Mengenang Sosok Putra Menteri Susi saat Mondok di Gontor

Panji Hilmansyah, santri yang periang dan baik hati

Menteri Susi bersama Panji Hilmansyah dan Nadine Kaiser saat keduanya masih kecil. (Foto: Nadine Kaiser)

Wajahnya chubby dengan segaris bulu halus di bawah hidungnya. Anaknya lincah, supel dan rame. Untuk ukuran santri, putra pertama pengusaha ikan di Pangandaran ini kurang ‘stylish’. Pakai sarungnya tidak rapi. Buntelan yang melilit pinggangnya terlihat besar lantaran dia mengenakan kain sarung ukuran orang dewasa. Pecinya juga ketinggian untuk ukuran santri baru. Dia pakai ukuran Sembilan sentimeter—bukan ukuran standar tujuh senti.

Pokoknya gak Gontor banget, dah!

Tapi meskipun baru lulus SD, dia sudah lancar bicara bahasa Inggris. Ngomongnya cas cis cus. Itu sebabnya dia cukup menonjol dan cepat dikenal di kalangan santri baru Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus Dua yang berjarak hanya enam kilometer dari Gontor Satu, Ponorogo, Jawa Timur (sekitar 30 kilometer dari Madiun ke arah Pacitan).

Deskripsi dan kenangan untuk almarhum putra Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti itu diutarakan Ali Amin, teman saya sesama alumnus Gontor yang sempat menjadi pembimbing asrama dan pengajar Panji Hilmansyah (31) saat mondok di Gontor 2.

Panji meninggal dunia di rumahnya di kota Naples, Florida, Amerika Serikat. Waktu dan penyebab kematian belum dapat dipastikan, namun dugaan awal yang bisa disampaikan pihak keluarga adalah karena gagal jantung. Dia ditemukan seorang diri di kamarnya, dan serangan jantung diduga terjadi ketika almarhum sedang tidur.

Saat ini, jenazah ayah satu anak yang oleh orangtua dan teman-teman pondoknya akrab dipanggil Hilman tersebut masih berada di Naples dan dalam proses pemulangan ke Indonesia untuk kemudian dimakamkan di tanah kelahirannya, Pangandaran, Jawa Barat.

Lewat akun Facebook-nya, Ali mengenang kembali saat-saat dia mengajarnya mengaji, memimpin lari pagi, mengurusi kiriman uang dan paket dari keluarganya, dan menghukumnya karena melanggar disiplin atau tidak berbahasa Arab.

Panji bersama ratusan murid lain merupakan santri angkatan pertama yang belajar di Gontor 2 pada tahun 1996. Di tahun yang sama, saya dan 300an alumni lainnya baru saja lulus dari Gontor. Setelah lulus, kami mendapatkan tugas mengajar di banyak pondok pesantren yang menerapkan sistem pendidikan ala Gontor. Ali Amin ditugaskan mengabdi di Pondok Gontor 2 Ponorogo, sedangkan saya di Pondok Modern Al-Kautsar, Pekanbaru, Riau.

Santri perdana Pondok Modern Gontor 2, 1996. (PM Gontor)

Gendut dan Baik

Status Facebook yang dibuat Ali kemarin sontak mendapat ucapan belasungkawa dari teman-teman Panji di Gontor 2. Mereka mengomentari status tersebut dengan tambahan cerita dan memori bersama almarhum.

Teman-temannya di Gontor menggambarkan sosok Panji sebagai pribadi yang akrab bergaul dan senang membagi makanan kepada teman-temannya. Tubuhnya agak gendut, tapi bersih.

“Hilman dulu anaknya gendut, kalo pake baju suka kegedean bajunya…,” tulis Dodi Yudistira, teman seangkatan saya yang juga menjadi guru almarhum.

Selama belajar di Gontor, Panji lebih sering terlihat dijenguk oleh neneknya, seperti dituturkan Juhadi, salah seorang guru angkatan perdana di pondok tersebut.

Teman almarhum lainnya, Djamaluddin Perawironegoro, punya kesan mendalam terhadapnya. Pasalnya, dia sempat mendapuk Panji sebagai guru bahasa Inggrisnya selama di Gontor 2.

“Dulu paling ga enak klo diteriakin sm Ust Ishlahuddin gara2 ga bisa atau ga jawab exercise bahasa Inggris. Makanya sy belajar sm Hilman (Panji Hilmansyah). Semoga jariyah Bahasa Inggris yg disampaikan sm sy mengiringi di akhirat sana. Allahumma Amin,” ungkap Djamaluddin.

Harap maklum, Gontor memang mewajibkan santri-santrinya berbahasa Arab dan Inggris setiap minggu secara bergantian. Sehingga santri dengan modal bahasa seperti Panji disukai banyak orang—yang ingin cepat mahir bicara bahasa Inggris.

Ali Machrus, teman sekamar almarhum, mengingat putra Menteri Susi ini sebagai orang yang ceria, baik dan tidak pernah marah. “Yang pasti dia gak pernah terlibat masalah sama teman,” cerita Machrus.

Sakit Asma

Tapi di luar pergaulannya yang supel,  teman-teman Panji juga memberi perhatian terhadap kondisi kesehatannya. Dia diketahui selalu batuk setiap malam sebelum tidur.

Menteri Susi bersama anak dan cucunya (Foto: Panji Hilmansyah)

“Ana kasihan banget dia selalu batuk terus-terusan. Ya Allah ampunilah segala dosanya dan semoga amal baiknya diterima Allah SWT. Amin,” lanjut Machrus yang tak ketinggalan menyampaikan apresiasinya kepada Panji yang tetap gigih belajar meski sedang sakit.

Mengomentari sakitnya tersebut, Ali Amin menduga batuk-batuk yang dialami kakak dari Nadine Kaiser dan Alvy Xavier itu karena faktor cuaca dan udara berdebu di saat pondok sedang gencar-gencarnya membangun gedung asrama dan sekolah.

Soal riwayat sakit almarhum, Menteri Susi mengungkapkan bahwa anak dari suami pertamanya itu memiliki riwayat asma. Fakta tersebut diceritakan Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri usai melayat ke rumah duka. “Bu Susi di dalam sempat cerita kalau Panji memang ada asma. Selain itu, ibu cerita juga kalau Panji cukup gemuk,” ujar Hanif seperti dikutip KOMPAScom, Senin (18/1).

Memasuki bulan Januari 2016 lalu, almarhum yang berada di Amerika Serikat dalam rangka mengambil pendidikan instruktur pilot ini beberapa kali mengeluh sesak napas. Tapi berdasarkan catatan kesehatan sebelumnya, dia tidak memiliki riwayat penyakit jantung, demikian Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Kementerian KKP, Lilly Aprilya Pregiwati.

Ikuti @iskandarjet di Twitter, Facebook dan Instagram.

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar Anda!
Masukkan nama Anda di sini