Menyekolahkan Anak ke Pesantren? Kenapa Tidak (#Ayomondok)

Kuatkan motivasi agar niat memondakkan anak tidak goyah

Obrolan sore itu semakin hangat saat topik beralih ke rencana sekolah lanjutan untuk anak-anak. Suasana ruang makan di villa Taman Aer Hotel, Mega Mendung, masih sepi karena anak-anak sedang menggelar aneka lomba dalam rangka perpisahan siswa kelas 6C SD PB Soedirman Jakarta Timur. Sementara lima orang wari murid ini asik ngerumpi sambil ditemani cemilan dan kopi panas.

“Kalau putrinya Pak Is mau lanjut sekolah di mana?” tanya seorang wali murid.

“Ke pesantren, Pak,” jawab saya singkat.

Setelah itu, suasana tetiba hening. Tidak ada celetukan lebih lanjut. Padahal sebelumnya kami berlima tak henti saling sahut-sahutan menimpali soal banyak hal, termasuk soal SMP terbaik, terdekat, nilai NEM, dan sebagainya.

Menyadari kondisi yang tidak kondusif ini, saya merasa tidak perlu bercerita lebih lanjut. Dalam hati saya maklum. Mereka mungkin tidak enak mengomentari pilihan untuk putri saya yang baru lulus SD. Beragam penilaian dan pertimbangan tersimpan di benak masing-masing. Tapi yang terlihat adalah raut ketidaksetujuan atas pilihan tersebut.

Tidak bisa dipungkiri, memasukkan anak ke pondok belum jadi pilihan popular. Terlebih buat orang tua yang tidak pernah bersekolah di pesantren, atau tidak mengenal dunia santri, atau tidak akrab dengan kosakata pondok pesantren.

Keluarga saya pun, yang akrab dengan kosakata ini, tidak semuanya percaya atau berani atau mau memondokkan anaknya. Beragam alasan mengemuka. Tapi yang paling sering diungkapkan adalah ini: tidak tega anaknya jauh dari rumah, hidup dengan standar yang jauh dari apa yang bisa mereka berikan di rumah.

Beberapa hari lalu, saat saya bercerita ke teman-teman kantor soal si kakak yang sedang ikut ujian masuk Pondok Modern Gontor Putri di Mantingan, ada yang berkelakar bahwa saya orang tua yang melanggar hak asasi anak. Sebuah becandaan yang mengekpresikan sikap bahwa pondok pesantren belum cukup layak atau pantas untuk anak usia lulusan SD.

“Emang tega apa Mas Is anaknya dipondokin?” Sahut seorang teman.

“Dia kan masih kecil, Mas Is,” timpal yang lain.

Jujur, kalau diinterogasi soal putusan saya dan istri memondokkan anak, ada setitik emosi yang meminta kami untuk mengurungkan niat tersebut. Rasa iba pasti muncul. Mana ada sih orang tua yang mau jauh dari anaknya. Apalagi mereka akan menjalani hidup yang sama sekali berbeda dengan ‘kenikmatan’ di rumah.

Tidak ada kamar pribadi. Tidak ada ruang ber AC. Tidak ada busana yang meriah. Tidak ada makan enak dan serba ada. Tidak ada jalan-jalan ke mol. Boro-boro main Instagram atau ngejar-ngejar Pokemon. Nonton televisi dan dengar radio pun tidak.

Dan lokasinya, jauh pula!

Si kakak kan cewek. Kalau dia sakit gimana. Kalau dia kangen ama adik-adiknya gimana. Macam-macam pertimbangan yang disodorkan ke saya. Baik oleh teman-teman, ataupun oleh diri saya sendiri.

Emangnya ke pondok dia yang mau, Mas Is? Emangnya si Kakak betah di sana?

Pilihan Terbaik

Saya harus bilang bahwa ini adalah keputusan yang sudah dibicarakan setahun terakhir bersama si Kakak. Mamanya punya cara yang bagus untuk menceritakan apa yang dulu dia pelajari di Pondok Modern Darul Ulum, Sukabumi. Saya pun kadang berbagi cerita saat mondok di Gontor dulu.

