Sukma Puisi Wati

Pada sebuah negeri Yang sedang ditarik ke kanan ke kiri Hidup berdampingan dua anak pertiwi Yang duduk di kanan dan di kiri Mereka curiga kiri rawan Saat mereka curiga kanan riskan Mereka sinis konde beredar Saat mereka risi melihat cadar Mereka enggan mendengar azan Saat mereka gundah mendengar nyanyian Nak, mengapa kau berkelahi Kalian lahir

Read More

Kembali (Puisi untuk Puasa Lagi)

Kau bilang aku kembali Pada-Mu aku bersaksi Kau bilang aku telah suci Di hadapan-Ku kau kembali Ketika mentari terbenam terakhir kali Di ufuk esok datanglah sang fitri Mereka senang perutnya terisi Terungkap wajah jatinya sendiri Ke mana kamu akan pergi Jika lalu jadi diri sendiri Kau pemarah kembali hati memerah Kau pezina kembali bibirmu merah

Read More

Bawaku

pada sejuta bayang ku beredar bergetar berpijar terungkap satu wajah terpendam di dalamnya citra berbeda ku putar kembali gelombang, kupejamkan gelembung putih membentuk garis jangkar terungkap dua wajah bersinar darinya sekian ingin berbeda ku sandarkan di bawah pohon ke satu titik pijak di tengah lingkaran semua terlihat mudah untuk siapa saja memilih bergerak ke sisi

Read More

Puisi Untukmu, Nahda

Rambut itu bukan rambutmu, Nak Suka sekali kamu mengelus mencium wanginya Terbaring mamamu diam tak sanggup teriak Sekian lama tersenyum memandang ulirnya Nahda, nahda di mana kau berada Suaramu reda hatiku resah Berikan papa sedikit saja Biarku tebak hatimu gundah Ruang ini sungguh bertelinga, Nak Sanggup mendengar hembusan nafasmu Apatah lagi gelombang suaramu teriak Ramai

Read More

Puisi untukmu, Kahla

Matanya bundar beredar Menatap si kakak, semuanya berlari ke sana Tangannya kokoh melempar Bola terbang, semuanya jatuh di sana Kahlaku sayang, Kahlaku sayang Ku sebut namamu terang-terang Di waktu tidurmu tersenyum riang Lurus kakimu besok kau terbang Satu hari ku berkata Mengapa kau belanja banyak kudapan Lalu kau jawab memangnya kenapa Papa mama belanja lebih

Read More

Adanya dia atau tiada

hujan di belakang remang-remang berhenti sekali, menderas berkali-kali aku tak lagi ikut dalam iramanya geluduk menyambar menggelapkan ronanya angin bertiup kencang dalam dekapnya memaksa kaki melonjor di atas kasurnya lalu ku tanya pada diri sendiri apa yang sedang terjadi apakah hujan itu turun di sini untuk ku sendiri? lalu ku tutup pintu berderek kusennya itu

Read More