[aesop_quote type=”pull” background=”#282828″ text=”#ffffff” align=”left” size=”1″ quote=”Hal yang buat aku gak betah di pondok cuma satu, Pah. Muhadhoroh!” parallax=”off” direction=”left” revealfx=”off”]

Curhatan itu diungkapkan Si Kakak, putri sulung saya, persis sehari sebelum dia balik ke Pondok Modern Gontor Putri 3, akhir tahun lalu.

Sebagai walisantri, saya sangat senang sekaligus sedikit sedih saat menyimak keluhan Si Kakak di tahun keduanya mondok.

Sangat senang karena dia sudah tidak lagi mengeluhkan beratnya beradaptasi di pondok yang dulu selalu membuatnya rapuh. Senang karena yang dirisaukan sudah beralih ke pelajaran ekstrakurikuler, bukan lagi soal makanan atau soal barang-barangnya yang sering hilang.

Sedikit sedih lantaran dia masih harus menempa kepercayaan dirinya sebagai insan mandiri, salah satunya lewat pendidikan muhadhoroh.

“Muhadhoroh” adalah salah satu kegiatan pembelajaran di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor, dalam rangka melatih kemampuan orasi dan public speaking para santri. Formatnya sesederhana latihan pidato mingguan, namun teknis pelaksanaannya cukup menantang.

Muhadhoroh diambil dari bahasa Arab, artinya kuliah atau penyampaian materi atau pidato. Seminggu tiga kali, para siswa sekolah menengah ini (setingkat SMP-SMA) berkumpul di satu ruang kelas yang dibentuk khusus untuk keperluan latihan bertutur di depan khalayak. Satu kelompok diisi oleh sejumlah santri dari beberapa kelas, dicampur dalam satu forum orasi, dari kelas paling atas (kelas B), sampai kelas paling bawah.

Khusus santri baru, mereka masih dikumpulkan dengan sesama santri baru, karena pendidikan tahun pertama di Gontor memang didesain tertutup, dalam arti tidak mempertemukan anak baru dengan anak lama di hampir semua rutinitas.

Untuk santri lama, dibuatkan sedikitnya tiga jenjang kelompok: Kelompok kelas 2 dan kelas 3, kelompok kelas 3 Intensif dan kelas 4, dan kelompok khusus santri kelas 5. Sedangkan santri kelas 6 bertugas sebagai pembimbing.

[aesop_parallax height=”700PX” img=”http://iskandarjet.com/wp-content/uploads/2018/04/pidato-bahasa-indonesia.jpg” parallaxbg=”fixed” caption=”Duel Pidato Bahasa Indonesia di Gontor 6 Magelang (GontorTV)” captionposition=”bottom-left” lightbox=”off” floater=”off” floaterposition=”left” floaterdirection=”none” overlay_revealfx=”off”]

Ulil, salah seorang alumnus yang sedang mengajar di Gontor Kampus 1 mengungkapkan, beberapa tahun terakhir komponen tiap kelompok pidato ditambah dengan satu orang guru baru yang bertugas mengawasi dan mengawal pembelajaran bahasa sepanjang berlangsungnya muhadhoroh.

Mereka berlatih bergantian. Sebelum pentas di depan kelas, santri yang mendapat giliran manggung harus membuat materi pidato, lalu menyerahkannya ke pembimbing untuk diperiksa dari sisi konten maupun bahasa penyampaian. Setelah itu, materi yang sudah disiapkan tadi harus dihafalkan.

Harap maklum, konsep pidato yang diajarkan di sini bukan pidato ala pejabat yang lebih senang membaca teks miliknya atau teks milik atasannya. Tapi ini benar-benar orasi dengan cara menuturkan isi kepala di hadapan banyak orang.

Anggota kelompok dalam satu ruangan dibagi ke dalam tujuh kelompok kecil yang berisi lima sampai tujuh santri sesuai urutan absen ruangan. Walhasil, satu sesi akan diisi dengan pementasan 5-7 orang orator.

Lomba pidato di Gontor Putri 2 Mantingan (Gontor.ac.id)
Setiap minggu, para santri akan bertemu dengan tiga bahasa pidato: Arab, Inggris dan Indonesia. Pidato bahasa Inggris diadakan setiap Ahad malam, pidato bahasa Arab digelar setiap Kamis siang, lalu dilanjutkan dengan pidato bahasa Indonesia pada malam harinya.

