Istimewakan Gurumu karena Kamu adalah Guru

Sepagi buta, Entin Soleha masuk ke dalam kelas tempat dia biasa mengajar anak-anak TK. Dia mencari lem dan gunting, lalu membawanya ke rumah yang hanya berjarak 15 langkah. Tiga kerudung dibungkus rapi dengan kertas kado warna ungu.

“Kok kado buat guruku lebih kecil, Ma?” Protes Nahda saat mamanya membagikan kado itu untuk anak-anaknya. Satu kado untuk guru kelas Nahda, dua kado lainnya untuk dua orang guru kelas Kahla.

“Sama aja, Nahda. Isinya sama, cuma bungkusannya aja Mama bedain biar gak ketuker,” jelas Entin.

Sementara Kahla langsung saja menyambar dua kado di atas meja, lalu memasukkannya ke dalam tas. Dia tidak peduli soal ukuran. Yang penting dia bisa memberikan kado untuk kedua orang gurunya tercinta di SD Islam PB Soedirman, Cijantung, Jakarta Timur.

Buat Nahda dan Kahla, hari ini terhitung istimewa. Sejak Senin lalu, keduanya sudah meributkan baju batik mana yang akan dipakai ke sekolah. Ya, di Hari Guru Nasional ini, para murid PB Soedirman sekolah tanpa seragam, dibebaskan mengenakan baju batik apa saja. Sekolah juga mengadakan acara makan-makan bersama siswa dan wali murid.

Sebagai bentuk ucapan terima kasih murid kepada gurunya, orang tua siswa berikhtiar membuat kado untuk diberikan anak-anak secara langsung kepada guru-guru mereka. Ini inisiatif komite masing-masing kelas, sehingga kegiatan satu kelas dengan kelas lainnya bisa jadi berbeda.

Saya melewati pagi ini dengan perasaan bangga dan bahagia, melihat istri dan anak-anak begitu semangat merayakan Hari Guru.

Bagaimana tidak.

Almarhumah ibu saya juga seorang guru yang dengan gigih mengajarkan anak-anak di kampung Kuningan Timur, Jakarta Selatan, mengaji al Qur’an dan pelajaran agama. Dia juga merintis lembaga pendidikan sejak saya masih dalam kandungan, hingga akhirnya berdiri Madrasah Ibtidaiyyah al Madinah di Tanjung Barat, Jakarta Selatan.

Dia percaya, semangat mengajar wajib dimiliki oleh setiap insan, sehingga membayangkan anak-anaknya pun kelak menjadi seorang guru. Memberikan anak-anaknya pendidikan setinggi mungkin, dengan harapan ilmu yang didapat dapat disebarkan lagi ke banyak orang.

Menjadi guru, mengajar murid-murid di kelas, membimbing akhlak dan membentuk karakter mereka, bukan lagi sebuah pekerjaan, tapi sebuah tugas yang tidak boleh ditawar-tawar oleh setiap guru. Begitu kurang-lebih pesan yang sering saya tangkap dari almarhumah setiap kami ngobrol soal pendidikan di masa hidupnya.

Itulah sebabnya, keinginan saya untuk mondok di Gontor disambut gegap-gempita, meskipun saat itu ekonomi keluarga tergolong pas-pasan.

Orang tua membayangkan saya kelak menjadi guru di kelas. Sampai akhirnya saya memilih bekerja di industri media, kebanggaan itu tetap ada karena saya masih bisa mengajarkan orang-orang lewat pena. Bisa mengajarkan orang-orang untuk menulis. Menyebarkan virus #ayonulis di media sosial dan ke penjuru tanah air. Dari satu artikel ke tutorial berikutnya. Dari satu sesi pelatihan ke kelas inspirasi berikutnya.

Keistimewaan seorang guru diakui oleh setiap kita bukan karena mereka mengajari anak-anak kita. Guru menjadi profesi yang istimewa karena setiap kita dilahirkan untuk mentransfer ilmu, untuk mendidik, bukan hanya makhluk bernama manusia, tapi juga seisi alam semesta.

Menjadi guru berarti mencurahkan hidupnya untuk mencerdaskan kehidupan masa depan. Menjadi guru berarti belajar menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada anak-anak yang fitri. Membenamkan sikap mulia dan tutur yang santun. Mengajarkan pengetahuan dan kearifan. Membina mereka menemukan potensi dan jati diri sendiri.

Menjadi guru bukan sebuah pilihan tapi tuntutan. Boleh jadi seseorang tidak memulai hidup profesionalnya sebagai guru yang mengajar di depan kelas. Tapi pada akhirnya, ketika semua rutinitas selesai dijalankan, saat masa bakti kerja selesai dituntaskan, mengajar akan jadi hasrat yang dibutuhkan.

Dan betapa banyak profesional dan pakar di segala bidang yang diminta untuk menularkan ilmunya kepada banyak orang. Di kampus, di sekolah, di cafe, dan terutama di rumah.

Selamat hari guru untuk istriku, guruku, guru anak-anakku, dan sobat guru semua. Selamat hari guru untuk kita semua….

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar Anda!
Masukkan nama Anda di sini