Menulis dengan Mulut, Emang Bisa!

Hari ini, bahkan Anda tidak perlu pena atau jempol atau jari untuk menulis. Cukup gunakan suara mulut yang diarahkan ke ponsel, lalu biarkan aplikasi di dalamnya menuliskan apa yang Anda ucapkan.

Sesederhana itulah teknologi saat ini dan seperti itulah kemudahan yang disuguhkan untuk semua orang. Gawai di genggaman bukan lagi alat komunikasi atau pencari informasi, tapi perangkat kreativitas untuk menjadikan diri anda lebih menonjol dan lebih bernilai di mata orang lain.

Di dunia maya, apapun yang anda pikirkan, bisa dengan mudah diketahui oleh orang lain. Apapun yang Anda produksi, dapat dengan mudah dinikmati dan diapresiasi oleh mereka yang ada nun jauh di sana bahkan oleh orang-orang yang tidak Anda kenal dan tidak mengenal Anda.

Kembali ke kemudahan dalam menulis.

Saya sedang mencoba kembali apa yang dulu tidak mungkin dilakukan dan apa yang dulu begitu sulit dan membutuhkan banyak sekali perangkat: menulis dengan mulut.

Dengan Android di tangan, Anda tidak perlu lagi memasukkan aplikasi ini itu untuk bisa mengubah ucapan lisan jadi kalimat tulisan. Yup. Saat ingin menulis, cukup arahkan mulut ke bagian bawah handphone tempat mikrofon berada. Lalu ucapkan apapun yang ingin Anda tuliskan.

Seketika suara Anda terekam oleh aplikasi yang tertanam di ponsel, ia langsung mengkonversi suara itu ke dalam teks tertulis di layar.

Untuk menikmati fitur ini, Anda cukup membuka aplikasi bawaan Samsung Galaxy bernama Memo. Mulailah mengetik dengan mengubah tampilan papan tut menjadi tampilan input suara. Caranya: tekan-tahan tombol pengaturan yang ada di samping tombol “Sym”, lalu pilih tombol bergambar mikrofon.

Setelah itu, berbicaralah! Semua yang Anda ucapkan akan muncul seketika dalam bentuk teks tanpa perlu ditulis ulang.

Google, setidaknya seperti yang saya nikmati di S7, sudah meningkatkan kemampuannya untuk bisa mendeteksi bahasa Indonesia dan gaya bertutur orang Indonesia.

Android paham bagaimana orang Indonesia bicara, mengungkapkan kalimat per kalimat, mengartikulasikan kata per kata dan seterusnya. Kemampuan itu kemudian divisualisasikan dalam bentuk teks tertulis di aplikasi apapun.

Bahkan si mbah Google bisa membedakan cara penulisan kata “di untuk kata kerja dan “di” sebagai kata sambung. Mesin pendeteksi suara milik Google yang sudah ditingkatkan kemampuannya ini tidak lagi hanya milik orang Amerika atau mereka yang berbahasa Inggris. Kecerdasan literasi si mesin sudah mencakup banyak sekali bahasa, salah satunya Indonesia.

Ini tidak lepas dari semakin besarnya tingkat penetrasi pengguna handphone Android di tanah air. Berbeda dengan perangkat berbasis iOS yang masih membatasi kemampuan bahasanya pada bahasa-bahasa tertentu.

Artikel ini pun saya tulis dengan mulut. Saat suara saya diubah jadi teks, belum ada tanda baca ataupun paragraf di dalamnya. Setelah semua isi kepala tercurahkan untuk ulasan ini, saya tinggal memasukkan tanda baca dan paragraf sambil mengedit beberapa kalimat lisan yang kurang pas untuk pembaca tulisan.

Setelah itu, saya buka Kompasiana versi mobile lewat aplikasi Chrome, lalu teks dari Memo saya salin-tempel ke sini. Daaan, tayang!

Dengan mulut, nulis cepat jadi semakin gampang, kan?

Selamat mencoba….
#ayonulis
JET

Catatan: Saya membuat dan menayangkan artikel ini menggunakan Samsung Galaxy S7. Keandalan dan kemampuan menulis-dengan-mulut berbahasa Indonesia di ponsel jenis atau merek lain akan berbeda satu sama lain.

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar Anda!
Masukkan nama Anda di sini