Cerita Itu Harus Diperlihatkan, Jangan Hanya Dikatakan…

Instruksi seperti yang tertulis pada judul di atas menjadi materi awal pembekalan wartawan ketika saya bekerja sebagai kuli tinta untuk pertama kalinya di Harian Republika. “Show it. Don’t tell it.” Begitu jargonnya.

Ini adalah teori dasar buat semua reporter: Paparkan. Tunjukkan. Perlihatkan. Deskripsikan. Ceritakan. Dan sebagainya. Karena tulisan hanya berupa rangkaian huruf menjadi kata menjadi kalimat, maka tidak ada visual di dalamnya, kecuali kalimat itu dirangkai untuk menggambarkan wujud visual yang dimaksud.

Kepintaran seorang pelajar tidak bisa dibayangkan kepintarannya kalau Anda hanya menulis “pelajar itu pintar.” Begitu juga kehebatan seorang pemimpin tidak bisa dibayangkan kehebatannya kalau Anda hanya menulis “pemimpin itu hebat.”

Alih-alih menulis kalimat “kamar itu megah”, seorang penulis dituntut untuk menggambarkan kemegahan yang dia rasakan di kamar tersebut. Berapa luasnya, bagaimana interiornya, apa saja perabot dan barang-barang yang tersusun di dalamnya, bagaimana aroma dan nuansa warnanya—yang itu semua mewakili kata ‘megah’.

Begitu pintu besar berukiran bunga rampai itu dibuka lebar-lebar, terhampar kamar dengan pencahayaan kuning temaram. Sudut pandang saya lepas menembus kaca jendela nun jauh di sana. Tidak ada apapun yang menghalanginya. Sofa biru tersusun rapi di ruang kerja yang ada di sayap kiri. Meja kerja dari kayu jati memanjang di sudut ruangan. Sementara di depan sofa, tergantung televisi 42 inci yang terlihat kecil di ruang bersekat dengan interior minimalis itu.

 

Langkah kakiku terbenam lembut ke dalam karpet biru yang melapisi kamar. Setelah sempat tertegun sekian detik di bawah kosen pintu, aku pun mantap melangkah menuju jendela itu….

Begitulah bedanya antara menyatakan sesuatu dengan memperlihatkan sesuatu.

Bahkan lewat tulisan sekalipun, tanpa ilustrasi gambar atau pun foto ruangan, pembaca bisa membayangkan megahnya kamar termahal di hotel yang Anda datangi. Hanya bila Anda menggambarkannya!

Kiatnya: Jangan mengetikkan kata ‘megah’, tapi biarkan pembaca yang menemukan adanya kemegahan dalam bacaan yang sedang ia nikmati.

Bayangkan bila Anda memilih untuk menyatakannya, tulisan itu hanya akan menjadi susunan huruf tanpa visual. Tanpa rasa. Tanpa aroma. Tanpa fantasi yang menggelorakan pikiran.

Menyatakan sesuatu tentu lebih mudah dan singkat. Anda bisa bilang ‘wanita itu cantik’. Tapi cantik bagaimana? Apalagi kecantikan relatif, bukan? Cantik menurut Anda, belum tentu cantik menurut pembaca. Lantas bagaimana orang lain dapat menilai tingkat kecantikan wanita yang sedang diceritakan kalau penulisnya tidak menjelaskan wajahnya, bentuk alisnya, warna kulitnya, bentuk tulang rahangnya, susunan giginya, dan sebagainya.

Bahkan saat Anda benar-benar merasa butuh menyebutkan kata ‘megah’ dalam contoh ulasan kamar hotel di atas, pinjamlah keterkaguman teman Anda yang ikut menginap di situ. Rekamlah ekspresinya saat dia berkata, “Wuiiihhh… Megahnyaaa…..”

Justifikasi atas sesuatu itu akan lebih hidup kalau diutarakan oleh tokoh dalam cerita yang sedang Anda sajikan untuk pembaca.

Ini modal dasar yang perlu Anda pegang teguh. Ini cara praktis untuk membuat cerita Anda hidup laksana dongeng yang biasa diceritakan oleh orang tua kepada anak-anak mereka menjelang tidur.

Berceritalah dengan runut. Bertuturlah dengan detil. Deskripsikan suara yang Anda dengar. Tuliskan aroma yang Anda cium. Beberkan lapis demi lapis rasa dari kue yang Anda makan.

Dengan cara itulah pembaca bisa ikut merasakan apa yang Anda nikmati, dan bisa ikut menikmati Apa yang Anda rasakan. Satu contoh cerita bisa Anda baca di artikel saya berjudul “Yang Pertama dan Serba Wah di Kabin Pesawat Kepresidenan”.

Di situ, dari awal sampai akhir, saya mengajak pembaca untuk ikut bergegas memasuki pesawat kepresiden bersama Presiden Jokowi yang ada di depan sana. Mereka yang membaca cerita itu juga saya bawa masuk ke dalam kabin pesawat. Saya dudukkan ke atas kursi empuk berbalut kulit warna coklat muda. Saya suapkan santap malam yang disajikan oleh pramugari yang kecantikannya saya hadirkan dalam bentuk foto.

Tentu ini membutuhkan waktu dan ingatan. Tapi sepanjang Anda sendiri yang mengalaminya, tidak terlalu sulit untuk menceritakan detilnya.

Bahkan, sekalipun tidak mengalami suatu peristiwa, Anda tetap bisa menceritakan detilnya, lewat penuturan orang yang kebetulan mengalami langsung peristiwa tersebut.

Bagaimana caranya? Akan saya bagikan di ulasan berikutnya…

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar Anda!
Masukkan nama Anda di sini