Racun yang membuat dia penasaran adalah bahasa Arab yang kerap saya dani istri gunakan untuk pembicaraan rahasia di hadapan anak-anak. Si kakak sering bilang ingin bisa bahasa Arab agar mengerti apa yang dibicarakan orangtuanya.

Soal betah tidak betah, anak sekecil itu pasti ingin selalu bersama ayah dan ibunya sepanjang masa. Sejak berangkat ke Gontor, 12 Juli lalu saja, si kakak sudah dua kali nangis. Pertama karena tempat tidur berbentuk bangsal bikin dia gerah dan tidak bisa tidur, kedua karena kangen sama papanya. Itu masih ada mamanya loh, nemenin di sana sampai hasil ujian diumumkan panitia. Saya saja yang cowok masih nangis tersedu-sedu saat satu bulan pertama mondok. Apalagi anak cewek.

Tapi, ada juga loh orang tua yang lebih baper dari anaknya. Saat waktu perpisahan tiba, ayah ibunya nangis tersedu-sedu sementara anaknya malah anteng sambil menikmati adegan India ortunya….

Pada akhirnya, saya yakin ini pilihan terbaik buat si kakak. Bukan berarti sekolah SMP di dekat rumah tidak baik. Ada satu keyakinan dalam diri saya bahwa sistem pendidikan yang holistik, dalam lingkungan sekolah berasrama yang diayomi 7 hari 24 jam, lebih baik dari lingkungan sekolah dan rumah yang tidak bisa dikontrol sepanjang waktu.

Butuh lebih dari sekedar kemauan untuk bisa mengirim anak-anak kita ke pondok pesantren. Kalau tidak ikhlas melepas anak, niat hanya akan jadi niat. Kalau tidak ada kebulatan tekad, sedikit gangguan akan mengubah haluan. Kalau tidak ada keyakinan terhadap pengelola lembaga pendidikan berasrama, orang tua bisa jadi hambatan anaknya bersekolah.

Kalau ditanya ke anak, dia pasti akan bilang tidak mau mondok. Kalau tidak dipaksakan, mereka pasti tidak betah dan minta pulang. Apalagi setelah dijelaskan dan tahu betapa tidak enaknya hidup di sana.

Namanya juga anak lulusan SD. Mereka masih sangat bergantung pada keputusan orang tuanya. Belum bisa dilepas mengambil keputusan berdasarkan kemauan mereka sendiri. Sangat jauh berbeda dengan anak lulusan SMA atau anak lulusan S1. Setidaknya itu menurut saya.

Mondok di Gontor

Terlebih, yang saya pilihkan untuk dia adalah sekolah lanjutan yang pernah Papa Mamanya kecap dulu. Dan kami merasa pondok adalah tempat belajar yang kondusif buat anak-anak usia SMP dan SMA—sebelum dia masuk ke dunia kampus yang jauh lebih bebas dan tidak terkendali.

Yang saya maksud tentu Pondok Modern Gontor. Sebuah tempat belajar yang memiliki sistem pendidikan dan pengajaran yang utuh. Yang berbeda dari sistem pendidikan di Indonesia. Yang independen dan berdiri di atas semua golongan. Yang mengandung muatan pelajaran agama dan ilmu pengetahuan lengkap—tanpa dikotomi. Dipersenjatai dengan modal untuk bertarung di dunia ultra modern: bahasa Inggris dan bahasa Arab.

Ada banyak alasan menyekolahkan anak ke Gontor, sebuah lembaga pendidikan berusia 90 tahun yang berlokasi di dusun Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Tapi uraiannya akan panjang kali lebar. Butuh sesi khusus untuk mengenal apa dan bagaimana pendidikan Gontor dirancang dan dijalankan, tanpa harus gonta-ganti kurikulum dan gonta-ganti pelajaran, meskipun Menteri Pendidikan dan Menteri Agamanya sudah berkali-kali ganti orang.

Hari ini, si kakak baru saja menjalani ujian tulis. Dan dalam beberapa hari ke depan, baru akan diumumkan nama-nama yang lulus ujian dan dinyatakan layak jadi santri Gontor. Semoga nama si kakak disebut saat hari pengumuman itu tiba. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar Anda!
Masukkan nama Anda di sini