Serba Kilat di Lajur Cepat Rombongan Presiden (#KunkerPresiden 6)

Kegiatan serba cepat presiden selama di Kupang

Tujuh potong semangka berjajar manis di atas piring ukuran sedang. Rasanya pun manis, saya sudah makan satu, sekian belas menit lalu. Tapi baru saja garpu di tangan bergerak mengambil potongan kedua, pasukan berseragam batik merah yang menyebar di banyak sofa berhamburan meninggalkan ruang makan.

“Ayo, cepat, cepat!!”

Itu saja teriakan yang saya dengar. Selebihnya adalah suara deru sepatu bantopel Paspampres yang berbelarian tunggang-langgang meninggalkan apapun yang belum mereka tuntaskan di waktu makan siang.Beberapa menggenggam HT, sementara yang lain menjinjing tas hitam beragam ukuran.

Saya melirik jam di ponsel. Sudah hampir jam tiga.

Rombongan Presiden Jokowi memang harus segera bergerak ke lokasi Perayaan Natal Nasional 2015 yang acaranya akan dimulai tepat pukul tiga sore waktu setempat. Tak lama setelah para Paspampres itu silam, saya dan rekan-rekan wartawan dapat komando yang sama.

“Ayo, cepat, cepat!!”

Sekelebat saya beranjak dari meja makan, meletakkan garpu—dan melupakan kacamata hitam yang teronggok di sudut meja (hilang deh, ya sudahlah…).

Teman-teman wartawan lain juga berhamburan menuju tumpukan tas ransel, tripod kamera dan barang-barang berat lain yang dikumpulkan di dekat pintu masuk restoran Hotel Sotis, Kupang. Mengambilnya lekas-lekas, lalu melesat ke lobi.

Sirene berbunyi. Suara mesin kendaraan bersahutan. Vooridjer memimpin di depan. Iring-iringan melaju cepat. Semua persimpangan diblokir.

Begitu tiba di depan areal resepsionis hotel, saya sempat mengabadikan Presiden Jokowi yang sedang melayani sesi foto bersama beberapa kelompok relawan dan, tak ketinggalan, pihak manajemen hotel.

Untunglah ada yang mencegat laju presiden, sehingga saya bisa berada di kendaraan sebelum presiden. Sebelum ‘acara tambahan’ itu berakhir, saya sudah bergegas menuju mobil wartawan.

Di depan hotel, mobil-mobil rombongan sudah stand by. Berjajar rapi jali di sepanjang jalan, sementara Mercedes Bens RI1 parkir manis di depan pintu lobi hotel. Saat hendak turun ke jalan raya, beberapa teman wartawan terpeleset karena jalan licin usai diguyur hujan. Untung kamera besar yang dibawa tidak sampai rusak. Dan semua berlangsung sekelebatan, seiring mulai bergeraknya mobil-mobil rombongan.

Sirene berbunyi. Suara mesin kendaraan bersahutan. Vooridjer memimpin di depan. Iring-iringan melaju cepat. Semua persimpangan diblokir. Kendaraan sipil mengantri menunggu rombongan lewat. Polisi berjaga-jaga di sepanjang jalan. Masyarakat berkumpul di beberapa titik meneriakkan nama presiden. Pasukan siap tempur yang berboncengan di atas motor gede tak mau kalah cepat, bermanuver lincah di sisi kiri dan kanan. Dan tak lama kemudian, rombongan sudah tiba di tempat tujuan.

Dengan cepat dan selamat.

Hampir Terputus

Boleh dibilang, Senin (28/12) sore itu, saya mulai terbiasa dengan pergerakan serba cepat Rombongan RI1. Ini adalah hari terakhir kunjungan presiden Jokowi ke NTT dengan agenda terakhir perayaan Natal Nasional 2015—sebagaimana tertulis dalam rilis yang disebarkan Biro Pers Istana ke anggota rombongan yang terdiri dari wartawan dan blogger.

Sepanjang perjalanan menuju lokasi Natal Nasional, sempat beredar kabar presiden akan mampir dulu ke lokasi bakti sosial di SMUN 1 Kupang yang diadakan oleh relawan Bara JP. Tapi rencana sisipan itu ditunda karena sebentar lagi jam tiga. Rombongan langsung menuju Halaman Rumah Jabatan Gubernur NTT—lokasi Natal Nasional.

Langkah serba cepat ini saya rasakan pertama kali sesaat presiden menginjakkan kaki di Terminal VIP, Bandara El Tari, sehari sebelumnya (Minggu, 27 Desember 2015). Tak lama setelah rombongan berada di dalam terminal, saya dan Mas Gapey, dua Kompasianer yang mendapat kesempatan pertama meliput kegiatan presiden ke daerah, sudah harus bergerak cepat menuju mobil wartawan yang posisinya berada di urutan paling buncit iring-iringan kendaraan.

Setelah presiden siap di dalam mobilnya, rombongan langsung melaju ke lokasi peresmian Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Oelpuah, Kupang Tengah, yang berjarak 15 kilometer dari bandara.

Saat mau keluar bandara, sebuah mobil polisi setempat sempat menutup lajur kami sehingga mobil wartawan terputus dari rombongan. Untung anggota rombongan yang berada di mobil depan memberi instruksi tegas agar mobil wartawan dibiarkan lewat.

“Ayo pak, maju pak, cepat pak!!”