Tentu saja tujuan pendidikan dua sesi tersebut berbeda. Pidato Bahasa Indonesia dirancang untuk benar-benar melatih mental dan keandalan dalam bertutur di depan umum. Sedangkan Pidato Bahasa Inggris dan Arab untuk praktek bertutur satu arah dengan menggunakan bahasa asing—di samping melatih mental orasi.

Di akhir sesi latihan pidato, para pembimbing akan menyampaikan evaluasi untuk masing-masing pementas. Mulai dari aspek bahasa, pakaian, gerak tubuh, retorika, dan sebagainya. Pokoknya kumplit. O iya, saya masih ingat momen ketika pembimbing dipanggil keluar kelas oleh guru senior yang setiap saat keliling memantau jalannya hajatan pidato di kelas-kelas ini. Jadi peserta dan pembimbingnya dipantau, diawasi, dan dididik secara paralel.

Kalau Anda mau menikmati suasana saat santri-santri berorasi penuh semangat, mengumandangkan takbir bersahutan, berusaha membakar hadirin dengan retorika berapi-api dan teriakan lantang yang menembus dinding-dinding kelas, datanglah ke Gontor saat acara ini digelar. ‘Pertunjukan’ berlangsung selama sekitar satu jam, sampai akhirnya para santri berbondong-bondong pulang ke kamar masing-masing.

Puncak dari latihan public speaking adalah lomba pidato tiga bahasa yang diadakan saban tahun. Setiap kelompok muhadhoroh melakukan seleksi di antara para anggotanya. Sekian puluh orator yang terpilih dari masing-masing kelompok tadi akan diseleksi lagi dalam 10 kelompok besar. Pemenang dari 10 kelompok besar inilah yang akan jadi finalis dalam ajang lomba pidato tahunan di auditorium bernama Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM).

Saat mondok di Gontor 20 tahun lalu, saya tidak pernah ikut lomba tersebut, tapi pernah uji nyali di ajang Mimbar Bebas saat nyantri di Pondok Pesantren Ar Risalah, Ponorogo. Saya yang waktu itu baru duduk di kelas satu (setingkat SMP), memberanikan diri naik ke atas panggung terbuka.

Seingat saya, Gontor tidak punya Mimbar Bebas seperti ini, sebuah panggung besar di tengah lapangan yang disediakan untuk siapapun santri yang berani maju dan berorasi di depan publik, seketika itu juga, tanpa persiapan naskah seperti saat muhadhoroh.

Bahkan sebelum mondok, waktu masih sekolah di Madrasah Diniyah At Taufiq, Kuningan, Jakarta Selatan, saya sudah mengasah kemampuan berpidato. Kebetulan Kepala Sekolahnya lulusan Gontor, sehingga setiap minggu ada latihan pidato dalam bahasa Indonesia.

Waktu duduk di bangku kelas 4 Diniyah, saya sudah berani berorasi tanpa teks, turun dari mimbar, dan menghampiri para hadirin layaknya sedang menyampaikan presentasi seperti yang saya lakoni sekarang ini.

Memang akan ada saja santri yang tidak suka satu-dua kegiatan belajar di pondok. Ada yang tidak suka muhadhoroh seperti Si Kakak, ada yang tidak suka pramuka, dan sebagainya. Itu wajar, tapi rutinitas tiada henti yang diterapkan mesin pendidikan Gontor memaksa setiap orang menguasai semua ilmu secara bertahap—dan perlahan.

Si Kakak orangnya masih pemalu alias kurang percaya diri. Itu juga salah satu alasan saya memasukkannya ke pondok, agar kepercayaan dirinya tumbuh dan berkembang dengan baik. Dari kelas satu, pelajaran pidato sudah jadi momok buatnya.

Dia pernah bercerita penuh semangat soal muhadhoroh yang jadi momok bagi hampir semua teman-temannya. Menulis materi pidato saja sudah jadi pekerjaan berat. Belum lagi kalau ada banyak coretan dan catatan dari pembimbing yang harus dikoreksi. Pekerjaan berat berikutnya adalah menghafal materi tersebut. Dan puncaknya adalah saat harus maju ke depan kelas, berpidato di hadapan banyak orang. Duh, sepanjang hari H itu, jantung sudah berdegub kencang bahkan saat sedang mengantri makan malam di dapur.

Saya menyimaknya dengan sepenuh hati, lalu menutup percakapan itu dengan satu kalimat singkat: “Nanti Kakak juga jago pidatonya.”

Catatan: Sebentar lagi dia akan pulang ke rumah jelang Ramadhan nanti. Semoga cerita muhadhoroh-nya akan berbeda dari apa yang selama ini dia keluhkan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar Anda!
Masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.