Teror untuk Novel Baswedan, Teror untuk Kita

Duka dan doa untuk Penyidik KPK Novel Baswedan yang ba’da Subuh tadi disiram air keras oleh teroris pengecut yang belum dikenali identitas dan motifnya.

Inilah sosok penting di KPK yang beberapa waktu lalu dapat SP2 dari pimpinannya karena dianggap bikin kisruh antara Penyidik Polisi vs Penyidiķ Non Polisi.

Dalam surat peringatan yang belakangan dicabut itu disebutkan, kalau Novel melakukan kesalahan yang sama, dia akan dipecat!

Teror biadab ini bukan yang pertama, mungkin juga bukan yang terakhir. Banyak orang ingin menghabisi nyawanya. Berharap aksi sepupu Anies Baswedan itu kelar begitu dia modar.

Dua kali hidup Novel diburu dengan cara tabrak lari. Yang satu ‘cuma’ menimbulkan luka pada tubuhnya, satunya lagi salah sasaran: Yang ditabrak oleh peneror KPK ternyata temannya Novel sesama penyidik yang punya postur tubuh sama.

Ketua Tim Penyidik Mega Korupsi eKTP ini juga pernah dipidanakan atas kasus meninggalnya tahanan tahun 2004 saat dia baru empat hari menjabat Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota Bengkulu.

Tanggal 1 Juni 2015, dia diciduk oleh Bareskrim Polri dengan tuduhan ikut bertanggungjawab atas tewasnya pencuri sarang burung walet yang dianiaya anak buahnya. Tanggal 22 Februari 2016, kasusnya ditutup karena kejaksaan tidak bisa menemukan bukti, dan kasusnya kedaluwarsa per 18 November 2015.

Mustinya penyidik kasus korupsi simulator SIM di Kepolisian ini menjadi aset yang mendapat perlindungan ekstra dari KPK.

Dia yang berdedikasi tinggi terhadap pemberantasan korupsi juga layak diberi amanah memimpin pemberantasan korupsi dan menyapu bersih perilaku korup di kalangan aparat penegak hukum.

Kita pasti bertanya kok bisa ada orang yang berani mati buat menghancurkan para koruptor, padahal kalau korupsi dah gak ada gak otomatis bikin dia kaya.

Anies Baswedan pun pernah menanyakan hal itu ke sepupunya. Apa sih yang bikin lu segitu beraninya sampai-sampai keluar dari kepolisian, trus tetap gak kenal kompromi setelah sekian teror datang pergi?

“Bang, saya ini pernah tugas ada kontak senjata pas masih di polisi dulu. Pelurunya itu mengenai rambut saya. Kalau saat itu saya naik dua sentimeter saja, sudah kena di dahi dan meninggal. Jadi hidup saya ini tambahan. Hidup tambahan ini mau saya gunakan untuk memberantas korupsi, itu saja,” jawab Novel seperti ditirukan Anies kepada Liputan6.com.

Mari kita berdoa semoga Bung Novel lekas sembuh dan bisa kembali ngantor di KPK yang rawan teror itu. Kita doakan juga semua dia diberi kemudahan dalam memberantas koruptor-koruptor pelahap uang negara kita.

Hanya doa yang bisa kita panjatkan. Karena teror terhadap pemberantas korupsi adalah juga teror terhadap kita semua.

#SayaNovelBaswedan

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar Anda!
Masukkan nama Anda di sini