Teman-teman wartawan menyemangati supir agar terus tancap gas menempel buntut iring-iringan presiden. Karena kalau sampai tertinggal, keistimewaan akses jalan tanpa hambatan yang melekat pada rombongan akan sirna—dan kami akan tiba lebih lama dari yang diharapkan.

Alhamdulillah agenda presiden pertama yang saya ikuti itu berjalan lancar. Rombongan tiba di lokasi pukul 16.50 WITA dan acara langsung dimulai. Setelah peninjauan PLTS usai, tim wartawan diarahkan untuk bergegas ke mobil duluan, lantaran mobil presiden rencananya akan merapat mendekati lokasi acara. Karena kalau tidak segera stand by di mobil, bisa-bisa ditinggal rombongan.

Di hari kedua, rombongan sudah meninggalkan hotel jam delapan pagi, langsung menuju ke bandara, kemudian bertolak ke Kabupaten Belu untuk mengikuti dua agenda, yaitu peresmian Bendungan Rotiklot dan peninjauan pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu di Jalan Pos Perbatasan Indonesia-Timor Leste. Dari situ, rombongan bergeser sedikit menuju gerbang perbatasan Indonesia-Timor Leste di desa Mota’ain.

Selalu Siaga

Kondisi selama kunjungan kerja presiden memang serba tentative dan dadakan. Apalagi dalam sehari, presiden memiliki sedikitnya empat acara di empat lokasi yang berbeda—dan berjauhan. Sehingga semua yang masuk dalam rombongan harus terus berada dalam barisan, dalam arti benar-benar sudah berada di mobil sebelum mobil presiden berangkat, atau ditinggal begitu saja.

Peringatan ‘akan ditinggal’ itu sempat diucapkan oleh Budi, salah seorang staf Biro Pers Istana, saat kami berada di tengah-tengah acara Perayaan Natal Nasional 2015.

Kondisi lapanganlah yang membuat kami harus lebih waspada dari biasa.
Bayangkan, lokasi acara berada di dalam tenda besar bersama sekitar 10 ribu orang yang berkumpul memadati areal yang disediakan di alun-alun rumah dinas gubernur. Untuk bisa balik ke mobil yang parkir di belakang panggung utama, saya dan teman-teman harus berjalan cukup jauh melewati sisi kiri tenda, melewati banyak barisan kursi yang berjajar tanpa ujung.

“Nanti kalau sudah pembacaan doa, kita siap-siap ke mobil ya. Karena dari sini kita langsung ke bandara untuk pulang, kalau tertinggal terpaksa ditinggal,” kata Mas Budi.

“Siap, Mas,” timpal saya, singkat dan mantap.

Setelah percakapan itu, saya tetap berada di tempat para wartawan televisi menempatkan kamera-kamera mereka untuk merekam acara di atas panggung sana.

Dan benar saja. Saya dan rombongan wartawan istana sudah diarahkan untuk bergerak ke belakang panggung meskipun acara belum selesai. Acara yang saya tunggu-tunggu sejak kemarin siang, yaitu pentas qosidah dari pengajian setempat, terpaksa dilewatkan. Padahal tangan sudah gatel ingin mengabadikan aksi mereka di atas panggung.


Tak lama menunggu di dekat mobil, Presiden dan Ibu Negara sudah menuju mobil untuk kemudian pergi meninggalkan lokasi perayaan. Dari situ, rombongan mampir ke SMUN 1 Kupang untuk menghadiri acara bakti sosial tim relawan Jokowi. Sejak tiba di sekolah itu, presiden terlihat sudah bergegas, sehingga saya pun terus waspada mengikuti pergerakan rombongan.

Saat presiden menyampaikan sambutan singkat, beberapa wartawan sudah merapat ke mobil. Saya lilhat mobil RI1 sudah disiapkan untuk segera membawa orang nomor satu ini ke bandara.

Sekitar pukul 17.30, rombongan sudah tiba di bandara El Tari. Semua orang yang masuk dalam daftar bergerak bersama presiden menuju pesawat kepresidenan yang sedari tadi menunggu kedatangan kita. Tidak ada lagi acara duduk-duduk atau basa-basi. Semua obrolan penting bersama presiden berlangsung sambil jalan cepat menuju pesawat.

Setelah itu, Presiden dan Ibu Negara masuk pesawat lewat pintu depan, sementara anggota rombongan lainnya masuk lewat pintu belakang.

Setelah semua siap, pesawat langsung bergerak maju menuju lintasan terbang. Dan, berhubung di bandara itu hanya ada satu jadwal penerbangan, pesawat sudah meninggalkan landasan dalam hitungan menit. Tanpa harus mengantri dengan pesawat lain, ataupun berputar-putar mencari jalur terbang.

Saat berada di dalam pesawat, badan ini sudah berada dalam kondisi letih maksimal. Baju batik lengan panjang di badan sudah begitu lengket dan bau. Saya lalu melihat ke sekeliling, ke 42 kursi kelas ekonomi yang terisi penuh oleh Paspamres, Protokoler Presiden, Biro Pers Istana dan para wartawan. Saat pramugari menawarkan handuk basah ke setiap orang, mereka menerimanya dengan penuh senyum, lalu langsung menghilangkan bercak lelah yang menempel di leher dan wajah.

Saya membayangkan, betapa cepatnya laju hidup yang mereka jalani selama mengikuti perjalanan dinas presiden. Sekian kali, berulang kali dalam tempo tinggi.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar Anda!
Masukkan nama Anda di sini