Pada sebuah negeri
Yang sedang ditarik ke kanan ke kiri
Hidup berdampingan dua anak pertiwi
Yang duduk di kanan dan di kiri

Mereka curiga kiri rawan
Saat mereka curiga kanan riskan
Mereka sinis konde beredar
Saat mereka risi melihat cadar
Mereka enggan mendengar azan
Saat mereka gundah mendengar nyanyian

Nak, mengapa kau berkelahi
Kalian lahir dari rahimku sendiri
Kulitmu indah berwarna-warni
Tak ada yang sama itu kodrat Ilahi

Kalian bersuara jangan mencela
Boleh memuji tak usah mencaci
Bebas berkeyakinan asal tetap berdampingan
Saling mengingatkan bukan menghancurkan

Maka balaslah puisi dengan puisi
Tak perlu kau lapor polisi
Dua kali dia mengakui
Bodohnya aku soal agamaku sendiri

Rangkul dia jangan kau caci
Doakan dia selembut pertiwi
Karena uzur hanya sekian senti
Dari hadapan ilahi rabbi

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar Anda!
Masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.