Hidup kita di era digital menjadi sedemikian berisik. Setiap hari, kita berkomunikasi dengan banyak sekali orang. Berinteraksi dan berdebat dengan sekian banyak akun. Yang, boleh jadi, sebagian besar dikelola oleh orang-orang asing yang belum pernah terlihat batang hidungnya apalagi bentuk mulutnya.

Waktu mengantri atau menunggu selama satu jam serta-merta tidak lagi menjemukan, bahkan kurang. Untuk menjawab banyak sekali percakapan di grup-grup WhatsApp, membalas komentar-komentar di Facebook, memberikan jempol untuk foto-foto di Instagram, membaca ini, menyebarkan itu, dan banyak lagi aktifitas jempol yang tidak ada habisnya.

Lalu kita mulai mengorupsi waktu bersama anak-anak untuk tetap bisa bicara dengan jempol. Mencuri waktu kerja di kantor, menyetir di mobil, mengajar di kelas, dengan wajah tetap menatap lekat ke layar ponsel.

Seakan tidak ada waktu untuk berhenti ngobrol dan bercengkrama.

Padahal, sejatinya, ada banyak waktu untuk berhenti bicara: Saat dikejar tenggat waktu. Saat sedang dirundung masalah besar. Saat menatap wajah bayi yang baru saja dilahirkan. Saat menikmati desiran angin di pantai bersama pasangan. Dan ada banyak waktu lain untuk dinikmati sendiri. Tanpa ada orang lain yang tahu dan perlu tahu.

Juga masih banyak momen lain saat hati dan pikiran ini benar-benar butuh diam. Bernafas dalam senyap. Bekerja tanpa jeda.

Itulah saat yang tepat untuk menggali diri sendiri. Untuk meningkatkan produktifitas. Untuk melebarkan dua daun telinga. Untuk mengembalikan nalar ke titik nol. Untuk menenangkan hati yang sudah terlanjur gembira atau marah-marah.

Untuk sesekali meletakkan ponsel di dalam laci, mematikannya atau sekedar mengheningkan suaranya.

Dengan menikmati diam, seorang netizen sebenarnya sedang berada dalam proses menciptakan sesuatu yang lebih hebat untuk dibagikan dan diperbincangkan di dunia maya. Akan ada banyak pengalaman dan wawasan yang dipancarkan oleh lingkungan sekitar dan orang-orang di sekitar. Dan banyak pekerjaan dan kebaikan yang perlu segera dituntaskan.

Tapi media sosial sudah sedemikian menggoda. Ada saja alasan jempol untuk menggulung layar ke bawah. Membaca tumpukan percakapan yang belum dibuka. Atau melemparkan satu kata kunci ke kotak pencarian Google. Yang lalu membawa ke satu konten yang membuat kita tak bisa lagi diam.

Lalu manusia-manusia itu, ya kita semua, kembali bicara. Bersuara. Jejingkrakan. Teriak kegirangan. Mengeluh. Mengaduh. Mencaci. Memaki. Meratapi. Membenci.

Dan komentar pun kembali membanjiri. Tanggapan demi tanggapan menumpuk lagi. Sampai kita lupa lagi. Hari ini ada pekerjaan yang belum tuntas. Ada perasaan yang perlu ditenangkan. Ada program untuk tidak terus-terusan aktif di media sosial.

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar Anda!
Masukkan nama Anda di sini