Media Sudah Melek Anda, tapi Sudahkah Anda Melek Media?

Ilustrasi media literasi. (pixabay.com)

Dulu, akademisi dan praktisi memaknai literasi media atau media literacy sebagai pengetahuan dan kemampuan dalam memahami, menganalisis dan mendekonstruksi pencitraan media.

Yang dimaksud media di sini, tidak lain dan tidak bukan, adalah produk pers (penyiaran berita atau informasi melalui koran, majalah, radio dan televisi).

Dulu, selain produk pers tidak didefinisikan sebagai media. Kalau orang menyebut kata media, berarti yang dimaksud adalah produk yang dikelola oleh para jurnalis yang pekerjaan hariannya mengumpulkan dan membuat berita untuk ditayangkan di koran dan sebagainya. Bahkan buku dan film nyaris tidak dikenal sebagai media.

Dari situ kemudian muncul istilah-istilah turunan dalam percakapan sehari-hari. Semisal “orang media”, “diliput media”, “konglomerat media” dan sejenisnya. Media mewakili pers dan jurnalistik. Media menjadi satu-satunya sumber informasi paling aktual.

Tapi itu dulu. Dulu sekali. Sebelum kita rajin mengetuk-ngetukkan jempol di layar ponsel.

Di era digital saat ini, istilah media, mau tidak mau, perlu didefinisi ulang. Apa yang terjadi di era terdulu sama sekali berbeda. Teknologi informasi dan komunikasi terus berevolusi. Membawa manusia ke zaman Web 3.0, di mana semua urusan informasi dan komunikasi selesai di layar ponsel.

Baca juga: Alasan Ngeblog #1: Dari Narsis Bro sampai Eksis Pro

Pakem bahwa media=pers sesungguhnya tidak berlaku lagi saat masyarakat pengguna internet mulai mengenal istilah media sosial (social media) di awal tahun 2000-an. Tapi dinamika yang berlangsung sepanjang belasan tahun terakhir tidak serta-merta menempatkan istilah medsos sebagai bagian dari istilah media yang selama ini dikenal.

Mengapa? Karena sedari awal menggunakan media sosial, masyarakat langsung memaknainya sebagai website atau aplikasi ponsel yang interaktif, di mana mereka bebas menempatkan konten yang diinginkan.

Dari situlah kemudian kamus besar kita (baca: KBBI) mendefinisikan media sosial sebagai: “laman atau aplikasi yang memungkinkan pengguna membuat atau membagikan isi atau terlibat dalam jaringan sosial”. Yup! Gak ada kata kunci ‘media’ dalam definisi tersebut.

Selain itu, dari sisi konten, apa yang diproduksi para pengguna media sosial tidak bisa disamakan kualitasnya dengan yang diproduksi oleh insan pers. Bahkan sampai hari ini masih ada jurnalis atau “orang media” yang masih menganggap media sosial sebagai tempat sampah. Lebih banyak noiseyang beredar dibandingkan voiceyang dibutuhkan, begitu kata mereka.

Asumsi itu benar, tapi perkembangan platform dan kecanggihan teknologi yang dibenamkan ke dalam medsos telah membawa para pengguna medsos ke ajang kompetisi konten dalam rangka memperebutkan tingkat keterbacaan, interaksi dan juga kue iklan! Maka jadilah hari ini jatah iklan di dunia maya diperebutkan oleh banyak sekali pemain, bercampur antara akun milik individu dengan akun milik perusahaan pers.

Artinya, peta pembuat konten sudah berubah dari sebelumnya hanya bisa dilakukan oleh insan pers, sekarang bisa dilakukan oleh semua orang. Peran media sosial juga sudah lama berubah menyamai media pers, yaitu sebagai penerbit dan penyiar konten digital. Yang menggunakan platform media sosial ini pun lagi-lagi bukan hanya individu, tapi juga perusahaan pers.

Itulah sebabnya, bicara literasi media hari ini berarti bicara soal platform media yang ada. Saya mendeteksi sedikitnya ada tiga platform media dalam konteks penyebaran konten digital, yaitu: Media Pers, Media Sosial dan Media Percakapan. Konten digital ini sangat bervariasi, mulai dari informasi sampai konten remeh-temeh yang dulu tidak pernah terbayang akan beredar di banyak kalangan.

Baca juga: Hati-hati, jangan sampai tersihir judul yang menyihir!

Masing-masing media punya karakter dan keunikannya masing-masing. Teknologi yang dibenamkan dan fitur yang disediakan oleh pembuatnya secara otomatis mempengaruhi perilaku para penggunanya dalam mendistribusikan dan mengkonsumsi konten di dalamnya.

Kalau dari sisi bentuknya, kita mengenal apa yang disebut sebagai Media Cetak, Media Elektronik dan Media Digital. Konten yang dimuat atau disiarkan di ketika bentuk media ini pun tidak lagi dimonopoli oleh Media Pers. Di dalam sebuah produk media cetak atau elektronik, dengan mudah kita jumpai konten yang diambil dari media sosial dan media percakapan.

Kesimpulannya, hari ini lebih banyak pengetahuan dan wawasan yang perlu dipahami oleh masyarakat seputar media. Teknologi berkembang begitu cepat, sehingga semua orang pun dituntut untuk belajar dan beradaptasi dengan cepat.

Kita mungkin bisa menggunakan media yang ada, tapi belum tentu kita memahami karakter, manfaat dan dampaknya buat kita. Kemudahan dalam menggunakan platform media yang ada ini tidak lepas dari tuntutan user-friendlydalam setiap aplikasi yang diciptakan demi mendapatkan skor user experiencedi angka maksimal.

Di titik ini, para pembuat platform media tadi sudah benar-benar bisa memahami (baca: melek) kebutuhan penggunanya. Tapi pertanyaannya, sudahkah kita memahami (baca: melek) karakter media-media tadi?

Yuk, ah. Mari belajar #LiterasiMedia!

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar Anda!
Masukkan nama Anda di sini