Serunya Berbagi Inspirasi di ‘Saksi TVRI Jateng’

“Ustadz Iskandar, nanti setelah ngisi pelatihan, ada teman-teman dari TVRI minta waktu antum untuk wawancara,” bisik Pimpinan Yayasan Wakaf Literasi Indonesia (WALI), KH Anis Maftuhin.

Siang itu, awal Ramadan lalu, saya sedang menunggu giliran mengisi pelatihan media sosial di acara ‘Ngaji Akbar Jurnalistik’ yang berlokasi di Masjid Arrohim, Candi Soba, Salatiga. Di dalam masjid, sohib saya, Redaktur Pelaksana Kontan Umar Idris, sedang berbagi ilmu jurnalistik dan menulis berita di hadapan 200 lebih peserta yang berasal dari kalangan mahasiswa di Salatiga dan masyarakat setempat.

“Siap, Pak Anis,” jawab saya, singkat.

Dalam hati, saya mengagumi keseriusan tuan rumah sekaligus sobat saya itu. Tidak hanya menggagas acara pelatihan, Pak Anis juga memikirkan publikasi kegiatan tersebut. Dalam benak saya, paling hanya butuh waktu satu dua menit untuk wawancara seputar kegiatan yang dihelat sejak minggu pertama Ramadan.

Ngaji Jurnalistik, demikian Anis Maftuhin, diadakan dalam rangka menggali bakat jurnalistik dan literasi mahasiswa dan masyarakat sekitar, sekaligus dalam rangka membina kader-kader WALI yang nantinya akan menjadi ujung tombak bagi literasi keislaman yang berpusat di Salatiga.

Pelatihan tersebut menghadirkan beberapa tokoh penting seperti Tokoh Muhammadiyah Din Syamsuddin, wartawan Kompas Imam Prihadiyoko dan novelis Habiburrahman El-Shirazy.

Setelah sesi Umar Idris selesai, giliran saya membakar semangat para peserta agar memanfaatkan gegap-gempita bermedsos yang sedang melanda generasi Y dengan aktivitas yang produktif dan konten yang positif. Antara lain lewat karya tulis yang bebas mereka pos di media terbuka seperti Kompasiana. Tak lupa, saya berikan kiat menulis cepat, menarik dan bermanfaat di dunia maya.

Usai pelatihan, saya langsung digiring ke salah satu rumah warga di depan masjid. Di sana, para kru baru selesai mewawancarai Habiburrahman. Tiga kamera tersebar di beberapa sudut ruang tamu termasuk di dekat pintu masuk. Empat orang mahasiswa berjaket biru sigap menjalankan tugas masing-masing, termasuk menyiapkan saya untuk sesi wawancara berikutnya.

Ternyata, ini bukan wawancara biasa. Saya diminta menjadi narasumber untuk program TVRI Jawa Tengah Saksi (Satu Kamera Sejuta Inspirasi) yang tayang setiap hari Ahad (minggu kedua dan keempat).

Sebelum taping dimulai, Mas Rifqi Aulia Erlangga dari TVRI Jateng menjelaskan program yang dia produseri dan tangani langsung ini.

“Ini proyek nonprofit kita, Mas Isjet. Makanya saya melibatkan teman-teman mahasiswa, sekalian buat mereka belajar broadcasting juga,” tuturnya.

Program 30 menit yang ditayangkan di TVRI Jawa Tengah mulai pukul 15.30 wib itu bertujuan menginspirasi masyarakat lewat obrolan-obrolan ringan bersama para tokoh yang dinilai mampu membangkitkan semangat orang lain agar pantang menyerah dan menjadi orang baik dan bermanfaat untuk banyak orang.

Beberapa tokoh nasional yang sudah ambil bagian dalam program nonprofit ini di antaranya Dahlan Iskan, Mahfudz MD, Quraish Shihab, Sujiwotedjo, Emha Ainun Nadjib dan Habiburahman El Shyrazy.

Di setiap pengambilan gambar, Rifqi dibantu oleh lima orang mahasiswa IAIN Salatiga, yaitu Teguh Prasojo, Bagus Saputro, Miftakhul Huda dan Adityo Hernawan (Komunikasi & Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah), serta Novia Fajar Masytoh dari jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Tarbiyah. “Kebetulan waktu taping tempo hari Bagus tidak ikut, Mas,” jelas Rifqi, Senin (4/7) pagi.

Tidak hanya membantu produksi program Saksi, teman-teman mahasiswa ini juga merintis program tersendiri di saluran IAIN Salatiga TV yang ditayangkan di Youtube.

Saksi Bersama Isjet, lanjut Rifqi, akan ditayangkan usai musim Lebaran, tanggal 24 Juli 2014. “Rencananya tanggal 10 itu Mas Saptuari Sugiharto, pengusaha anti riba dari Jogja. Tanggal 24 Mas Isjet, insya Allah,” imbuhnya.

Tapi, karena semangat dari program ini adalah untuk menyebar inspirasi ke banyak orang, sebelum disiarkan di TVRI Jateng, siaran ini dirilis terlebih dahulu di Youtube—agar bebas ditonton oleh siapapun yang punya akses internet.

Meskipun suara sudah serak-serak kering karena sebelumnya bersemangat mengisi pelatihan, saya antusias menyambut program inspiratif ini. Kebetulan di rumah yang disulap jadi studio dadakan itu sedang berlangsung pengajian rutin. Jadilah riuh-rendah suara anak-anak mengaji melengkapi suasana syuting, menandai berkah Ramadan yang hari itu diisi dengan kegiatan bermanfaat di komplek Yayasan WALI.

Nah, tanpa berpanjang kata, saya persilakan para sobat untuk menikmati tayangan berikut. Tayangan 30 menit versi Youtube ini dibagi ke dalam dua bagian: Bagian pertama bercerita seputar Kompasiana sebagai media warga untuk semua orang. Bagian kedua berbicara seputar semangat dan kiat menulis di media sosial.

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar Anda!
Masukkan nama Anda di sini