Endorse artinya mendukung atau menyokong. Dalam dunia pemasaran, kata “endorse” lazim digunakan oleh para praktisi periklanan atau pemasaran dalam konteks promosi produk yang dilakukan oleh sosok terkenal dan berpengaruh.

Kata endorse tidak dikenal atau diperbincangkan oleh para pebisnis sebelum era digital atau zaman media sosial hadir. Dulu, kita hanya mengenal iklan. Iklan yang dibintangi oleh seorang selebritis atau sosok terkenal atau berpengaruh.

Dari sisi format dan konsep, iklan mainstream seperti ini masih ada sampai sekarang. Tapi dari sisi konten atau isinya, iklan yang menampilkan orang terkenal sebenarnya sama dengan endorse. Si artis atau tokoh diminta untuk memberikan dukungan terhadap produk yang sedang diiklankan—dengan sekian banyak aksi atau cara yang dikemas secara kreatif oleh pembuat iklan.

Silakan cek di akun-akun Instagram atau media sosial lain yang dikelola oleh seleb atau orang terkenal. Anda akan lihat satu dua konten berisi endorse untuk produk tertentu. Baik produknya sedang dipakai atau sekedar dipegang. Sebenarnya itu iklan (sekalipun masih banyak akun yang menyamar antara konten berbayar dan konten tanpa bayaran). Tapi secara teknis, dia belum disebut sebagai iklan, melainkan sebuah “endorsment” atau “dukungan”.

Endorsment sedang marak digarap oleh para pemasar digital dalam lingkup influencer marketing atau pemasaran dengan memanfaatkan kekuatan orang berpengaruh. Mitra para pemasar ini tidak lagi berkutat pada kata kunci artis atau tokoh atau seleb yang selama ini dikenal. Tapi meluas ke orang-orang biasa yang sukses menjadikan akun media sosialnya terkenal di kalangan banyak pengguna medsos—sehingga layak menyandang gelar seleb medsos.

Bagaimana Peluangnya?

Beberapa hari lalu, sociabuzz melakukan sebuah riset yang melibatkan praktisi periklanan dan pemasaran sebagai responden. Hasilnya dituangkan dalam sebuah laporan bertajuk “The State of Influencer Marketing 2018 in Indonesia: Kupas Tuntas Tren Pemasaran ‘Endorse’”.

Riset melibatkan 83 responden yang pernah atau rutin menjalankan influencer marketing dalam kurun setahun terakhir. Mereka berasal dari agensi digital (18%), produsen atau merek (70%), produk rintisan aka start-up (8%) dan produk Online Shop (4%). Mereka umumnya menjabat sebagai tenaga pemasaran digital atau komunikasi pemasaran.

Dalam survey ini, Anda bisa melihat bahwa sebagian besar endorser diajak kerjasama untuk meningkatkan awareness (98.8%), mengedukasi target konsumen (62,7%), baru setelah itu meningkatkan penjualan dengan tingkat persentase masih di atas 50 persen (50.06%).

Lalu di mana kegiatan ‘iklan terselubung’ ini digelar? Kebanyakan di Instagram (98.8%), mengingat platform berbagi foto milik Facebook ini sedang naik daun dengan jumlah pengguna aktif mencapai satu miliar. Selain di IG, pemasar juga menjalankan influencer marketing di Youtube (41%) dan blog 28/9%). Penggunaan platform Twitter dan Facebook kurang populer untuk promosi oleh seleb medsos.

Lantas apakah menjadi seorang influencer itu merupakan ‘profesi’ yang menggiurkan? Belum tentu.

Pasalnya, para responden yang ditanyakan oleh sociabuzz mengaku hanya mengalokasikan uang maksimal Rp 500 juta dalam satu tahun, atau maksimal 5 persen dari total anggaran pemasaran.

Ada sih yang alokasi anggaran untuk buzzer hingga di atas 10 persen. Tapi hanya 10 persen responden yang punya kebijakan tersebut. Selebihnya mengalokasikan dana kurang dari 2 persen (34,8%) dan dua hingga lima persen (30,4%).

Yang punya belanja hingga Rp 5 milyar untuk influencer marketing pun sedikit. Hanya 2,9% responden. Sangat sedikit dibandingkan mereka yang membelanjakan uang dari Rp 50-100 juta (30%) dan Rp 100-500 juta (32,9%).

Itu belanja mereka tahun 2017 lalu. Lantas apakah di tahun 2018 ini anggaran untuk seleb medsos akan ditambah? Hanya 38,6% yang menjawab “Ya”. Sebagian besar bilang “Mungkin” (50,6%) dan sisanya bilang “Tidak” (10,8%).

Artinya, dengan uang hanya Rp 500 juta, tidak begitu banyak pesohor medsos yang mendapatkan rezeki dari klien. Kalau banyak buzzer atau blogger yang diajak terlibat dalam satu kampanye, jumlah uang yang dibawa pulang per kepala tidak seberapa.

Dari sini terlihat bahwa Anda tidak bisa hanya mengandalkan kucuran proyek dari agensi ataupun dari pengiklan. Apalagi kalau baru mulai ‘merintis karier’ jadi seorang buzzer.

Selain anggarannya sedikit, pesaingnya pun banyak. Belum lagi kalau di dalam segmen yang Anda sasar ada banyak seleb beneran atau pengguna medsos yang pengikutnya ratusan ribu hingga jutaan. Kalaupun dapat, paling nominal proyeknya hanya recehan.

Kendati demikian, selalu ada peluang buat netizen yang menjadi endorser atau buzzer, meskipun pengiklan di Indonesia belum banyak menjalankan influencer marketing.

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar Anda!
Masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.