Employee Gathering 2018”.

Rendy masih ingat betul detik-detik saat air laut menyapu lokasi acara dalam sekejap. Ketika saya hubungi untuk cerita ini, dia sudah berada di kampung halamannya, membawa kenangan penuh duka dan kesedihan mendalam setelah kehilangan banyak orang yang dia sayangi.

Salah satu kenangan yang tidak bisa dia lupakan adalah saat Ifan Seventeen memperkenalkan anggota grupnya. Rendy yang waktu itu berdiri persis di depan panggung kaget melihat rigging setinggi lima meter tiba-tiba rubuh. “Aku kira ringging-nya ga kuat nahan beban,” ungkapnya.

Perkiraan gelombang akibat reruntuhan gunung Anak Krakatau seperti dirilis dalam Penelitian tahun 2012.

Tapi sejurus kemudian, air laut datang menerjang. Pria yang tidak bisa berenang ini ikut hanyut bersama para karyawan dan keluarga PLN lainnya. “Hal terakhir yang aku ingat, aku melihat Ifan Seventeen terjatuh dari panggung dan aku langsung tenggelam,” kenang Rendy.

Waktu itu dia tidak merasakan gempa sedikit pun. Rigging penyangga panggung itu pun rubuh tanpa sebab. Belum sempat berpikir apa yang sedang terjadi, panggung yang letaknya hanya tiga meter dari bibir pantai sudah raib. Rendy kemudian membalikkan badan, menarik napas dalam-dalam, dan merelakan laut menelan badannya.

Aku kira ini mimpi, hingga akhirnya aku berusaha bernapas dan mata tetap melek.

avatar

Rendy

Penyintas Tsunami

Tak lama kemudian, dia melihat sebuah kotak mengambang di dekatnya. Tangannya refleks berusaha meraih kotak tersebut, tapi sayang ombak besar kedua menerpa tubuhnya, menjauhkannya dari pegangan hidup.

Seketika itu pria asal Surabaya ini nyaris pasrah. Dia mengaku sudah tidak kuat menahan napas. Matanya juga tidak mampu lagi menahan perihnya air laut. “Ya Allah, maafin aku udah banyak dosa,” lirihnya dalam hati.

Tapi saat dia mulai putus asa, gelombang air ketiga mendorong tubuhnya ke tembok sebuah restoran yang masih kokoh berdiri. Dia lalu berusaha bangkit dan menahan diri agar tidak ditarik ombak ke lautan.

Reruntuhan panggung acara Employee Gathering 2018 PLN UIT Jawa Bagian Barat. Saat tsunami menerjang, band Seventeen sedang pentas. (detik.com)

Setelah berhasil mengatur napas, Rendy mencoba menolong dua sahabatnya, Mikla dan Dinda, yang saat itu berada di sebelahnya. “Kami semua histeris, nyebut-nyebut nama Allah terus, teriak-teriak memanggil teman-teman kita,” ungkapnya.

Ketika itu, yang ditakutkan Rendy dan teman-temannya adalah kedatangan tsunami kedua yang bisa jadi lebih dahsyat dari sebelumnya. Akhirnya mereka ditolong oleh seorang barista cafe yang sengaja mereka datangkan ke Tanjung Lesung untuk ikut mensukseskan jalannya acara malam itu.

Sedikitnya ada lima orang yang selamat bersama Rendy. Mereka kemudian berjalan ke depan lobi hotel, tapi tidak bisa melihat apa-apa. Lampu mati total. Suasana mencekam. Dari situ, para penyintas ini bergegas menuju tempat parkiran dengan harapan bertemu kendaraan yang bisa membawa mereka meninggalkan kawasan pantai.

Rendy dan teman-teman beruntung bertemu dengan sebuah mobil Avanza yang sedang mengevakuasi para korban. Mobil itu memuat 10 orang dewasa dan tiga orang anak kecil, lalu tancap gas menuju Puskesmas Cigelis yang berada di dataran tinggi. Semua berlangsung cepat dan menegangkan.

Rendi melihat jarum jam menunjukkan pukul 11 malam lewat saat dia tiba di puskesmas. Mereka termasuk rombongan korban tsunami pertama yang dievakuasi. Setelah mendapat perawatan dan pengobatan, mereka ditawari menginap di rumah warga untuk beristirahat sampai pagi tiba.

Dalam musibah ini, Rendy kehilangan dua orang sahabat, Aik dan Tya, yang bergabung dalam kepanitiaan. Sementara itu, PT PLN (Persero) mencatat total 29 orang anggota rombongan “Employee Gathering 2018” meninggal dunia dalam musibah tersebut.

Para korban akan mendapat santunan dan kompensasi dari perusahaan karena acara tersebut merupakan bagian dari pekerjaan.

Executive Vice President Corporate Communication and CSR I Made Suprateka mengatakan, kegiatan tersebut dilaksanakan untuk evaluasi kerja karyawan selama satu tahun terakhir. Namun dia belum memastikan berapa nilai kompensasi yang akan diterima korban.

“Tujuannya adalah melakukan evaluasi kerja setahun yang lalu. (Acaranya) didahului dengan ice breaking. Mungkin ada gesekan-gesekan sebelumnya yang dirasakan, maka mereka mengevaluasi kinerja selama setahun ke belakang sehingga dapat optimis di tahun 2019,” ujarnya seperti dikutip Detik.com.

Saya benar-benar merasakan duka karena banyak teman-teman PLN dan keluarga yang menjadi korban. Semoga Allah swt menempatkan kalian di tempat yang paling mulia. Yang sabar ya, Ren. Makasih buat ceritanya….

6 KOMENTAR

  1. Perjalanan hidup manusia tidak ada yang bisa menebak mas is, semua menjadi hikmah untuk kita yang masih hidup. Untuk terus berbuat kebaikan sampai kapanpun, mengedepankan silaturahmi, karena kita tidak tahu umur kita sampai kapan ya mas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.