Hati-hati, Jangan Sampai Tersihir oleh Judul yang Menyihir!

Nama situs webnya tersihir.com. Seorang teman di Facebook memberikan saya tautan berita si penyihir lewat aplikasi percakapan, Ahad (27/8) kemarin. Wih kereeen, bahkan para penyihir pun sudah turun gunung jadi pembuat konten di dunia maya.

Sebenarnya saya malas menanggapi website seperti ini. Tapi demi literasi media, saya perlu kasih satu contoh yang super-jelas prakteknya. Dan kalau pembaca mau membaca lebih dalam, sesungguhnya yang dilakukan website-website semodel ini gak lebih dari copas berita dari media pers, lalu ganti judul atau paragraf pertama biar lebih menyihir netizen.

Jumlah web begini bejibun, ada yang ultra-pro kubu A, ada yang ultra-pro kubu B. Cara mengidentifikasinya gampang: si website gak akan pernah mau menghina jagoannya dan gak akan pernah mau memuji lawannya. Dia lurus saja di jalan yang menurutnya benar.

Yang dikejar pun pragmatis: kucuran Dollar dari iklan Google Adsense. Politisi biasanya gak mau berinvestasi konten dalam bentuk website seperti ini. Risikonya terlalu tinggi. Jadi model bisnis produk penyihir begini beda dengan Saracen yang sudah saya ulas sebelumnya.

Coba saja tengok artikel berjudul “Mantab jiwa! Jokowi tunjuk Antasari jadi Jaksa Agung, DPR langsung kelimpungan“. Artikel itu dicomot begitu saja dari Jawa Pos.

Pencopasnya cuma butuh menghilangkan kata ‘akan’, plus menghapus tanda tanya dari judul aslinya. Kelar urusan. Sekarang mari kita bandingkan dengan judul asli di Jawapos.com: “Antasari Bakal Ditunjuk Sebagai Jaksa Agung? Begini Reaksi DPR“.

Baca juga: Saracen dan Bisnis Manipulasi yang Menjebak

Ketika dua judul di atas disuguhkan pembaca, dijamin judul pertama lebih menyihir dari judul kedua. Judul pertama jelas menjebak pembaca, karena faktanya Presiden Jokowi belum menunjuk Antasari sebagai Jaksa Agung. Judul ini tipuan alias hoak, dan bisa diadukan ke polisi.

Dan setelah sedikit ditelusuri lebih lanjut, saya dengan mudah menemukan beberapa artikel yang diproduksi dengan pola dan tendensi yang sama.

Misalnya artikel berjudul “Rumah Keponakan Setnov Digeledah 6 Jam, Hal Mengejutkan ini Ditemukan!” Isinya juga copas, kali ini dari berita yang dirilis Tribunnews.com berjudul “Enam Jam Penyidik KPK Geledah Rumah Mewah Ponakan Setya Novanto di Jagakarsa“. Lagi-lagi dengan cara mengedit judul aslinya yang dianggap kurang menyihir pembaca.

Saya salut kalau pada akhirnya tersihir.com bisa menemukan hal mengejutkan dari hasil penggeledahan itu sehingga berani mencantumkan frasa tersebut pada judul. Tapi caranya menipu pembaca benar-benar kasar. Isi beritanya sama sekali gak ada yang mengejutkan. Pihak KPK cuma bilang: menyita sejumlah dokumen dan barang bukti elektronik.

Ada yang terkejut? Jelas enggak.

Salah satu isi berita yang dicopas itu malah mengungkapkan bahwa narasumber tidak tahu apa yang dibawa KPK.

Ditanya soal penggeledahan yang dilakukan penyidik KPK, petugas keamanan itu membenarkan. Namun dia tidak mengetahui barang bukti apa saja yang dibawa penyidik KPK yang menggunakan masker. Demikian Tribunnews.

Jadi gimana mau menemukan hal mengejutkan kalau narasumber beritanya saja tidak tahu hasil penggeledahannya.

Akhirul kalam, saya ingin mengingatkan para sobat, banyak banget website-website gak jelas seperti ini. Ada yang niat nyari duit, ada yang niat nyari masalah, tapi gak ada yang niatnya memproduksi dan menyebarkan konten dengan cara yang baik dan benar.

Tips dari saya, sekali saja Anda menemukan konten ngaco dari satu website, jangan pernah mau klik lagi konten-konten lain yang berasal dari website tersebut.

#sosmedsos
Salam literasi media!

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar Anda!
Masukkan nama Anda di sini